PMB UMbandung
Islampedia

Menyambut Ramadhan, Menjemput Puncak Kebahagiaan

×

Menyambut Ramadhan, Menjemput Puncak Kebahagiaan

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri
PMB UMBandung

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM, Bandung — Hidup manusia penuh teka-teki. Sekalipun dalam kehidupan manusia lumrah dan biasa merencanakan hidup yang lebih baik.

Namun, faktanya tidak demikian karena pemilik rencana belum tentu mengizinkan dan meridai. Hal tersebut bukan berarti mematahkan semangat, melainkan harus menjadi sebuah reasoning nalar intelektual manusia manakala menghadapi berbagai fenomena hidup di mana pun dan kapan pun.

Pun sama ketika dalam menyikapi hal ihwal yang berkaitan dengan sesuatu yang mengikat sebuah kewajiban syari, baik itu bersifat fardiyah ainiyah, atau kifayah.

Dalam kondisi apa pun, sebagai manusia yang beriman akan mengakui kebenaran Islam dan seyogyanya harus senantiasa menjalankan penuh sadar dan tanggungjawab.

Hal itu karena sebagai konsekuensi dari pernyataan ikrar tauhidullah sebagai manusia yang meyakini benar bahwa Islam merupakan ajaran yang lengkap dan sempurna.

Treatment ruhaniyah merupakan langkah yang baik dalam rangka meningkatkan mutu spiritualitas keberagamaan seorang muslim. Diyakini bahwa dalam syariat Islam terdapat banyak ajaran dan paham praktis untuk memberikan treatment untuk memperbaiki dan meningkatkan kualitas spiritual hidup didunia hingga akhirat.

Demi masa, tidak terasa pergerakan waktu dari detik hingga hari, bulan dan tahun. Ramadhan tiba, keberkahan, rahmat, dan magfirah menyertainya. Umat muslim di seluruh pelosok belahan dunia menyambuat dengan gegap gempita penuh gembira dan bahagia.

Spirit dan motivasi untuk menstimulasi jiwa dan raga agar lebih siap diri menghadapi saum di bulan Ramadhan dilakukan. Kesiapan fisik-jasadiyah dan mentalitas beribadah senantiasa dipersiapkan jauh-jauh hari sebelum tiba waktunya.

Ramadhan bulan penuh hikmah dan berkah. Namun, pemaknaannya tidak sebatas dalam ungkapan kata yang biasa terdengar setiap Ramadhan tiba. Memaknainya harus lebih dari biasanya yaitu harus terasa dan dapat dirasakan dalam kehidupan sehari-hari.

Baca Juga:  Makanan Halal Bukan Sekadar Gizi, Tapi Fondasi Akhlak dan Mental Generasi Muda

Hikmah Ramadhan bukan hanya berlomba-lomba infak dan sedekah, melainkan hikmah Ramadhan harus menjelma dalam perubahan sikap, perilaku, dan perbuatan nyata sehingga melahirkan karya terus-menerus yang berdampak pada peningkatan mutu hidup.

Semakin bertambah waktu dan masa usia, hendaknya dibarengi bertambahnya nilai kualitas produk karya berpikir. Terlebih pada bulan suci Ramadhan faktor pendukungnya harus lebih baik, kondusif, dan sangat mungkin lebih akseleratif.

Kebahagiaan bulan Ramadhan tidak semata ramai-ramai berjamaah saum dan ramai-ramai tadarus Al-Quran karena hal tersebut sudah bagian pokok dalam paket ibadah saum. Justru di Ramadhan sebaiknya menjadi pemantik perubahan dan tambahan digit hasil produk secara periodik dari tahun ke tahun sesuai life planing.

Ramadhan bulan mulia, indah, dan penuh berkah jangan hanya ada dalam selogan setiap kali bulan momen mulia ini tiba. Tradisi nyaris tidak ada perubahan dari tahun-tahun sebelumnya. Bahkan lebih parah yang dapat kita sadari setiap tahun ada penurunan kualitas dan kuantitas amaliah mengisi waktu dan masa.

Jangankan mengumpulkan hasil karya dan memantik berpikir untuk loncat maju lebih jauh, justru yang terjadi malah selama Ramadhan hanya meningkatkan kuantitas tidur dan berkurangnya produktivitas waktu. Alasannya karena badan terasa lemas, letih, dan lesu. Hal itu terjadi seperti tradisi yang mensugesti diri untuk berbuat dan berperilaku demikian.

Berperilaku dan berbuat di bulan Ramadhan balasannya ada kekhususan sehingga umat muslim berbondong-bondong menyambut penuh bahagia dan gembira bulan ini.

Tua-muda, anak-dewasa, dan juga pria dan wanita semua rela berusaha untuk bersaum ria diawali sahur menjelang shubuh. Kemudian dilanjut menahan lapar, haus, dan dahaga selama sehari penuh kurang lebih 12 jam lamanya hingga terbenam matahari masuk waktu maghrib.

Baca Juga:  Haedar Nashir Ajak Warga Muhammadiyah Berbagi Tugas Majukan Persyarikatan

Cahaya kebahagian terpancar dari aura wajah umat muslim. Semangat beribadah meningkat dua kali lipat dari biasanya. Bahkan yang sunah-sunah pun nyaris tak terlewati.

Begitulah amalan ritual umat muslim setiap saat bulan Ramadhan tiba. Bahkan hampir di atas rata-rata pada umumnya umat muslim tiba-tiba jadi pada baik. Yang biasanya jarang memberi infak dan sedekah mendadak jadi rajin. Yang biasanya jarang baca tilawah Al-Quran menjadi rajin bertilawah. Yang tidak biasa shalat berjamaah ke masjid jadi sering berjamaah.

Hampir semua kegiatan ibadah berbasis ritual ada peningkatan signifikan. Termasuk hal ritual zakat fitrah dan mal di Ramadhan, penghitungan haul zakat pun menjadi tradisi dihitung manakala Ramadhan tiba.

Namun, masih ada catatan yang sebaiknya diperbaiki yaitu sikap umat muslim melakukan ritual shalat sunah qiyamu Ramadhan atau tarawih. Yang terlihat oleh kasatmata, seolah-olah shalat tarawih itu wajib sehingga berbondong-bondong ke masjid, sedangkan shalat wajib tidak excited sehingga disikapi biasa-biasa saja beda dengan tarawih.

Itu hal lumrah terjadi setiap Ramadhan. Entah harus mulai dari mana melakukan perubahan tradisi beragama seperti itu agar lebih bermakna dan produktif setiap ganti tahun yang dimulai pada bulan Ramadhan.

Dengan diawali perbuatan baik secara berjamaah, seharusnya pemantiknya lebih dahsyat karena berjamaah. Penting dicatat oleh asatdiz, ulama, dan zuama untuk bahu-membahu menggerakan jamaah agar bisa mengubah cara berpikir lebih kreatif.

Kemudian memperbarui cara pandang dalam memotret fenomena sebagai sumber inspirasi menjadi lebih inovatif. Lalu memberikan pencerahan pemahaman keberagamaan dalam ritual dalam Islam agar tidak sekedar memenuhi syarat dan rukunnya. Namun, harus mampu mencapai maksud-maksud syariat dari setiap aplikasi ajaran Islam yang dijalankan.

Baca Juga:  Jadikan Al-Quran Pedoman Akhlak, Dadang Kahmad Ajak Umat Islam Hidup Sebagai Teladan

Lebih jauh lagi, selain maksud syariat (makasid asy-syari’) tercapai diharapkan mampu menembus kehendak pembuat syariat (insya asy-syari’) yaitu Allah SWT. Karena harapan dan doa kita setiap saat yakni segala sesuatu yang dikerjakan mendapatkan izin, rida, dan kehendak-Nya.

Percuma dan tidak bernilai apa-apa manakala hasil karya hanya sebatas wujud fisik materi yang sekedar terlihat oleh kasatmata yang tidak berguna daya. Tak ubahnya seonggok benda yang hanya hanya membuat rusaknya pemandangan dan mengotori area tempat benda itu ada.

Ramadhan adalah momentum memperbaiki dan membersihkan secara berjamaah, berharap jiwa dan raga tetap bernilai guna. Berat dan beban amanah sebagai manusia tidak sekedar menghirup udara segar menjaga sirkulasi nafas jiwa dan raga. Juga tidak sekedar jungkir balik gerak jasad untuk ibadah ritual yang tak bermakna. Apalagi cape-cape menahan hawa lapar dan haus dahaga.

Semua itu jangan menjadi sia-sia belaka. Niat tulus beribadah harus dibarengi memaknai ibadah yang terserap dalam jiwa dan raga yang menjelma pada sikap dan perilaku beradab.

Kemudian membentuk karakter peduli dan peka. Bahkan menjadi nilai bahwa kehadirannya mampu menebar virus kebaikan yang menginspirasi manusia lainnya hingga menjadi kulminasi pada perubahan jamaah dan umat di alam semesta.

Makhluk lain pun mendorong dan suport atas niat, gerak langkah, serta kreativitas orkestrasi varian kata dan laku membawa harapan menuju cita-cita hidup manusia untuk menuju puncak kebahagian yang hakiki.

Ramadhan tiba, berbuat saum sebagai sambutan menjadi sarana untuk jalan ketakwaan dalam rangka ikhtiar mendapat tiket masuk kebahagiaan hakiki nan abadi di akhirat nanti.***

PMB UMBandung