PMB UMbandung
Opini

Apakah Kita Benar-benar Menyambut Lailatul Qadar?

×

Apakah Kita Benar-benar Menyambut Lailatul Qadar?

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

Oleh: Nashrul Mu’minin*

Ramadhan selalu menyimpan satu rahasia agung yang membuat setiap hati bergetar menunggu. Rahasia itu bukan sekadar malam biasa, tetapi malam yang nilainya melebihi ribuan bulan.

Kini, ketika sepuluh malam terakhir Ramadhan 1447 H / 2026 telah tiba, umat Islam kembali berada di gerbang harapan terbesar: menjemput lailatul qadar, malam kemuliaan yang oleh Al-Qur’an disebut lebih baik daripada seribu bulan.

Inilah malam yang dicari para nabi, ditunggu para wali, dan dirindukan setiap hamba yang ingin diampuni dosanya.

Allah sendiri menegaskan keagungan malam itu dalam Al-Qur’an. Firman-Nya: “Lailatul Qadar itu lebih baik dari seribu bulan.” (QS Al-Qadr: 3)

Seribu bulan berarti lebih dari delapan puluh tiga tahun. Artinya, satu malam ibadah bisa melampaui nilai ibadah sepanjang umur manusia.

Oleh karena itulah para ulama menyebut sepuluh malam terakhir Ramadhan sebagai fase paling menentukan dalam perjalanan spiritual seorang muslim.

Dalam kalender Ramadhan 1447 H / 2026, sepuluh malam terakhir dimulai dari malam ke-21 hingga malam ke-30. Malam 21 jatuh pada Selasa malam, 10 Maret 2026. Malam 22 pada Rabu malam, 11 Maret 2026.

Malam 23 pada Kamis malam, 12 Maret 2026. Malam 24 pada Jumat malam, 13 Maret 2026. Malam 25 pada Sabtu malam, 14 Maret 2026. Malam 26 pada Minggu malam, 15 Maret 2026.

Malam 27 pada Senin malam, 16 Maret 2026. Malam 28 pada Selasa malam, 17 Maret 2026. Malam 29 pada Rabu malam, 18 Maret 2026, dan malam 30 pada Kamis malam, 19 Maret 2026.

Baca Juga:  Seperti Apa Gambaran Kehidupan di Alam Barzah? Begini Penjelasannya

Setiap malam membawa peluang yang sama: kemungkinan hadirnya lailatul qadar.

Para ulama menekankan bahwa Lailatul Qadar lebih sering berada pada malam ganjil di sepuluh malam terakhir. Nabi Muhammad SAW bersabda: “Carilah Lailatul Qadar pada malam-malam ganjil di sepuluh malam terakhir Ramadhan.” (HR Bukhari dan Muslim)

Oleh karena itu, malam 21, 23, 25, 27, dan 29 menjadi malam yang paling dinantikan. Namun, hakikatnya Allah menyembunyikan kepastiannya agar manusia bersungguh-sungguh menghidupkan semua malam.

Malam ke-21, Selasa malam 10 Maret 2026, sering disebut sebagai pintu pembuka keseriusan. Malam ini seperti alarm spiritual bagi hati yang mulai terbangun dari rutinitas Ramadhan.

Ia mengingatkan bahwa separuh lebih bulan suci telah berlalu, dan kesempatan emas tidak akan datang dua kali dengan cara yang sama.

Malam ke-22, Rabu malam 11 Maret 2026, menjadi malam latihan kesabaran. Tidak semua orang mampu istiqamah bangun malam, membaca Al-Qur’an, dan memperbanyak doa.

Namun, justru di sinilah ujian kesungguhan seorang hamba diuji: apakah ia mencari lailatul qadar hanya karena tren atau karena kerinduan sejati kepada Allah.

Malam ke-23, Kamis malam 12 Maret 2026, adalah salah satu malam ganjil yang sangat diharapkan. Banyak ulama menyebut malam ini sebagai malam kemungkinan turunnya rahmat besar.

Pada malam seperti ini, langit seakan terbuka, dan doa-doa yang tulus memiliki peluang besar untuk diangkat ke hadirat Allah.

Baca Juga:  BPIP dan Kontroversi Larangan Jilbab Paskibraka

Malam ke-24, Jumat malam 13 Maret 2026, mengandung makna kontemplasi.

Jika seseorang belum merasakan getaran spiritual pada malam-malam sebelumnya, maka malam ini menjadi kesempatan memperbaiki niat.

Ramadhan tidak sekadar tentang menahan lapar, tetapi tentang membangun kesadaran bahwa hidup manusia sangat singkat.

Malam ke-25, Sabtu malam 14 Maret 2026, kembali menghadirkan harapan besar. Ini adalah malam ganjil berikutnya yang sering disebut dalam tradisi umat sebagai malam penuh rahmat.

Banyak orang menghidupkan malam ini dengan qiyamul lail, membaca Al-Qur’an, memperbanyak istighfar, serta memperdalam doa.

Malam ke-26, Minggu malam 15 Maret 2026, adalah malam pengingat bahwa perjalanan menuju Lailatul Qadar belum selesai.

Ia mengajarkan bahwa pencarian spiritual tidak boleh berhenti pada satu malam saja.

Ibadah bukan sekadar mengejar momen, tetapi membangun kedekatan yang berkelanjutan dengan Allah.

Malam ke-27, Senin malam 16 Maret 2026, sering disebut sebagai malam yang paling kuat kemungkinan terjadinya lailatul qadar.

Banyak riwayat dan pengalaman spiritual umat Islam sepanjang sejarah yang mengaitkannya dengan malam ini. Pada malam ini, para malaikat turun membawa rahmat dan keberkahan.

Allah berfirman: “Pada malam itu turun para malaikat dan ruh (Jibril) dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan.”
(QS Al-Qadr: 4)

Malam ke-28, Selasa malam 17 Maret 2026, mengajarkan satu pelajaran penting: jangan pernah merasa ibadah sudah cukup.

Baca Juga:  Mudik Berkemajuan

Banyak orang berhenti berjuang setelah malam 27, padahal rahasia lailatul qadar bisa saja tersembunyi di malam lain.

Malam ke-29, Rabu malam 18 Maret 2026, adalah malam ganjil terakhir yang sangat mungkin menjadi lailatul qadar.

Pada malam ini, banyak hati dipenuhi harapan sekaligus kegelisahan. Apakah Ramadhan akan berakhir tanpa kita benar-benar menemukan malam yang dijanjikan?

Akhirnya, malam ke-30, Kamis malam 19 Maret 2026, menjadi malam perpisahan. Jika Ramadhan benar-benar berakhir, maka malam ini menjadi saksi terakhir perjuangan spiritual selama sebulan penuh.

Ia mengajarkan bahwa yang terpenting bukan sekadar menemukan lailatul qadar, tetapi berubah menjadi pribadi yang lebih dekat dengan Allah setelah Ramadhan.

Rasulullah SAW bahkan mengajarkan doa khusus untuk malam lailatul qadar.

Ketika Aisyah bertanya apa yang harus dibaca jika menemukan malam tersebut, Nabi menjawab: “Allahumma innaka ‘afuwwun tuhibbul ‘afwa fa’fu ‘anni.” “Ya Allah, Engkau Maha Pemaaf dan mencintai pemaafan, maka maafkanlah aku.” (HR Tirmidzi).

Pada akhirnya, lailatul qadar bukan sekadar malam misterius yang dicari dengan kalender.

Ia adalah momentum ketika langit dan bumi dipenuhi kedamaian, ketika doa-doa manusia bertemu dengan rahmat Tuhan.

Maka ketika malam-malam itu datang satu per satu di bulan Ramadhan 1447 H / 2026, pertanyaannya bukan lagi kapan Lailatul Qadar terjadi—melainkan apakah hati kita benar-benar siap menyambutnya.

*Content Writer Yogyakarta

PMB UMBandung