BANDUNGMU.COM, Bandung — Pimpinan Komisariat Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (PK IMM) Ekonomi Syariah UM Bandung sukses menyelenggarakan Talkshow dan Sharing Inspiratif bertajuk “Literasi Peradaban: Membaca Realitas Arah Perubahan” pada Rabu (05/11/2025).
Acara yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, lantai tiga gedung UM Bandung, tersebut menghadirkan sejumlah tokoh publik inspiratif, yaitu Influencer Guru Gembul, Sherly Annavita, dan CEO Masjid Sejuta Pemuda Dhias Akeyla.
Kegiatan ini merupakan kolaborasi PK IMM Ekonomi Syariah bersama Shaf Pemuda Masjid dan Bandung Lautan Literasi. Acara ini turut dihadiri Ketua Prodi Ekonomi Syariah, Dekan Fakultas Agama Islam, Wakil Rektor I, dan tamu undangan lainnya.
Ketua Pelaksana Anggi Ahmad Taufik menyampaikan bahwa kegiatan ini bertujuan menggugah kesadaran generasi muda untuk kembali menjadikan masjid sebagai pusat peradaban.
“Acara ini diselenggarakan untuk menyadarkan bahwa pemuda harus kembali ke masjid. Masjid seharusnya menjadi pusat peradaban, tetapi kini sering hanya menjadi tempat ibadah yang kurang hidup secara sosial,” ungkap Anggi.
Oleh karena itu, ia berharap melalui kajian ini para peserta dapat termotivasi menggerakkan kembali fungsi sosial masjid di tengah masyarakat.
“Harapannya setelah acara ini teman-teman bisa menggerakkan masjid, mengembalikan fungsi masjid sebagai pusat peradaban dan sosial bagi umat,” tambahnya.
Sementara itu, Ketua Program Studi Ekonomi Syariah UM Bandung Yudistia Teguh A Fikri memberikan apresiasi tinggi atas terselenggaranya acara tersebut. “Apresiasi yang sebesar-besarnya kepada Pimpinan Komisariat IMM Ekonomi Syariah yang telah berjuang mengadakan kegiatan inspiratif ini,” ujarnya.
Menurutnya, kegiatan ini memiliki dampak besar bagi peserta karena mendorong kesadaran perubahan dan karakter mahasiswa sebagai agen perubahan (agent of change).
“Kegiatan ini sangat impactful dan mengarah pada perubahan. Mahasiswa harus mampu melewati fase kebebasan berpikir dengan tetap memegang nilai moral,” terangnya.
Terkait pentingnya masjid, Yudistia menegaskan bahwa sejak dulu masjid merupakan ruang diskusi dan pengembangan peradaban. “Masjid adalah tempat utama diskusi dan pembentukan peradaban, sehingga kami sangat mendukung kegiatan seperti ini,” tutupnya.***(FK)









