UMBandung
Opini

Bersama Prabowo Subianto Membangun Bangsa Yang Lebih Maju dan Berdaulat

×

Bersama Prabowo Subianto Membangun Bangsa Yang Lebih Maju dan Berdaulat

Sebarkan artikel ini
Ace Somantri

Oleh: Ace Somantri

BANDUNGMU.COM – Gelaran pemilihan umum telah usai. Proses penghitungan sedang berjalan sekalipun quick count lembaga survei sudah berakhir karena hanya suara sampling yang dihitung dari total tempat pemungutan suara.

Tujuh lembaga survei nasional, termasuk di dalamnya tim quick count Forum Rektor Perguruan tinggi Muhammadiyah menyampaikan hasilnya.

Data yang disampaikan semua mendapati data peraih suara terbanyak dari tiga pasangan calon yang mendominasi adalah pasangan Prabowo Subianto dan Gibran Rakabuming.

Publik menilai hasil quick count lembaga survei dengan pro dan kontra. Itu hal biasa.

Pasalnya diketahui masyarakat dan menjadi rahasia umum lembaga survei terindikasi berbayar sesuai dengan pesanan.

Namun faktualnya terlepas berbayar atau tidak lembaga survei, negara telah memberikan ruang dan kesempatan untuk uji kejujuran ilmu yang dimiliki masing-masing.

Pengetahuan, keilmuan, dan kekuasaan satu kesatuan dalam membangun kekuatan membuat kebijakan akan menciptakan regulasi yang baik.

Sebaliknya, kalau terjadi parsialitas, akan mengalami hambatan dalam implementasi dalam tataran praktis.

Berbagai perbedan pandangan selama menjelang hingga pelaksanaan pemilu berjalan sukses, aman, dan kondusif.

Selanjutnya, siapa pun yang terpilih menjadi presiden dan anggota legislatif dari tingkat pusat hingga daerah, dapat kembali saling bercengkerama menatap masa depan bangsa.

Dinamika pemilu merupakan sebuah proses yang pasti dilewati. Hiruk pikuk kampanye menyampaikan visi dan misi kepemimpinan sekaligus menawarkan dan menjanjikan program kebangsaan kedepan.

Bahkan tidak ketinggalan saling serang gagasan dengan argumentasi masing-masing. Perdebatan dalam forum terbuka menjadi ajang untuk saling membaca, memahami, dan mendialogkan berbagai masalah kebangsaan yang dihadapi.

Menebar pesona untuk meraih simpati dan empati rakyat Indonesia sudah berakhir setelah melewati tanggal 14 Februari 2024.

Tenang sambil kawal dengan saksama hasil pemungutan suara yang telah dititipkan para pemilih.

Harapan dan cita-cita rakyat menitipkan sekaligus mengamanahkan kepada siapa pun yang terpilih.

Baca Juga:  Sekum PP Muhammadiyah Jelaskan Maksud Politik Sebagai Media Dakwah

Kesadaran diri dan kolektif yang harus dimiliki oleh para pemimpin bangsa, baik yang berada di lingkup eksekutif, legislatif, dan yudikatif yang terikat dengan janji dan komitmen jiwa segenap raga untuk melayani rakyat.

Bersama saling menguatkan dalam mewujudkan kebersamaan dan kesatuan berbuat kebaikan untuk bangsa dan negara lebih maju dan memajukan.

Welfare state harapan bangsa-bangsa di dunia, termasuk Indonesia sebagai bangsa yang besar memiliki harapan yang sama.

Besarnya Indonesia bukan hanya luasnya geografis maupun luasnya lautan yang berada dalam teritori wilayah negara kesatuan republik Indonesia.

Namun, bangsa besar dari kekuatan sumber daya alam yang terkenal negara agraris dengan hamparan hijau bak permadani surga.

Hasil akhir pemilu pasti ada menerima karena puas dan menolak tidak puas. Dinamika itu lumrah terjadi setiap kali hasil proses pemilu berakhir.

Protes dan kritik dilayangkan dengan alasan dan dalil-dalil regulasi dan kebijakan yang disandari.

Ruang rasa keadilan bagi para pihak perihal sengketa pemilu yang disidangkan di atas meja keadilan dan palu kejujuran.

Dalam sidang gugatan di Mahkamah Konstitusi, saat terpenuhi alasan dan alat bukti kuat soal dugaan kecurangan pemilu, akan mempengaruhi keputusan para hakim konstitusi.

Status keberlanjutan hasil pemilu, apakah diulang total atau hanya sebagian titik wilayah pemungutan suara, bergantung pada putusan persidangan gelar perkara sengketa pemilu.

Namun, penting dicatat bahwa narasi pemilu buruk tidak dijadikan untuk saling serang kelemahan individu dan menghukumi yang menyakiti hati.

Kontestasi pemilu merupakan proses edukasi kepada generasi penerus bangsa. Pemilu bukan proses caci maki yang mewarisi generasi hingga tidak bertepi.

Mewujudkan bangsa dan negara tidak dapat dilakukan sendiri. Namun, harus bersama dan saling sinergi untuk berkontribusi demi kejayaan negeri.

Memajukan bangsa tidak hanya menjalankan sebatas melanjutkan. Namun, sejatinya ada evaluasi dan strategi jitu.

Baca Juga:  Muhammadiyah dan Inisiatif Pembaruan Kalender Hijriah

Hal itu sangat penting dilakukan karena dinamika kehidupan era abad digital mempengaruhi sikap perilaku manusia dalam waktu singkat.

Konsekuensinya, banyak hal yang sudah dipersiapkan kadang-kadang sangat mubazir dan tidak digunamanfaatkan akibat perubahan situasi kondisi.

Komponen bangsa harus bersatu padu. Maju bersama tanpa melihat perbedaan warna partai dengan multi kepentingannya untuk membangun bangsa agar lebih maju.

Kunci kemajuan bangsa ada pada sumber daya manusia. Oleh karena itu, pendidikan yang tinggi dan berkualitas merupakan sebuah cara dan solusi tepat untuk menyediakan sumber daya manusia berbagai disiplin ilmu.

Pendidikan unggul berkualitas tidak bisa ditawar-tawar. Pendidikan mampu melahirkan para SDM terampil, tenaga ahli yang teruji, dan pakar-pakar yang memiliki portofolio bereputasi nasional dan internasional.

Sekering apa pun sumber daya alam,  manakala sumber daya manusianya unggul, maka akan ada solusi dan menjadi trigger kreator dan inovator hebat.

Ungkapan dalam orasi ilmiah Menteri Pertahanan dalam acara wisuda, mengutip ajaran dari salah seorang presiden di Amerika Latin, “Suatu bangsa akan berjalan menuju kebesaran dengan cepat sesuai kecepatan pendidikan mereka. Suatu bangsa akan terbang jika pendidikan baik dan suatu bangsa akan runtuh jika pendidikannya diabaikan.”

Ungkapan tersebut akan menjadi catatan penting untuk bangsa Indonesia yang sebentar lagi akan ada peralihan kepemimpinan nasional.

Banyak yang berharap dan juga tidak sedikit masyarakat tidak percaya akan ada perubahan bangsa ke depan.

Terlepas dari sudut pandang yang berbeda, ungkapan Prabowo Subianto dalam orasi tersebut terlihat menyatakan sepenuh hati pentingnya pendidikan sebagai kunci kemajuan bangsa.

Masyarakat harus bersatu, berdaulat, dan mendukung sesuai dengan posisi dan kapasitas untuk komitmen memajukan pendidikan yang baik, unggul, dan berdaya saing tinggi.

Saat ini, pemungutan suara pemilu sudah tergelar. Raihan suara terbanyak berdasarkan quick count  atau real count sudah terlihat sangat jelas.

Baca Juga:  Penjara Banceuy dan Bung Karno

Proses penghitungan manual dan berjenjang masih terus berlangsung. Penetapan resmi hasil akhir akan diumumkan secara terbuka dengan disaksikan oleh rakyat Indonesia.

Optimisme pemimpin bangsa harus diapresiasi. Pasalnya, niat tulus dan komitmen untuk memajukan bangsa dan negara merupakan modal utama titik tolak sebuah perjalanan menuju percepatan kemajuan bangsa dari ketertinggalan.

Harapan dan keinginan kuat akan mendorong perubahan sehingga berbagai cara dan strategi harus dilakukan penuh keyakinan.

Tidak ada alasan untuk tidak bersinergi dengan semua komponen bangsa. Terlebih para penggerak pendidikan, baik itu di bawah koordinasi langsung pemerintah maupun lembaga-lembaga NGO yang berkonsentrasi pada dunia pembinaan sumber daya manusia.

Seperti  Muhammadiyah, Persekutuan Gereja Indonesia, Nahdlatul Ulama, Persatuan Islam, Mathlaul Anwar, Syarikat Islam, dan perhimpunan lainnya yang berkomitmen terhadap kebangsaan dan kenegaraan yang berkeadilan, beradab, dan sejahtera.

Perlu dicatat bahwa setiap anak bangsa adalah aset negara. Sikap kritis para akademisi dan praktisi harus dijadikan nutrisi yang bergizi.

Banyak harapan yang disandarkan kepada Prabowo Subianto. Ia merupakan sosok yang punya sepak terjang keprajuritan yang tidak diragukan lagi.

Banyak perwira seangkatannya mengetahui bagaimana sifat kedermawanan Prabowo yang ditunjukkan sejak menjadi Wakil Komandan Batalion hingga Panglima Kostrad. Konon kabarnya ia tidak pernah ambil gaji sebagai anggota TNI.

Kala tertentu gaji yang tidak diambil tersebut, jumlahnya dikira cukup banyak, kemudian diminta untuk dikembalikan oleh rekan sejawatnya di TNI. Uang tersebut dibelikan beras dan sembako kemudian dibagikan kepada para prajuritnya.

Watak dan karakter tidak banyak diketahui publik. Andai sifat kedermawanannya diberitakan secara masif, tidak mustahil masyarakat Indonesia akan semakin fatsun terhadap kepemimpinannya.

Bersama Prabowo Subianto membangun bangsa dan negara Indonesia yang lebih maju dan berdaulat. Wallahu’alam.***

PMB UM Bandung