Filsafat Cinta

oleh -
Ilustrasi (media.istockphoto)

BANDUNGMU.COM — Cinta merupakan rasa yang sangat pribadi. Hanya orang yang sedang merasakannya yang bisa menjelaskannya.

Bagaimana dengan filsafat cinta? Simak ulasan filsafat cinta dari Jakob Sumardjo berikut.

Pada dasarnya semua ajaran agung dalam kepercayaan menekankan hukum cinta. Cinta itu menghidupkan. Benci itu menuntun kepada kematian.

Cinta memberikan kedamaian. Kebencian merusakan dan mengacaukan. Cinta dan perdamaian, lover and peace, pernah menjadi semboyan kaum muda tahun 1970-an. Mereka muak terhadap perang dan kehancuran.

Perang dan kehancuran digerakkan oleh naluri kebencian pada diri manusia. Karena iri hati, manusia membenci. Karena merasa disaingi, manusia membenci. Karena dikalahkan, manusia membenci. Karena dikecewakan, manusia membenci.

Kebencian itu menuntun manusia kepada tindak kekerasan. Kekerasan itu mencapai klimaksnya dalam bentuk kematian yang kita benci. Kebencian itu merusak manusia, baik si pembenci maupun yang dibenci.

Oleh karena itu, maka para filosof sepanjang zaman mengajarkan hukum cinta bagi umat manusia. Cintailah orang lain. Cintailah alam semesta. Cintailah kebenaran. Cintailah keadilan. Cintailah kebaikan.

Dengan cinta semacam itu, manusia akan hidup. Manusia akan mendapatkan kedamaian di dunia. Cinta demikian itu akan membuat dunia berjalan dengan normal. Cinta itu baik adanya.

Baca Juga:  Filosofi Bahagia: Cintailah “Kompas Moral” Kehidupan

Mencintai orang lain adalah memasuki pribadi orang lain itu. Bagian diri kita menjadi bagian dari orang yang kita cintai.

Kalau orang yang kita cintai menderita, kita pun ikut menderita. Kadang-kadang penderitaan kita lebih besar karena mengira penderitaan orang yang kita cintai itu juga besar.

Anugerah cinta

Kita ikut bahagia apabila orang yang kita cintai itu bahagia. Kita akan ikut merasakan hitamnya dosa dan kesalahan orang yang kita cintai.

Oleh karena itu, kita selalu sibuk setengah mati untuk menyelematkannya dari hukuman atas kesalahan yang diperbuatnya.

Cinta itu memikirkan orang yang kita cintai dan bukan memikirkan diri sendiri. Seorang ibu memikirkan kebahagiaan anaknya. Pemimpin memikirkan kebahagiaan masyarakat yang diperintahnya.

Mereka bahagia apabila dapat melihat orang yang mereka cintai itu bahagia. Itulah anugerah cinta yang paling besar. Untuk itu manusia perlu menyingkirkan kesenangannya sendiri.

Dalam mencinta, manusia dapat mengorbankan kepentingan dirinya demi orang yang dicintai. Semakin besar pengorbanan dan penderitaannya, semakin agunglah nilai cintanya.

Kita baru menyadari besarnya cinta seseorang ketika mengetahui betapa besar pengorbanan dan penderitaan yang dialaminya demi orang yang dicintainya.

Hakikat cinta

Dalam novel Jules Verne, “Mikhail Strogoff”, kita diajak melihat penderitaan seorang ibu yang rela disiksa dan dibutakan matanya, semata-mata agar putranya diselamatkan dari tangkapan musuh.

Baca Juga:  Filosofi Ngaos, Mamaos, dan Maenpo

Cinta ibu ini amat agung dan mengagumkan. Ternyata ada cinta sebesar itu.

Cinta dan pengorbanan kepentingan diri sendiri inilah hakikat cinta yang sebenarnya. Imbalah cinta yang demikian tak lain ikut bahagia melihat yang dicintainya bahagia.

Seorang ibu ikut bahagia ketika anaknya tertawa riang. Seorang ibu akan menderita dan menangis kala menunggui anaknya yang sakit. Kalau diizinkan, biarkanlah yang sakit itu dirinya dan bukan anaknya.

Si ibu hanya mau melihat anaknya bahagia dan rela menyediakan dirinya menggantikan penderitaan anaknya.

Sikap cinta yang demikian dapat ditujukan kepada kekasih, kepada sesama manusia lain, kepada hewan, kepada alam semesta. Kita rela menderita dan berkorban demi kebahagiaan orang atau sesuatu yang kita cintai.

Kaisar Cina kuno dikabarkan meninggalkan istrinya yang sedang melahirkan karena ia harus segera mengunjungi rakyatnya yang dilanda bencana banjir.

Ia mencintai bayinya yang jelas akan lahir dengan selamat. Namun, ada cinta yang lebih besar, yakni cinta kepada rakyatnya yang menderita.

Oleh karena itu, kaisar ini merelakan kesenangan dirinya sendiri mempunyai bayi dan memilih menghibur rakyatnya yang menderita.

Baca Juga:  Suka Terpancing Emosi Ketika Berkendara di Jalan? Lakukanlah Tips ini

Sumber kehidupan

Kalau makna cinta semacam itu dijalankan manusia 10 persen saja, dunia dan manusia ini akan lebih baik 10 persen. Cinta membuat segalanya hidup dan tumbuh dengan baik.

Cinta yang agung akan melahirkan kehidupan besar. Kedamaian besar. Cinta dapat mengalahkan kematian. Meskipun si pencinta telah mati, kenangan perbuatan cintanya akan tetap diingat oleh mereka yang dicintainya.

Jadilah pencinta besar, sekurang-kurangnya dalam keluarga. Dalam lingkungan kerja. Dalama lingkungan tetangga. Cinta itu menjelmakan kedamaian. Cinta itu membuat manusia meningkat bobot kemanusiaannya.

Hindarilah kebencian, kedengkian, sifat iri hati, persaingan, dan ingin menang sendiri. Semua itu hanya satu muaranya, yakni kebinasaan, kehancuran, dan kerusakan.

Cinta itu membangun. Kebencian merusakkannya. Cinta itu membuat hidup damai. Hidup bertetangga damai.

Kalau ada 10 orang yang mencinta dan orang 5 orang yang membenci, diharapkan keadaan ini dapat melenyapkan kebencian dari hati manusia.

Artinya, 10 orang yang mencinta akan sanggup membuat 5 orang pembenci berubah menjadi baik.

Namun, syarat cintai memang berat: bersedia meninggalkan kepentingan diri sendiri demi kepentingan orang yang kita cintai.***

___________

Sumber: Diolah dari “Orang Baik Sulit Dicari”

Editor: Feri A

No More Posts Available.

No more pages to load.