Gang Ruhana Jadi Percontohan Toleransi Umat Beragama di Kota Bandung

oleh -
Sumber: daerah.sindonews.com

BANDUNGMU.COM — Indonesia menjadi negara dengan banyak keanekaragaman mulai dari ras, suku, dan agama. Hal tersebut tercermikan dari salah satu gang yang berada di Kota Bandung, yaitu Gang Ruhana. Perlu dua menit untuk berjalan kaki dari SMAN 7 Kota Bandung untuk bisa masuk ke Gang Ruhana.

Dilansir dari Sindonews.com, Gang Ruhana terletak di Kelurahan Paledang, Kecamatan Lengkong, Kota Bandung, dan menjadi simbol pelaksanaan toleransi antarumat beragama yang begitu kuat sejak lama.

Jika ada beberapa momentum hari besar pada suatu agama, agama yang lain akan membantu mempersiapkan segala kebutuhan agar peribadatan berjalan khidmat, begitupun sebaliknya.

Meski pemerintah Kota Bandung baru meresmikannya pada 2018 lalu, tetapi sikap toleransi warganya sudah ada jauh sebelum itu. Menurut Ketua DKM Masjid Al-Amanah, Sugandi, warga di Gang Ruhana tidak hanya memahami konsep komunikasi yang baik dan saling menghargai, tetapi bisa langsung mempraktikannya.

“Yang paling penting, apalagi dalam Islam itu karena kita saling menghormati dan menyayangi,” kata Sugandi.

Sementara itu, salah satu warga Gang Ruhana Rini Ambarwulan, mengatakan bahwa nama kampung toleransi yang disandangkan kepada gang tersebut merupakan hasil musyawarah pemeluk agama yang ada di kampung tersebut.

”Dari sebelum disebut kampung toleransi juga sudah tercipta toleransi. Malah kita enggak tahu juga itu namanya toleransi, jadi kebersamaan pas hari raya, pas imlek, begitu juga Natal,” ucap Rini.

Lukisan hingga peribadatan

Dilansir dari News.Detik.com, ia juga mengatakan ada lukisan barongsai merah di ujung tembok dan gambar wadah berisi kerupuk di bawahnya. Goresan huruf putih bertuliskan “HARAPAN” menghiasi wadah biru itu. “Harapan kami tetap hidup rukun dan menjaga keberagaman tanpa memandang suku-agama,” jelasnya.

Sama seperti Rini, Tince yang menjadi warga Gang Ruhana mengatakan, tempat yang diberi nama kampung toleransi tersebut memiliki tiga tempat ibadah mulai dari masjid, vihara, dan gereja.

Masjid terpisah dua bangunan dari gereja, sedangkan Vihara saling berdampingan dengan masjid. “Bangunan masjid dan vihara bersebelahan. Kalau dari gereja ke masjid dan vihara tinggal jalan, ya dekat,” kataTince.

Gereja tersebut dibangun pada 1931, sedangkan vihara didirikan oleh Wong Yun Lin sejak 1946. “Kalau Masjid Al Amanah ini berdiri 2014. Asalnya rumah, kemudian dibangun masjid,” tuturnya.

Kampung toleransi tersebut diharapkan dapat meningkatkan partisipasi masyarakat dalam menjaga kerukunan umat bergama di Kota Bandung serta menjadi contoh kerukunan umat beragama di Indonesia.***

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *