Gedong Cai Tjibadak, Sumber Kehidupan Sejak Seabad Lalu

oleh -
"Gedong Cai Tjibadak" (1921) sumber air penting bagi warga Bandung./visi.news/dok.istimewa.

BANDUNGMU.COM – Ada tempat menarik yang patut diulas di kawasan Ledeng, Kota Bandung. Di sini ada bangunan yang disebut Gedong Cai Tjibadak alias Gedung Air Cibadak.

Apa sih menariknya bangunan ini? Biar enggak penasaran, simak ulasannya, yuk!

Air merupakan bagian yang enggak bisa dipisahkan dari kehidupan manusia. Karena adanya air pula, bumi bisa ditinggali dan dijadikan tempat manusia hidup.

Ngobrolin soal air, terkadang kita begitu asyik menggunakannya, namun lupa dari mana asalnya air itu. Untuk membahas seputar air ini, kita berkesempatan mengunjungi Gedong Cai Tjibadak alias Gedung Air Cibadak di kawasan Ledeng, Kota Bandung.

Ya, namanya mungkin enggak begitu populer di telinga kita. Namun, siapa sangka sumber air sejak zaman kolonial Hindia Belanda ini pernah memenuhi sampai 80 persen kebutuhan air bersih bagi warga di Bandung.

Selain berkunjung ke sana, kami juga ngobrol dengan Nugi Herdian, salah seorang relawan Komunitas Cinta Alam Indonesia(CAI). Ada banyak fakta sejarah dan cerita menarik yang kami temui saat ngobrol tentang Gedong Cai Tjibadak. Mau tahu hasil obrolan kami?

Antara Wabah dan Ibu Kota

Pada 1919, Indonesia yang saat itu masih jadi wilayah kolonial Hindia Belanda diterpa wabah kolera. Analisa sejarah yang dipaparkan Nugi menyebut, wabah kolera ini membuat otoritas setempat bergegas membangun mata air guna tersedianya pasokan air bersih. Wali Kota Bandung saat itu, Bertus Coops, kemudian meminta para ahli tata kota mencari sumber mata air.

Tempat pun ditemukan dan dilanjutkan dengan pembangunan. Setelah pembangunan selesai dalam dua tahun, akhirnya Gedong Cai Cibadak resmi hadir pada 1921. Tahun kelahiran sumber air ini juga tercermin dari angka 1921 yang tertera pada bangunannya.

Oh ya, dalam versi sejarah lain, pembangunan Gedong Cai Tjibadak juga dikaitkan dengan terpilihnya Bandung sebagai opsi ibu kota negara pada saat itu.

Hingga kini, asal mula lahirnya Gedong Cai Tjibadak masih dalam penelusuran ahli sejarah dan budayawan. Namun, Nugi sedikit memaparkan suasana peresmian Gedong Cai Tjibadak, nyaris seabad lalu.

Ia menceritakan, bulan peresmian Gedong Cai TJibadak pada Desember 1921, meski tanggalnya belum diketahui pasti. Saat peresmian, tampil beberapa kesenian lokal, salah satunya wayang golek.

“Sudah seabad lamanya sih. Dan maka dari itu, saat sekarang revitalisasi pun, masuknya lewat budaya dan lingkungan,” ujar Nugi.

Penamaan Tjibadak itu sendiri memiliki berbagai versi sejarah, mulai dari singkatan cai badag (air yang melimpah), hingga banyaknya badak di wilayah yang kini kita kenal dengan sebutan Ledeng ini. Nama Ledeng itu sendiri dikenal dari serapan Bahasa Belanda, waterleiding, yang artinya pipa-pipa besar.

Buat kamu yang belum tahu, di bawah lapisan Jalan Sersan Surip, Sersan Bajuri, dan Terminal Ledeng, konon ada pipa-pipa besar milik PDAM yang digunakan untuk mengalirkan air ke penjuru wilayah Kota Bandung. Buat kamu yang tinggal di Bandung, boleh jadi, air yang selama ini menghidupimu berasal dari sana loh.

Penuhi 80 Persen Kebutuhan Air

Sebagai catatan penting, kehadiran Gedong Cai Tjibadak tak bisa dipandang sebelah mata. Bagaimana tidak? Sekitar 80 persen kebutuhan air bersih warga Kota Bandung hadir dari sini. Pada masanya, gedong cai ini menyumbang debit air 50 liter per detik.

Akan tetapi, dinamika pembangunan dan perkembangan tata kota di sekitar wilayah Gedong Cai Tjibadak mengubah segalanya. Keberadaan Gedong Cai Cibadak nyaris terlupakan, sejalan pula dengan akibatnya.

Saat ini, dari debit air 50 liter per detik ini hanya menjadi 19 liter saja. Itu jadi penyebab adanya pembagian jadwal aliran air PDAM atau dikenal air ledeng buat pelanggan.

“Karena air bakunya menipis, dan sekarang sih memang beberapa masyarakat ngambil dan mengolah air dari anak-anak sungai di sekitar wilayah tempat mereka tinggal,” jelas Nugi.

Jadi, buat kamu yang berlangganan ‘air ledeng’ dan bertanya-tanya kenapa ada pembagian waktu mengalirnya air yang berbeda, jawabannya karena ketersediaan air bakunya mulai menipis. Wah, pekerjaan rumah nih buat kita mengembalikan lagi ketersediaan air yang menipis.

Upaya Revitalisasi

Sejak 2012, kesadaran merevitalisasi salah satu aset berharga milik Kota Bandung ini mulai berhembus. Lapisan masyarakat, salah satunya Karang Taruna setempat, mulai berinisiatif mencari literasi sejarah mengenai Gedong Cai Tjibadak. Hasilnya, beberapa kegiatan berbasis seni budaya, seperti Festival Gedong Cai, rutin digelar sejak 2012 hingga 2018.

Memasuki 2019, Komunitas CAI masuk melanjutkan upaya revitalisasi wilayah Gedong Cai TJibadak. Hadirnya komunitas ini seolah menambah daya dan upaya revitalisasi itu sendiri. Hasilnya, enggak hanya Gedong Cai Tjibadak saja yang terawat, tapi juga kawasan di sekitarnya.

Saban hari, komunitas ini merevitalisasi lahan di kawasan Curug Ledeng. Nugi menjelaskan, di kawasan sungai ini terdapat tujuh tahapan aliran air berumpak-umpak berdebit air kencang. Salah satu yang menarik minat kami adalah kawasan Sungai Cipaganti.

“Hadirnya Komunitas CAI, salah satunya mau ngebalikin debit air yang dulu pernah ada di 50 liter per detik, buat kita-kita juga kok,” terang Nugi.

Jika menarik garis waktu sejarah, 2021 ini merupakan ulang tahun ke-100 Gedong Cai Tjibadak. Upaya penggodokan materi sejarah serta perayaan hari jadi yang ke-100 pun sedang dimatangkan Komunitas CAI beserta relawan di tingkat kewilayahan.

Kendati bersifat seremonial, perayaan ini jadi bentuk sayang kepada aset penting milik bersama. Nugi menyebut, ada kalanya kita melupakan aset penting ini, meski di sisi lain, saban hari kita menikmati hasilnya.

“Jadi, biar saudara-saudara di Bandung ini inget lagi, ini tuh punya kalian loh, punya kita. Jadi, yuk kita jaga aset ini sebaik-baiknya,” ujar Nugi.

Perayaan ulang tahun satu abad Gedong Cai Tjibadak rencananya bakal digelar Desember 2021 mendatang. Tanggal acaranya belum bisa disebut Nugi karena masih dalam perencanaan. Hanya saja, kehadiran acara ini patut dinantikan, loh!

Sebagai penutup, Nugi mengajak kita semua sama-sama menjaga lingkungan. Dengan saling menjaga, bumi akan semakin nyaman dihuni.

“Urang beda tapi sarua, urang saimah tapi saukur beda buruan. Urang welas, maneh asih, yu urang bangun ieu imah Indonesia (Kita beda tapi sama, kita serumah tapi hanya beda halaman. Ayo kita bersama membangun, ini Indonesia),” pungkasnya. (Rayhadi Shadiq/Beritabaik.id).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *