Hari Film Nasional: Loetoeng Kasaroeng Tayang di Bandoeng 1926

oleh -
Poster film Loetoeng Kasaroeng, karya pertama buatan sineas lokal (Bandoeng) yang tayang di layar lebar bioskop Indonesia. (Wikimmedia Commons)

BANDUNGMU.COM — Menonton film adalah hobi yang menyenangkan karena bisa dilakukan sendiri atau dengan keluarga. Film yang ditonton bisa hasil produksi Indonesia atau luar negeri. Bergantung pada selera masing-masing.

Berbicara film nasional Indonesia, tahukah Anda bagaimana perjalanan sejarah film Indonesia sampai era digital hari ini? Berikut perjalanan sejarah film Indonesia yang Bandungmu kutip dari Ayobandung. Selamat menikmati.

Film Indonesia masa sekarang tak terlepas dari perkembangan sejarahnya. Pada 31 Desember 1926 atau sekitar 95 tahun lalu, perfilman Indonesia mengukir sejarah, film pertama berhasil dibuat oleh sineas Indonesia adalah dengan judul Loetoeng Kasaroeng. Film itu merupakan film lokal pertama yang diputar di layar lebar.

Tayangnya Loetoeng Kasaroeng kala itu menjadi angin segar bagi perfilman Indonesia, di tengah serbuan film-film produksi luar negeri dengan tema khas Eropa atau Amerika dan India (Bollywood). Bahkan saat itu tidak semua rakyat Indonesia bisa menikmati film bioskop, sehingga penayangan Loetoeng Kasaroeng menjadi tonggak awal perkembangan film lokal.

Film ini diputar perdana di Bioskop Elita (yang kini lahan eks Bioskop Palaguna), Bandoeng (baca: Bandung), pada 31 Desember 1926. Selain di Elita, bioskop-bioskop lain yang pada masa itu menjadi primadona perbioskopan juga menanyangkan Loetoeng Kasaroeng, seperti bioskop Elite (Majestic) dan Bioskop Oriental. Film berdurasi selama satu jam sesuai standar film Hollywood saat itu tayang selama satu minggu, tepatnya sampai 6 Januari 1927.

Loetoeng Kasaroeng adalah film hasil garapan NV Java Film Company. Perusahaan perfilman yang didirikan L. Heuveldorp dan G. Krugers. L. Heuveldorp, merupakan warga Belanda yang kenyang pengalaman akan pembuatan film di Amerika, sedangkan G. Krugers ialah juru kamera blasteran Indonesia-Belanda yang menetap di Bandung.

G. Krugres adalah keponakan Boosie, seorang pengusaha perkebunan di Bandung yang tenar dengan sebutan “Raja Bioskop” di Bandung. Berkat kedekatan Krugres dengan sang paman, Krugres mendapat banyak ilmu mengenai perfilman.

Ketika itu, pembuatan film Loetoeng Kasaroeng mendapat dukungan dari Bupati Bandung, Wiranatakusumah V. Sang Bupati juga punya rencana untuk mendorong dan memajukan kesenian Sunda agar bisa terselbar luas dan dinikmati oleh pelbagai kalangan. Ia juga berharap nantinya akan muncul inisiatif dari beberapa pihak untuk menggiatkan film dari Indonesia, dan Bupati pun mendukung langkah tersebut dengan mendanai penggarapan film.

Tak hanya itu, Wiranatakusumah V juga memberikan izin kepada putri dan keponakannya untuk tampil dalam film Loetoeng Kasaroeng. Dalam film itu, mereka akan adu akting bersama aktor dan aktris keturunan Indo-Belanda dan Tionghoa. Meski pada saat itu masih bergentayangan isu tabu, mengenai gadis-gadis priayi Priangan untuk pentas di sebuah perntujukkan terbuka.

Intisari dari Film Loetoeng Kasaroeng adalah cerita dari sebuah legenda terkenal dari Sunda, yang menceritakan tentang Purbasari berpacaran dengan seekor lutung. Ternyata lutung itu Guru Minda, pangeran tampan yang dikutuk menjadi lutung oleh ibunya sendiri, Sunan Ambu.

Dalam kreditnya, pemutaran film perdana itu dipersembahkan kepada Gubernur Jenderal Hindia Belanda, ACD de Graeff (1926-1931). Belakangan legenda itu juga difilmkan ulang, masing-masing tahun 1952 oleh Touw Film dan tahun 1983 oleh Inem Film.

Saat ini,Loetoeng Kasaroeng banyak muncul dalam buku ataupun televisi Indonesia. Cerita rakyat ini ditulis oleh seniman Belanda Tilly Dalton dan bukunya disumbangkan kepada KITLV di Leiden, Holland.

Film di Indonesia Pasca-Loetoeng Kasaroeng

Munculnya bioskop-bioskop modern di Indonesia mendorong produksi film untuk terus tumbuh dan berkembang. Untuk kurun waktu tahun 2000 hingga 2004 saja, dari Katalog Film Indonesia 1926 – 2007 yang disusun oleh JB. Kristanto, tercatat sebanyak 74 film telah beredar di bioskop. Artinya, dalam waktu kurun lima tahun, rata-rata hampir 15 film diproduksi per tahun.

Jumlah rata-rata itu akan semakin bertambah seiring peminat dan kualitas film itu sendiri. Pertumbuhan ini terbukti pada 2019 lalu. Sepanjang 2019, tahun katalog menunjukkan terdapat 129 judul film yang diproduksi dengan jumlah total 51.901.745 penonton. Angka ini menunjukkan pertumbuhan dengan naik sebesar 1,38 persen dari perolehan 51.192.832 penonton di 2018.

Tak hanya di sisi produksi film dan jumlah penonton yang naik saja, dari segi pertambahan layar bioskop pun dari tahun ke tahun mengalami kenaikkan. Mengutip dari filmindonesia.or.id, sepanjang tahun 2019 terdapat penambahan 78 bioskop dengan 286 layar dari 5 bioskop berjaringan dan juga bioskop independen. Penambahan terjadi di 43 kota di 19 provinsi. 37 bioskop berada di ibu kota provinsi, dan 41 bioskop berada di kota dengan status kota/kabupaten. Di akhir Desember 2019, terdapat 508 bioskop dengan 2.110 layar.

Dari segi penghargaan terhadap film Indonesia, pada Festival Film Indonesia (FFI) 2019, film Kucumbu Tubuh Indahku menyabet delapan penghargaan sekaligus, termasuk di dalamnya kategori film dengan cerita panjang terbaik dan sutradara terbaik.

Sebelumnya, film garapan Garin Nugroho tersebut mendapatkan pelarangan pemutaran di berbagai daerah. Selain larangan tayang, film itu juga mendapat tentangan keras dari berbagai pihak karena dinilai menampilkan citra LGBT.

Tak hanya meraih penghargaan Citra terbanyak di FFI 2019, Kucumbu Tubuh Indahku mendapat penghargaan di beberapa festival internasional, di antaranya Festival des 3 Continents 2018 dan Asia Pacific Screen Award 2018. Tak hanya menunjukkan capaian estetik, pemberian penghargaan di FFI juga seolah menyuarakan keberpihakan industri film Indonesia pada masalah kebebasan berekspresi dan isu aktual lainnya.

Malang, pada tahun 2020, perindustrian film Indonesia harus anjlok oleh hal yang bukan campur tangan manusia. Dalam laporan Pemandangan Umum Industri Film 2020, pukulan Covid-19 terhadap perfilman Indonesia datang lebih dini sebelum pemerintahan Presiden Joko Widodo resmi menanggapi Covid-19 setelah Covid-19 ditetapkan sebagai pandemi bencana non-alam pada 13 April 2020.

Sementara pengambil kebijakan tarik-ulur pada bulan Maret. Sejumlah produser film Indonesia tak bisa mengelak dari bayang-bayang kerugian finansial dan merancang ulang skenario produksi film dalam beradaptasi dengan perkembangan situasi bencana kesehatan. Hingga akhir Maret 2020, jadwal penayangan sepuluh film Indonesia bahkan ditunda, yaitu: KKN di Desa Penari, Tersanjung The Movie, Jodohku Ke Mana?, Roh Mati Paksa, Djoerig Salawe, Malik & Elsa, Tarung Sarung, Serigala Langit, Generasi 90-an: Melankolia, dan Bucin.

Sebelum diberlakukannya kebijakan penutupan sarana hiburan, salah satunya bioskop, sebagai upaya pencegahan penyebaran rantai Covid-19 yang semakin naik di Indonesia, tercatat dari Januari—Maret 2020 terdapat delapan bioskop baru dengan 35 layar.

Penutupan bioskop selama tujuh bulan, mulai dari April hingga Oktober 2020, berakibat paling tidak sedikitnya pada 60 persen jumlah jam tayang film yang hilang dalam satu tahun. Dalam hal ini, pihak Asosiasi Produser Film Indonesia pun belum mengeluarkan pernyataan resmi terkait secara rinci tentang berapa judul film yang harus ditunda penayangannya di bioskop hingga pertengahan Oktober 2020.

Di Bandung, berdasarkan aturan Perwal Kota Bandung Nomor 46 Tahun 2020 terdapat relaksasi untuk tempat hiburan, salah satunya dengan pembukaan bioskop. Dari laporan yang didapatkan Ayobandung.com pada Jumat (9/10/2020), setidaknya ada sembilan bioskop dari jaringan CGV dan XXI yang dibuka, di antaranya CGV PVJ, CGV Miko Mall, CGV BEC, CGV Paskal, CGV Metro Indah Mall, CGV Kings, XXI Ciwalk, XXI Ubertos, dan Cineapolis Istana Plaza.

Meskipun dengan pembatasan kapasitas penonton yang harus dikurangai sampai 50 persen dari keadaan normal, diberlakukannya jam operasional yang mesti mengikuti aturan PSBB dan PPKM Mikro, pembukaan bioskop ini merupakan sebuah asa yang kembali mengudara setelah hampir setahun asa itu terpendam dalam-dalam oleh suatu hal yang di luar jangkuan manusia.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *