News

Hidup Tak Bisa Sekadar Mengalir, Mahasiswa Perlu Punya Rencana Finansial Sejak Dini

BANDUNGMU.COM, Bandung — Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung menjadi tuan rumah penyelenggaraan program “ADPI Goes to Campus 2026” yang digelar di Auditorium Kiai Haji Ahmad Dahlan, UM Bandung, Selasa (15/09/2026).

Acara yang diusung oleh Asosiasi Dana Pensiun Indonesia (ADPI) ini disi dengan sosialisasi dan kuliah umum guna meningkatkan literasi keuangan serta kesadaran pentingnya perencanaan pensiun di lingkungan akademis.

Kegiatan ini juga ditandai dengan penandatanganan Nota Kesepahaman (MoU) antara UM Bandung dan ADPI sebagai landasan kerja sama strategis dalam memperkuat edukasi dan sinergi profesional.

Wakil Rektor 1 UM Bandung Ayi Yunus Rusyana mengapresiasi penyelenggaraan kegiatan edukatif ini. Ia mengajak kepada seluruh mahasiswa agar menyusun perencanaan masa depan secara terarah dan tidak hanya pasrah mengikuti arus kehidupan.

Menurutnya, kesiapan finansial setelah purna bakti, khususnya, akan menghadirkan ketenangan hidup sehingga tugas dan tanggung jawab sosial dapat dijalankan secara maksimal.

“Kita hidup ini banyak sekali tanggung jawab sebagai makhluk sosial. Di dalam ajaran Islam, kita memiliki banyak amanah dan tanggung jawab untuk memakmurkan bumi ini. Jadi, kalau hidup kita hanya santai, rebahan, kemudian slow living begitu saja, maka tidak bisa memaksimalkan dalam menjalankan amanah tersebut,” kata Ayi Yunus.

Ayi kembali menegaskan bahwa setiap individu tidak bisa menjalani hidup begitu saja tanpa visi yang jelas. Ia menyebutkan bahwa perencanaan yang matang akan membantu mahasiswa meraih kesejahteraan saat bekerja sekaligus ketenangan setelah masa kerja usai.

“Kita tidak bisa hanya mengikuti hidup ini seperti air mengalir, tetapi perlu ada perencanaan yang bagus. Sehingga selain setelah selesai kuliah kita bekerja dan memiliki kesejahteraan, ketika selesai bekerja pun kita memiliki hidup yang tenang karena semua direncanakan,” tambahnya.

Sementara itu, Ketua Umum ADPI Abdul Hadi menyatakan bahwa kehadiran pihaknya di lingkungan kampus merupakan langkah strategis untuk menjembatani dunia pendidikan tinggi dengan kebutuhan industri profesional.

Ia menambahkan bahwa kegiatan ini diselenggarakan bertepatan dengan momentum Bulan Dana Pensiun yang dicanangkan bersama Otoritas Jasa Keuangan, Kementerian Ketenagakerjaan, dan Kementerian PAN-RB untuk menggenjot literasi masyarakat.

“Kampus adalah tempat talenta-talenta dibentuk untuk melahirkan profesional. Dunia kerja menjadi tempat pembuktian bahwa talenta dari kampus bisa profesional dan membawa maslahat bagi masyarakat,” tutur Hadi.

Abdul juga menjelaskan bahwa persiapan dana pensiun tidak boleh dianggap sebagai urusan generasi tua saja. Menurutnya, anak muda juga perlu membangun pemahaman dan perencanaan sejak dini agar memiliki ketahanan fisik, mental, dan finansial, tanpa menjadi beban bagi orang lain di masa depan.

“Dana pensiun bukan urusan orang tua saja. Anak-anak muda juga perlu mempersiapkannya sejak dini, minimal awareness, pengetahuan, dan perencanaannya,” tegas Hadi.

Di sisi lain, Ketua Bidang Sosialisasi dan Literasi DPP ADPI Faizal Ridwan Zamzany memaparkan materi utama bertajuk “Build a Professional Legacy” mengenai pentingnya membangun kesadaran finansial sedini mungkin.

Ia menjelaskan bahwa mahasiswa perlu mengadopsi pola pikir bertumbuh (growth mindset) dalam mengelola keuangan, cermat membedakan antara kebutuhan dan keinginan, serta memanfaatkan prinsip compounding interest atau bunga berbunga agar tabungan pensiun lebih maksimal di masa depan.

“Dana pensiun bukan sekadar tentang berhenti bekerja, melainkan tentang kepastian kemandirian finansial di masa depan,” ujar Faizal.

Faizal turut mengingatkan pentingnya menyiapkan dana darurat dan instrumen mitigasi risiko finansial agar tidak membebani keluarga saat memasuki usia non-produktif.

Ia menekankan bahwa kelalaian merencanakan keuangan sejak masa kuliah dapat berdampak buruk pada kondisi ekonomi di hari tua.”Jika tidak direncanakan sejak dari bangku kuliah, kita berisiko terjebak dalam masa pensiun yang rentan secara ekonomi,” pungkas Faizal.***(FK)

Exit mobile version