Hobi Berburu Buku Bekas? Cobalah ke Pasar Palasari Bandung

oleh -
Foto: Beritabaik.id

BANDUNGMU.COM — Buku bekas memiliki peminatnya sendiri. Novel, komik, majalah lama yang tak lagi dicetak menjadi perburuan bagi para pecandu buku bekas. Di Pasar Palasari, buku-buku lama dengan kertas yang menguning ini bisa ditemui. Menjadi kesenangan tersendiri bagi para penikmat buku jadul.

Pasar yang terletak di Jalan Palasari, Pasar Lodaya, Kota Bandung ini menjadi surganya para pencinta buku. Segala macam buku ada di pasar ini.Mulai dari buku pelajaran tingkat SD sampai universitas. Novel, majalah, komik dan ensiklopedia. Tempat ini dikenal sebagai sentra buku di Kota Kembang. Puluhan kios menyediakan berbagai macam buku baru dan bekas.

Selain dikenal sebagai surga penikmat buku jadul, kebanyakan pengunjung mencari buku bekas karena tidak menemukan buku tersebut di toko buku baru. Berdiri sejak tahun 1980-an, Pasar Palasari tetap dinanti oleh para peminatnya.

Buku yang dijual di Palasari tidak hanya buku bekas. Malah kini para pedagang buku lebih banyak menawarkan buku baru beragam jenis, mulai bacaan umum, agama hingga buku pelajaran sekolah dasar sampai perguruan tinggi.

Pasar Palasari menjadi tujuan utama bagi mereka yang ingin membeli buku dengan potongan harga. Pasalnya, di pasar ini pembeli bisa tawar menawar dengan pedagang. Apalagi saat membeli dalam jumlah banyak.

Para pedagang buku Pasar Palasari generasi pertama dulunya melakukan jualan dengan sistem bongkar muat gerobak. Pagi sampai siang mereka menjajakan buku-buku bekasnya di pinggir Jalan Cikapundung. Sorenya mereka mengemasi kembali buku-buku tersebut ke dalam gerobak. Pada 1980 melalui kebijakan Pemda Bandung, pasar dialihkan ke Pasar Palasari.

Tahun 90-an Palasari sudah dikenal sebagai pusat buku terbesar di Bandung. Namun pada 1992 dan 2007 peristiwa memilukan terjadi, kebakaran melanda. Banyak koleksi buku langka yang tak terselamatkan.

Jika ingin berkunjung, pasar ini buka pukul 8.30-17.30 WIB. Namun, lantaran pandemi Corona Covid-19, Pasar Palasari seolah mati suri. Pasar melegenda ini memilih buka siang hari lantaran sepi pengunjung. Beberapa pedagang bahkan terlihat memilih menutup kiosnya dengan rolling dor.

Ya, sejak Corona melanda Tanah Air Maret 2020 lalu, kegiatan jual beli di pasar ini kian meredup. Pembatasan sosial berskala besar (PSBB) berdampak para penghasilan para pedagang kian menurun.

Baik orang tua siswa, para siswa, hingga mahasiswa sudah semakin jarang bertandang ke pasar yang berusia 40 tahun ini. Para pedagang bertahan dengan menjual dagangan secara daring.

Sambil menunggu di kios, setiap hari para penjual buku dengan sabar menanti notifikasi di handphonenya. Berharap ada permintaan daring datang.*** [Tys/Merdeka.com]

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *