Traveliana

Kisah Jalan Riau, dari Zaman Belanda Sudah Jadi Daerah Elite

×

Kisah Jalan Riau, dari Zaman Belanda Sudah Jadi Daerah Elite

Sebarkan artikel ini
Jalan L.L. RE Martadinata, adalah satu di antara jalan bersejarah di Kota Bandung. (Tribun Jabar/Hilda Rubiah).

BANDUNGMU.COM – Warga Kota Bandung pasti sudah familiar dengan jalan terkenal yang satu ini. Ya, Jalan Riau, maksudnya. Kisah sohor Jalan Riau di Bandung yang sekarang jadi bernama Jalan L.L. RE Martadinata memang sudah dari zaman Belanda dulu.

Kalau sekarang Jalan Riau jadi ramai sebagai tempat nongkrong anak muda dengan berbagai restoran dan kafenya, ternyata dari abad lalu pun sudah ramai oleh meneer dan noni Belanda.

Namun, tampaknya belum banyak yang tahu kalau Jalan Riau ternyata memiliki sejarah yang panjang. Punya sejarah yang menarik dikupas agar generasi muda Bandung saat ini mengetahuinya.

Panjang Jalan Riau sekitar tiga kilometer, mulai dari perempatan Jalan Jendral Ahmad Yani hingga perpotongan Jalan Wastu Kencana.

Baca Juga:  Sejarah Gedebage, Daerah Pengangkutan Barang Sejak Zaman Kolonial

Pada masa pemerintahan Kolonial Hindia Belanda, sekitar abad ke-19, Jalan Riau menjadi satu di antara banyak tempat bersejarah.

Jalan ini dulunya dikenal dengan nama Riouwstraat yang juga pernah menjadi tempat aktivitas kelompok elite Eropa.  Dulunya, Jalan Riau dibangun menjadi sebuah perumahan elite untuk orang-orang Eropa. Kawasan kegiatan bangsa Eropa tersebut dulunya disebut Europese Zakenwijk.

Di kawasan Jalan Riau Bandung juga dulunya pernah berdiri tempat Konsulat Inggris. Di sana ada beberapa taman yang merupakan peninggalan zalam Belanda, seperti Taman Pramuka dan Lapangan Pramuka yang kini menjadi Taman Persib.

Kawasan Taman Pramuka dan Supratman menjadi camp internir atau lokasi penawanan orang Eropa saat penjajahan Jepang. Ketika pergantian kekuasaan dari Pemerintah Kolonial Belanda ke Pemerintahan Jepang, terjadi beberapa perubahan di Jalan Riau.

Baca Juga:  Resep Misro "Amis Dijero" Isi Gula Merah, Cocok untuk Takjil Puasa

Seperti perubahan pada sejumlah struktur bangunan, yang dibuat benteng dan pos penjagaan tentara Jepang.

Setelah kemerdekaan, beberapa rumah orang Eropa tersebut diambil alih menjadi hak milik masyarakat sekitar. Beberapa rumah lainnya menjadi hak milik negara atau pemerintah Indonesia.

Seiring berjalannya waktu, lahan pemukiman yang berapa di dekat pusat pemerintahan, mulai dialihfungsikan masyarakat menjadi ladang bisnis bangunan komersial. Seperti yang saat ini, Jalan Riau menjadi pusat fesyen, hotel, rumah makan, perbankan, dan lainnya.

Nama Jalan Riau dulunya diambil dari sebuah daerah di Pulau Sumatra. Hal tersebut untuk mempermudah pemetaan lokasi. Oleh karena itu, nama-nama jalan di Bandung diambil berdasarkan klasifikasi dari peta daerah atau pulau di Nusantara.

Baca Juga:  Bernuansa Kampus Islami, Mahasiswa Protestan Ini Mengaku Senang Kuliah di Unisa Bandung

Begitupun dengan jalan sekelilingnya menggunakan nama daerah lain, seperti Jalan Sumatera, Jalan Aceh, Jalan Banda, Jalan Sumbawa, Jalan Lombok, dan sebagainya.

Jalan Riau kemudian berganti menjadi Jalan L.L. RE Martadinata atau disingkat Jalan Martadinata. Nama itu diambil dari nama seorang laksamana laut kelahiran Bandung, yakni Raden Edi Martadinata.

Ia merupakan seorang mantan Menteri Angkatan Laut Republik Indonesia. Ia mendapatkan 12 bintang penghargaan. Selain itu, ia juga tokoh Indonesia yang sudah bergelar pahlawan nasional.

L.L. RE Martadinata tewas dalam sebuah kecelakaan helikopter pada 1966 di kawasan Pangalengan, Kabupaten Bandung. Kemudian namanya diabadikan sebagai pengganti Jalan Riau.

Diolah dari Gridoto.com