Kisah Mas Iming dan Citra Islam dalam Peci

oleh -
Toko Peci M. Iming Jalan Ahmad Yani No. 14 Bandung /Google Street View Mei 2019.

BANDUNGMU.COM – Kisah dimulai ketika Kota Pekalongan dilanda perang pada pertengahan tahun 1890. Tragedi yang menyeret serta segenap penduduk kota mengungsi ke berbagai daerah di Pulau Jawa, tidak terkecuali Bandung.

Dari sekian banyak pengungsi, terselip satu pria lajang bernama Usman. Seorang pria biasa yang tidak pernah menyangka bila kelak menjadi orang tua dari tokoh legendaris fesyen Indonesia bernama Iming.

Iming atau lebih dikenal dengan Mas Iming lahir di Bandung sesaat setelah kedua orang tuanya memutuskan menikah. Ibunda Iming adalah seorang perempuan berlatar garis keturunan berdarah biru asal Subang.

Keluarga Iming mampu menyambung hidup dengan penghasilan yang di dapat dari bisnis telur asin di kawasan Groote Postweg atau kini dikenal sebagai Jalan Ahmad Yani.

Singkat cerita, Iming kecil dididik dengan nilai kejujuran dan kerja keras. Sebuah alasan yang melatarbelakangi Iming dewasa memilih bekerja mandiri sebagai bell boy di salah satu hotel melati di kawasan Pasar Baru.

Tidak terelakan bila pesona Iming mengaburkan logika sehingga memikat putri mahkota sang pemilik hotel bernama Ningsih. Cinta dipertemukan dan keduanya menikah pada awal tahun 1900.

Setelah menikah, Iming segan meneruskan bisnis hotel milik mertuanya. Lantas Iming lebih memilih berjuang sendiri dengan belajar menjahit peci dari kakak kandung Ningsih bernama Tayubi.

Tayubi memang lebih dulu menggeluti bisnis peci dan biasa berjualan di kawasan Pasar Baru. Saat itu, Pasar Baru memang belum dibangun maka aktivitas perdagangan dilakukan di sepanjang pelataran jalan dengan mendirikan kedai kecil atau jongko.

Namun Tayubi justru memilih pensiun dini dari bisnis peci dan beralih profesi menjadi musisi violin. Tidak demikian dengan Iming yang tetap melanjutkan kreasi dan menyambung hidup melalui produksi peci.

Iming memang memiliki teknik tersendiri dalam setiap peci yang dibuatnya. Inovasi tersebut tersaji melalui pola jahitan yang variatif pada bagian dalam peci. Kreasi tersebut menghadirkan kenyamanan karena peci terasa lebih ringan saat dipakai. Nyatanya pola tersebut kini menjadi standar dasar pembuatan peci di Indonesia.

Naik turun prestasi omzet dilalui Iming. Tidak serta merta membuat Iming menyerah dan berpulang pada bisnis hotel milik mertuanya atau usaha telur asin keluarganya.

Ketekunan Iming membuahkan hasil. Setidaknya pada tahun 1912 Iming memberanikan diri untuk membuka toko peci sendiri di atas tanah warisan keluarga di kawasan Simpang Lima Jalan Ahmad Yani dengan nama M Iming. Modalnya, hanya satu mesin jahit.

“Eyang Iming tidak ada habisnya untuk belajar dan belajar. Sepeninggal Eyang Tayubi yang berhenti dari bisnis peci membuat Eyang Iming melakukan kreasinya sendiri,” ujar penerus generasi keempat Toko Peci M Iming, Ella Has, dikutip dari Ayobandung edisi Kamis (14/09/2017).

Usaha peci Iming berkembang pesat sehingga pada tahun 1930 ia mendirikan bangunan tepat di atas tanah tempatnya berjualan. Namun pada saat kependudukan Jepang, Iming dan keluarga sempat mengungsi meninggalkan rumah dan usaha pecinya.

Beruntung tidak lama kemudian Iming kembali mendapatkan hak kepemilikan rumah tersebut dan melanjutkan geliat bisnis peci yang dirintisnya dan bertahan hingga kini.

Amanat Nilai Sejarah dan Persaingan Peniru

Iming dan Ningsih dikarunai dua anak lelaki bernama Mochamad Hatta dan Mochamad Sabana. Keduanya diwarisi usaha dan keahlian membuat peci yang diturunkan Iming.

Mochamad Hatta dan turunannya diwarisi Toko Peci M Iming di Jalan Ahmad Yani. Sedangkan Mochamad Sabana berhak atas nama dan toko M Iming di Jalan PH Mustofa. Keduanya berjalan beriringan membawa panji leluhur melanjutkan cerita.

Khusus untuk generasi Mochamad Hatta, hingga kini masih mempertahankan pakem-pakem khusus dalam pembuatan peci yang telah diterapkan Iming sedari dulu. Amanat dan idealisme tersebut masih dijaga dan dilanjutkan para penerus lebih dari satu abad lamanya meski dengan tantangan jaman yang tidak biasa.

“Semua masih dipertahankan di tempat ini, tempat yang sama seperti saat Peci M Iming berdiri untuk pertama kalinya. Bukan hanya pola dan teknik membuat peci saja tapi juga semua interior lemari dan kursi masih kami lestarikan hingga sekarang. Ini amanat Eyang Iming dan tidak akan pernah kami lupakan,” ujar Ella.

Ella merupakan cucu dari Mochamad Hatta yang mengemban tanggung jawab sebagai pewaris takhta Peci M Iming. Salah satu syarat yang harus dapat dilalui seorang pewaris takhta mampu membuat peci sesusai standar Iming.

Kini Ella tengah menua dan telah siap mewariskan kekayaan sejarah keluarganya pada putra sulungnya bernama Mochamad Rinat. Serangkaian tes pembuatan peci telah dilalui Rinat dengan seksama. Menjadikannya kelak sebagai penerus Peci M Iming generasi kelima.

“Awalnya memang berat tapi harus dijalani. Ini amanat besar,” ujar Rinat.

Namun kemajuan zaman dan tekanan ekonomi terkadang menghadirkan berbagai kendala teknis seperti ketersediaan sumber daya manusia dan bahan baku pembuat peci. Akan tetapi, hal tersebut tidak turut melunturkan idealisme meski nyatanya terkesan kuno dan konservatif.

Salah satu persaingan hadir dari para peniru bisnis pengguna nama Iming. Salah satunya adalah Peci H Iming dan Iming Son. Keduanya tidak memiliki ikatan historis dengan Iming.

Khusus untuk H Iming yang awalnya merupakan pemasok bahan baku beludru untuk Peci M Iming dari Tiongkok. Namun justru lambat laun pasokan dihentikan dan yang bersangkutan mendirikan toko peci milik sendiri.

“Kami tidak pernah menggugat mereka (H Iming dan Iming Son) karena pakai nama eyang. Itu memang pesan eyang karena rezeki tidak akan berkhianat. Semakin ke sini semakin sulit untuk mempertahankan tapi nyatanya kami mampu bertahan. Untuk sebuah idealisme itu sangat mahal,” ujar Rinat.

Nyatanya pertanyaan atas keraguan tersebut dijawab tegas oleh M Iming dengan tetap mempertahankan kualitas. Maka tidak heran bila banyak tokoh besar menggunakan peci M Iming semisal Presiden Indonesia pertama Soekarno, para Wali Kota Bandung seperti Dada Rosada dan Ridwan Kamil hingga almarhum Kang Ibing.

Peci Soekarno dan Citra Islam

Peci berasal dari kata petje dari bahasa Belanda yang berarti topi kecil. Namun suku bugis dan melayu termasuk Malaysia dan Brunei menyebut peci dengan nama songkok. Sedangkan di beberapa literatur dijelaskan bila peci berarti kopiah yang berasal dari bahasa Arab yakni kaffiyeh atau tutup kepala.

Beragam alasan melatarbelakangi masuknya peci ke Indonesia. Ada yang menyebut berasal dari para pedagang Timur Tengah penyebar agama Islam. Namun juga terdapat wacana bila peci dibawa oleh tentara Eropa seperti Prancis. Soalnya dahulu kala pria Indonesia lebih terbiasa menggunakan ikat kepala kedaerahan ketimbang peci.

Terlepas dari latar belakangnya, awalnya peci digunakan oleh pemuda rakyat jelata. Tidak melulu harus menggunakan pakaian resmi karena awalnya peci juga dapat disandingkan dengan busana nonformal bercelana pendek.

Namun lambat laun di Indonesia peci identik dengan agama Islam. Digunakan untuk salat dan seakan menempati posisi yang suci dalam setiap ibadah keagamaan.

Memang sudah sejak abad ke-13 peci mulai diperkenalkan pada Islam di Indonesia. Namun nyatanya baru pada awal abad ke-20 tokoh dan pemeluk agama Islam di Indonesia beramai-ramai menggunakan peci.

Ella melanjutkan peci bukanlah milik agama Islam. Peci adalah bahasa dan atribut nasional yang universal serta menjadi bukti sejarah dari perjalanan perjuangan Indonesia sedari dulu.

“Awalnya orang suka pakai peci kalau mau naik haji ke Mekah. Padahal ayah saya punya cita-cita ingin menjadikan peci diterima secara nasional. Tapi sampai sekarang belum bisa dirasakan. Maka wajar kalau saya iri sama Malaysia dan Brunei karena anak mudanya mau menggunakan peci,” ujar Ella.

Sebenarnya Soekarno pernah mengangkat dan menjadikan peci sebagai identitas nasional yang dapat diterima berbagai kalangan juga agama. Namun nyatanya kini penggunaan peci lebih menjurus pada hal formal dan dipakai oleh kalangan menengah ke atas atau pejabat negeri.

Meski begitu, perlu diakui bila Soekarno memiliki pengaruh besar dalam penggunaan peci sebagai penutup kepala. Soekarno gemar menggunakan peci berwarna hitam karena dianggapnya melambangkan simbol solidaritas, egaliter, dan perjuangan bangsa.

“Jadi enggak heran kalau zaman dulu banyak pelanggan datang ke sini lalu berkata ingin membeli peci Soekarno,” ujar Ella. (Arfian Jamul Jawaami/Ayobandung.com).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *