UMBandung
Opini

Lailatul Qadar, Kepekaan Sosial, dan Lebaran

×

Lailatul Qadar, Kepekaan Sosial, dan Lebaran

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sapto Suhendro SAg MPd, Ketua PDM Pemalang

BANDUNGMU.COM — Satu kalimat yang kita tidak asing di sepuluh hari terakhir adalah lailatul qadar. Malam yang mulia ini hanya ada di bulan Ramadan, satu malam yang sangat diidamkan oleh seluruh umat Islam di dunia.

Betapa tidak? Malam qadar adalah satu malam yang lebih dari seribu bulan, setara dengan 83 tahun lamanya. Ada satu surah yang tentu saja sangat kita hafal sejak kecil yakni QS Al-Qadr: 3-5.

“Malam kemuliaan itu lebih baik dari seribu bulan. Pada malam itu turun malaikat-malaikat dan malaikat Jibril dengan izin Tuhannya untuk mengatur segala urusan. Malam itu (penuh) kesejahteraan sampai terbit fajar.”

Menurut hadis sahih, Rasulullah SAW memerintahkan kita untuk menggapai malam tersebut pada malam-malam ganjil di 10 hari terakhir bulan Ramadan.

Dari Aisyah RA bahwa Rasulullah SAW bersabda, “Carilah lailatul qadar pada malam yang ganjil dalam sepuluh malam yang akhir dari Ramadan.” (HR Al-Bukhari, Muslim, Tirmidzi, dan Ahmad).

Baca Juga:  1 Syawal Bukan Akhir Ramadhan

Lalu, bagaimana cara menggapai malam terbaik tersebut? Di antara caranya adalah dengan memperbanyak iktikaf di 10 malam terakhir.

Secara bahasa iktikaf berarti tetap tinggal pada suatu tempat. Menurut istilah, iktikaf bermakna berdiam diri di masjid disertai dengan niat dengan tujuan semata-mata beribadah kepada Allah SWT, seperti salat, zikir, doa, kajian-kajian Islam, dan sebagainya yang dilakukan di masjid.

Iktikaf reguler dan iktikaf temporer

Iktikaf reguler adalah berdiam diri di masjid selama 10 hari terakhir Ramadan. Adapun temporer, dilakukan hanya di malam hari karena di pagi harinya ada kewajiban atau pekerjaan yang tidak bias ditinggalkan, bisa 10 hari full akhir Ramadan ataupun beberapa malam saja.

Iktikaf temporer ini bisa dilakukan orang-orang yang memang harus bekerja di malam hari dan tidak sempat beriktikaf seperti para sekuriti, sopir bus malam, atau pegawai yang mendapatkan jadwal piket malam hari.

Mereka tidak sempat qiyamullail, lakukan saat masuk ke dalam masjid pagi, siang, sore, dengan niat berdiam diri sejenak di dalam masjid melakukan berbagai macam ibadah dengan memperbanyak membaca Al-Quran, doa, atau berzikir.

Baca Juga:  Waspada! Antapani Masih Jadi Kecamatan Tertinggi Kasus Aktif Covid-19 di Kota Bandung

Dengan memperbanyak pula membaca doa, “Ya Allah, sesungguhnya Engkau Maha Pemaaf, Engkau mencintai orang yang meminta maaf karenanya maafkan aku.”

Zakat wujud kepekaan sosial

Di penghujung bulan Ramadan nanti, sebagai seorang muslim, kita diperintahkan untuk menunaikan zakat yang disebut sebagai zakat fitrah. Kewajiban zakat ini bukan hanya perintah yang harus dilakukan sebagai ibadah saja, namun juga dilakukan untuk kepentingan sosial.

Karena salah satu fungsi dari diperintahkannya zakat adalah untuk memberikan maslahat kepada manusia, khususnya bagi orang-orang yang membutuhkan. Dengan demikian, zakat dan kepekaan terhadap kehidupan sosial memiliki hubungan yang erat.

Lebaran: no tabdzir & no riya

Masyarakat Indonesia yang mayoritas beragama Islam memiliki tradisi lebaran yang sangat indah. Silaturrahmi yang dikemas dengan tradisi mudik atau pulang kampong dan saling berkunjung.

Secara mudah, silaturahmi artinya menyambung tali cinta atau kasih kepada sesama muslim, terutama kepada keluarga inti, kerabat, atau handai taulan.

Baca Juga:  Lailatul Qadar Jadi Keutamaan di Malam Bulan Suci Ramadan, Begini Tanggapan Dosen UM Bandung

Perlu kita ingat bahwa lebaran merupakan salah satu ladang ibadah. Hindarilah perkara-perkara yang tidak perlu dan mengakibatkan dosa. Apa itu? Tabdzir dan riya.

Tabdzir atau pemborosan merupakan perilaku tercela. Membawa uang banyak saat pulang kampung tentu boleh. Namun, pergunakanlah sebaik mungkin di kampung halaman agar ketika kembali bekerja pasca mudik, keuangan kita masih aman terkendali.

Tidaklah sedikit para pemudik yang akirnya banyak hutang setelah kembali karena kurang bijak dalam menggunakan harta di kampung halaman.

Adapun riya dalam konteks mudik adalah prilaku pamer harta di kampung halaman. Tidak ada larangan membawa kendaraan mewah, HP kelas sultan, dan juga perhiasan indah selama diniatkan sebagai rasa syukur kepada Allah.

Jika diniatkan untuk pamer atau riya, tentu sangat disayangkan. Mudik yang seharusmya memperoleh pahala dan keberkahan, dinodai dengan perilaku tak terpuji dan sangat dilarang dalam Islam. Semoga kita terhindar dari sifat tabdzir & riya ini. Amin.***

PMB UM Bandung