UMBandung
Opini

Mencari Hidup di Muhammadiyah

×

Mencari Hidup di Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini
Foto: muhammadiyah.or.id.

Oleh: Azaki Khoirudin*

BANDUNGMU.COM – Ajaran “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah” begitu mendarah daging dan menjiwai segenap aktivis, warga, simpatisan, pimpinan, dan kader Muhammadiyah.

Entah sejak kapan dan dalam dokumen apa. Yang jelas, jargon itu begitu kuat diyakini sebagai pesan yang disampaikan secara mutawatir dari Kiai Ahmad Dahlan, pendiri Muhammadiyah.

Dahulu: menghidupi Muhammadiyah

Suatu ketika, pada 1921 saat kas Muhammadiyah sedang kosong, Kiai Dahlan memukul kentongan untuk mengumpulkan penduduk Kauman di rumahnya.

Dalam Sukriyanto AR, “Suara Muhammadiyah” (2013), (saat itu) Kiai Ahmad Dahlan butuh uang 500 gulden untuk menggaji biaya operasional sekolah Muhammadiyah.

Lalu, Kiai Ahmad Dahlan melelang seluruh barang-barang yang ada di rumahnya. Hanya butuh yang singkat semua barang milik KH Ahmad Dahlan habis terlelang dan terkumpul uang lebih dari 4.000 gulden.

Lucunya setelah membayar, para pembeli pamit pulang. Tidak seorang pun membawa barang-barang yang dibelinya. Mereka tergerak hatinya untuk membantu Muhammadiyah.

Dalam konteks itu, dapat dipahami pesan hidup-hidupilah Muhammadiyah itu ditunjukkan untuk simpatisan dan pimpinan Muhammadiyah kala itu, termasuk KH Ahmad Dahlan sendiri.

Jadi, bukan untuk guru, dosen, karyawan, dan para profesional yang bekerja di Muhammadiyah.

Dengan demikian, sejatinya doktrin “menghidupi Muhammadiyah” disampaikan untuk pimpinan Muhammadiyah dan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM), bukan untuk pegawai Muhammadiyah.

Hubungan Muhammadiyah dan pegawai adalah partnership (ta’awun), saling membutuhkan satu-sama lain.

Jargon “hidup-hidupi Muhammadiyah” menjadi “pesan penyemangat” bagi para pimpinan Muhammadiyah (cabang hingga pusat) dibantu oleh pimpinan AUM (Rektor, Kepala Sekolah, Direktur Rumah Sakit) agar bisa menjamin kebahagiaan, kedamaian, dan kesejahteraan pegawai Muhammadiyah dan meraih “hidup baik” (hayyah thayyibah).

Baca Juga:  Bergandengan Tangan Untuk Persyarikatan

Dengan begitu, jika ada pimpinan pidato di hadapan karyawan bicara hidup-hidupilah Muhammadiyah, itu sejatinya ceramah untuk diri sendiri.

Kini: Muhammadiyah yang menghidupi

Dahulu, pimpinan Muhammadiyah berjuang membebaskan AUM, maka kini AUM yang harus membesarkan Muhammadiyah.

Dahulu, para pimpinan Muhammadiyah mendirikan AUM dengan semangat beramal saleh, kini AUM yang sudah besar, justru saatnya berperan menghidupi Pimpinan Ranting, Cabang, Daerah, Wilayah, hingga Pusat.

AUM yang sudah maju dan berkembang membesarkan dan menopang Muhammadiyah. Jangan sampai ada kampus besar, rumah sakit besar, sekolah besar, tetapi cabang dan ranting mati suri.

Ketika ada Pimpinan Cabang dan Ranting membutuhkan bantuan, jangan sampai ada pimpinan AUM merasa menyumbang Muhammadiyah.

Lebih parah lagi, ketika ada pimpinan ortom Ikatan Pelajar Muhammadiyah (IPM), Ikatan Mahasiswa Muhammadiyah (IMM), dan lain-lain membawa proposal kegiatan dianggap “pengemis proposal”. Ini tidak benar.

Itu salah besar. Sudah semestinya AUM membesarkan cabang dan ranting, bahkan seluruh aktivitas Muhammadiyah di seluruh level dan di mana saja.

Jika dahulu para pimpinan membesarkan AUM, kini AUM yang membesarkan Muhammadiyah.

Bagi AUM yang sudah besar dan mandiri, selain menyejahterakan guru, dosen, dan karyawan, kini sudah seharusnya AUM menghidupi Muhammadiyah.

Itulah Muhammadiyah yang menghidupi. Muhammadiyah yang menghidupkan. Muhammadiyah menjadi rahmat (memberi kebaikan nyata) bagi semesta.

Baca Juga:  Harta Bukan untuk Berbangga dan Ria

Seluruh manusia, lebih-lebih anggota, pimpinan, simpatisan, termasuk kader-kadernya dihidupi oleh Muhammadiyah.

Buya Syafii Maarif dalam “Resonansi” HU Republika (25 Agustus 2020) pernah berkata bahwa jangan sampai ada kader yang kurang gizi dan terlantar: “Hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup dalam Muhammadiyah. Namun, bagi kader yang belum mapan secara ekonomi, tidak boleh dibiarkan kekurangan gizi”.

Pesan menghidupi Muhammadiyah lahir dalam konteks perintisan Amal Usaha Muhammadiyah (AUM). Kini, AUM sudah besar. Selain sebagai (1) layanan publik, (2) dakwah, dan (3) kaderisasi, sebaliknya AUM yang sudah mandiri justru berfungsi “menghidupi Muhammadiyah”.

Untuk itu, para pegawai Muhammadiyah seyogianya menjadi turut menghidupi Muhammadiyah dengan dua makna.

Pertama, secara tidak langsung, bekerja profesional membesarkan institusi AUM bagian dari menghidupi dan membesarkan Muhammadiyah. Kedua, secara langsung, aktif berorganisasi menjadi pimpinan Muhammadiyah di level mana saja sesuai dengan minat dan kapasitas.

Pencari hidup di Muhammadiyah

Selama ini, tuduhan mencari hidup di Muhammadiyah sering dialamatkan pada pegawai AUM. Padahal, mereka bekerja sesuai dengan kompetensi dan keahlian masing-masing.

Hal itu perlu diluruskan. Hubungan Muhammadiyah dan pegawai itu justru timbal balik: bukan mencari hidup.

Pegawai itu bekerja punya hak dan kewajiban, sedangkan Muhammadiyah memastikan pegawainya sejahtera, bahagia, dan damai hidupnya. AUM tidak akan besar jika tidak memiliki pegawai yang profesional dan dedikasi tinggi.

Padahal, perilaku mencari hidup di Muhammadiyah tidak hanya terjadi di AUM. Namun, bisa terjadi pada siapa saja—pimpinan, kader, atau warga Muhammadiyah maupun aktivis ortomnya—yang menjual Muhammadiyah untuk memperkaya dirinya.

Baca Juga:  Berantas Stunting dan Anemia, PWA Jabar Bersama ABS Bandung Gelar Aksi Bergizi

Meskipun tidak hidup dari AUM, sama saja namanya mencari hidup dari kebesaran nama Muhammadiyah. Bentuk menjual Muhammadiyah itu bisa bermacam-macam: bisa sikapnya, suara warganya, kebesaran tokohnya, dan sebagainya.

Fenomena mencari hidup di Muhammadiyah bisa terjadi saat Pemilu dan Pilpres. Dukung mendukung menggunakan nama atau institusi resmi Muhammadiyah.

Padahal, kebijakan Pimpinan Pusat Muhammadiyah membebaskan pilihan politik seraya melarang mendukung atas nama atau menggunakan struktur, atribut, dan simbol Muhammadiyah.

Di sinilah para kader diuji untuk menempatkan posisi Muhammadiyah sebagaimana mestinya. Menjaga marwah, tidak merugikan organisasi, dan berpegang pada khitah Muhammadiyah.

Predikat pencari hidup di Muhammadiyah juga bisa berlaku untuk siapa saja kader Muhammadiyah yang mendapatkan jabatan publik atas rekomendasi dan modal sosial Muhammadiyah.

Jangan merasa tinggi hati karena tidak di AUM lalu berkata dengan jumawa, “Saya tidak pernah makan uang dari Muhammadiyah”. Jadi, sejatinya sama saja hidup dari Muhammadiyah.

Jadi, baik di AUM maupun di jabatan publik, keduanya berpeluang “mencari hidup di Muhammadiyah” dan pada saat yang sama berpeluang untuk “menghidup-hidup Muhammadiyah”.

Semua bergantung pada komitmen seorang kader kepada etika kemuhammadiyahan. Oleh karena itu, semangat menghidupi Muhammadiyah harus menjadi pegangan para pengikut dan pelanjut perjuangan Muhammadiyah. Pesan ini harus menjadi kompas etika dan semangat dalam bermuhammadiyah.

*Azaki Khoirudin, Sekretaris Majelis Pembinaan Kader dan Sumber Daya Insani Pimpinan Pusat Muhammadiyah

___

Sumber: Majalah SM edisi 01-15 April 2024

PMB UM Bandung