Menengok Villa Isola dan Gaya Art Deco yang Penuh Sejarah

oleh -
Villa Isola atau rektorat UPI saat ini. (Ayobandung.com/Cicin Yulianti).

BANDUNGMU.COM – Saat berkunjung ke Univesitas Pendidikan Indonesia, pastinya mata kita disuguhkan dengan beberapa gedung fakultas yang memiliki ciri khasnya masing-masing.

Tak seperti gedung yang lain, gedung rektorat kampus yang dahulu bernama IKIP ini merupakan peninggalan bangunan heritage di masa Belanda.

Bangunan tersebut dulunya bernama Villa Isola yang merupakan tempat tinggal mewah seorang hartawan asal Belanda, yakni Dominique William BerettyHari ini, Villa Isola tersebut sudah dinamai Bumi Siliwangi atau rekorat UPI.

Hal yang tak kalah menjadi sorotan selain sejarah tentang gedung Isola ini yakni gaya arsitekturnya yang khas. Mengutip dari Jurnal Kajian Arsitektur berjudul Tinjauan Furnitur Art Deco pada Villa Isola yang ditulis oleh Saryanto dan Riza Septriani Dewi, berikut beberapa fakta unik mengenai gaya arsitektur Villa Isola:

Gaya Art Deco-nya

Gaya Art Deco muncul di sela perang dunia I dan II. Pada saat itu, arsitektur Art Deco ini dipakai dalam bidang interior, eksterior, patung, hingga perhiasaan. Gaya Art Deco ini sendiri mudah diterima masyarakat Indonesia karena memiliki kesamaan dengan gaya arsitektur pada candi atau rumah tradisional Indonesia.

Selain pada tampilan gaya Art Deco ini yang mencampurkan gaya arsitektur tradisional dan modern, gaya Art Deco memiliki filosofi tersendiri. Gaya Art Deco dipengaruhi oleh beberapa aliran seperti Kontruktivisme, Futurisme, dan Kubisme juga dipengaruhi oleh model bangunan kuno Mesir, Siria, dan Persia.

Art Deco pada furnitur Villa Isola

Pada dasarnya, bangunan Art Deco lebih mengedepankan nilai ekstetika daripada fungsional. Beberapa furnitur Art Deco yang ada di dalam Villa Isola rata-rata diletakkan di tengah ruangan. Alasan furnitur Art Deco tidak diletakkan menyender ke dinding karena dinding sendiri memiliki nilai estetika untuk diperlihatkan.

Gaya Art Deco pada furnitur yang diperuntukkan untuk kalangan bangsawan ini bisa dibuktikan dari ukuran sofanya yang besar. Maknanya adalah hanya orang-orang berkelas yang bisa membeli benda-benda seperti itu. Hal tersebut menjadikan nilai fungsional kalah dibandingkan ukuran benda dalam gaya Art Deco ini.

Kondisi terkini furnitur Villa Isola

Tidak banyak yang tahu dan bisa masuk ke dalam Villa Isola untuk melihat sendiri bagaimana kondisi ruangannya. Hal yang memprihatinkan adalah bahwa pada saat ini gaya Art Deco pada furnitur sudah tidak ada lagi. Pergantian rektor membuat isi dari rektorat menjadi berubah.

Faisal, mahasiswa UPI, yang kerap mondar-mandir ke dalam Villa Isola atau rektorat UPI ini mengiyakan hal tersebut. Menurutnya, beberapa furnitur yang bergaya Art Deco sudah tidak terlihat. Ia hanya melihat ruangan-ruangan di dalamnya digunakan sebagai ruang kerja.

“Isinya seperti villa. Kamar-kamar gitu. Tetapi sekarang dipakai untuk kantor ruangan-ruangannya,” ujar Faisal, Senin (12/07/2021).

Saryanto dan Riza dalam jurnalnya mengharapkan pihak UPI bisa menjaga nilai estetika dan historis pada gedung ataupun furnitur-furnitur yang ada di dalam ruangan Villa Isola.

“Pihak UPI pun seharusnya lebih peduli pada Villa Isola atau Bumi Siliwangi sehingga masyarakat Bandung tidak kehilangan salah satu bangunan bersejarahnya,” terang Saryanto dan Riza dalam jurnalnya.

Penulis: Cicin Yulianti, Sumber: Ayobandung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *