Mengapa Kita Tetap Butuh Toko Buku?

oleh -
Foto : Toko Buku Gramedia Maumere.(KOMPAS.COM/NANSIANUS TARIS)

BANDUNGMU.COM — Kapankah terakhir kali kita berdiri di depan rak sebuah toko buku sambil membaca judul satu per satu dengan hati bahagia dan penuh ketika melihat ada karya terbaru penulis kecintaan, seperti Alice Munro atau Orhan Pamuk?

Atau, kapankah merasakan bergairah ketika menemukan novel grafis terbaru yang gambar serta warnanya menyembuhkan mata yang lelah?

Untuk saya: Maret 2020, tepat setelah pengumuman bahwa pandemi sudah masuk ke Jakarta.

Dari yang seminggu sekali mampir di toko buku sampai yang absen setahun dan hanya memesan melalui online.

Sejak Maret 2020, hidup di Indonesia (dan dunia) berubah di semua lini industri, termasuk kehidupan ekonomi para pecinta buku, penulis buku, penerbit buku dan toko-toko buku.

Ketika pengumuman Toko Buku Kinokuniya ditutup 1 April 2021, sebetulnya kita tahu ini salah satu bagian dari kesedihan di era pandemi yang tak menentu ini.

Bahwa masyarakat pembaca heboh mengirimkan komentar, foto kenang-kenangan, menulis utas betapa berjasanya toko buku ini padanya, dan para wartawan segera membuat berita “duka cita” ini mungkin merupakan bentuk keprihatinan sesaat.

Tutupnya sebuah toko buku, yang sebelumnya sudah terjadi pada Toko Buku Aksara Kemang, jaringan Toko Buku QB dan beberapa cabang Toko Buku Gramedia. Bagi saya, tutupnya sebuah toko buku adalah sebuah “kematian”.

Tentu saja, toko buku tersebut masih beroperasi di area A atau B (dalam hal ini, Kinokuniya Grand Indonesia masih tetap ada) dan selain itu mereka juga tetap melayani pembelian online, seperti juga toko buku lainnya.

Keresahan ini kami utarakan melalui chat. Kami di sini adalah kawan-kawan sesama pecinta buku dan host podcast “Kepo Buku” yang terdiri dari Rane Hafied (Bangkok), Hertoto Eko (Singapura), Steven Sitongan (Ambon), dan saya sendiri host podcast “Coming Home with Leila Chudori” di Jakarta.

Kami setuju, bagaimanapun sebuah kota (kecil atau besar) yang baik dan beradab adalah kota yang penduduknya memiliki dan akrab dengan perpustakaan, museum, dan toko buku.

Kami yang begitu mencintai buku sebagaimana halnya mencintai kehidupan lantas bersepakat membuat sebuah edisi khusus kolaborasi antara kedua podcast kami dengan tema “Mengapa Kami (atau mungkin tepatnya: Kita) Masih Membutuhkan Toko Buku.”

Kami sama-sama mengenang bahwa toko buku adalah sesuatu yang penting sejak masa kecil kami. Saya sendiri di tahun 1970-an hampir setiap bulan mampir di toko buku Gung Agung, Gunung Mulia dan sebuah toko kecil yang menyediakan komik wayang yakni Green Shop di Kawasan Roxi.

Toko buku kecil di masa itu memang harus ada karena merekalah yang menyediakan buku-buku komik yang jarang tersedia di toko buku besar.

Hertoto Eko mengingat toko buku Al Amin di Kramat Jati karena “yang melayani mempunyai pendekatan personal, dia tahu apa yang dijual dan ingat setiap pembeli,” kata Hertoto. Lebih menarik lagi, “Toko buku kecil semacam ini menyediakan sampul.”

Maka dengan sendirinya, setelah dewasa, setelah reformasi, toko buku besar impor seperti Kinokuniya, Aksara, QB maupun toko buku lokal seperti Gramedia dan buku independen seperti Post Santa dan Transit di Pasar Santa menjadi bagian dari titik perhentian setiap kunjungan pencarian buku.

Tentu saja toko buku di Jakarta, atau kota-kota lainnya, belum menyediakan atmofir yang ideal seperti katakanlah toko-toko buku di negara Barat yang menyediakan sofa atau kursi-kursi di mana kita bisa tetap duduk, memilih buku, bahkan memesan kopi dari kafe di pojok, sembari merasa aman, nyaman dan terlindungi dari keriuhan dan pragmatisme di luar tokomu.

Suasana di toko buku semacam The Elliot Bay Book Company di Seattle, yang menjadi satu toko buku independen yang memiliki sosok Rick Simonson sebagai kurator yang mengundang begitu banyak penulis terkemuka seperti Kazuo Ishiguro, Arundhati Roy dan Michael Ondaatje; atau rasa harum buku dan sejarah panjang Shakespeare & Co di Paris; atau rasa rumahan Toko Buku Wild Detectives di Dallas karena pemiliknya adalah fans novel “The Savage Detectives” karya Roberto Bolaño masih cita-cita panjang para pecinta buku Indonesia.

Toko Buku Wild Detectives kurang lebih mengingatkan saya pada suasana di toko buku dan kafe Kineruku di Bandung.

Lalu apa penyebab beberapa toko buku tutup, selain ekonomi yang memang melorot di masa pandemi? Menurut Steven Sitongan yang sehari-hari mengelola toko buku Ksatria Buku di Ambon, “Salah satunya tentu saja penyewaan space yang mahal. Ditambah lagi karena pandemi yang menyebabkan pengunjung jadi khawatir untuk datang dan berkerumun.”

Steven mengaku selama pandemi, dia juga banyak melayani keinginan pembaca melalui online dan buku dikirim ke alamat pembeli. “Toko Buku tetap buka, tetapi pengunjung tentu saja berkurang,” katanya.

Tetapi seperti dikatakan Hertoto, kalaupun tak ada pandemi, dia merasa toko buku di Jakarta, tidak terlalu penuh sebagaimana pembeli yang antre seperti ular di Kinokuniya Singapura dan Bangkok. “Di sana kita harus sampai bersenggolan dengan calon pembeli lainnya.”

Dan, tentu saja kami berempat saling berdebat masalah mengapa toko buku harus hilang satu per satu.

Meski debat kami terasa seperti gurauan di warung kopi virtual karena kami melakukannya antar 4 kota, 3 negara, namun ternyata kami mempunyai cita-cita yang sama: membangun sebuah toko buku kecil.

Steven Sitongan, yang paling muda dan milenial di antara kami langsung mewujudkan cita-citanya.

Adapun tiga lainnya kebanyakan “perhitungan”. Rane Hafied, misalnya, seorang kreator konten di agensi iklan Bangkok mengaku sibuk bekerja, sehingga cita-citanya mendirikan buku masih berupa impian.

“Saya ingin sekali membuat toko buku yang berisi buku-buku anak-anak yang membesarkan generasi saya, macam karya Laura Ingalls Wilder, Winnetou, dan seterusnya,” kata Hafied.

Hertoto Eko, seorang Konsultan IT berbasis di Singapura, memilih mendirikan toko buku yang seperti butik, “Hanya buku alternatif dan kecil saja”.

Saya sendiri punya cita-cita ingin membangun toko buku kecil dan stationery serta mengadakan program diskusi sastra dan pemutaran film.

Satu-satunya yang sudah menjalankan cita-cita asyik ini hanyalah Steven yang mengingatkan bahwa langkah pertama bagi kami yang mundur-maju dalam mewujudkan cita-cita ini adalah: pikirkan lima judul pertama buku-buku yang menurut kalian harus dibaca masyarakat.

“Setelah itu, langsung hubungi penerbitnya. Dari sana, cita-cita akan bergulir…” katanya memberi saran.

Itulah yang dilakukan Steven ketika ia pulang ke Ambon, setelah lulus sarjana dari Universitas Gadjah Mada dan sulit memperoleh buku yang diinginkan di taman bacaan.

Hal lain yang akan membedakan toko buku independen dengan toko buku besar adalah: memberikan “staff recommendation” pada buku-buku yang mereka anggap keren. “Cukup berikan sebaris dua baris alasan, agar calon pembeli tertarik,” demikian kata Steven.

Kami, seperti juga Anda, berharap tidak akan ada lagi kematian demi kematian, karena buku dengan segala isi dan harum kertasnya adalah kehidupan. Karena itu, kami tetap membutuhkan buku dan toko buku.

Obrolan ini bisa Anda dengarkan di podcast Coming Home with Leila Chudori di Spotify dan Kepo Buku.

Penulis: Leila S Chudori, Sumber: Kompas.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *