UMBandung
Edukasi

Pada Era Matinya Kepakaran, Abdul Mu’ti Dorong PTMA Miliki Empat Kedaulatan

×

Pada Era Matinya Kepakaran, Abdul Mu’ti Dorong PTMA Miliki Empat Kedaulatan

Sebarkan artikel ini
Foto: muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM, Medan — Pada era matinya kepakaran, seperti yang disampaikan oleh Tom Nichols dalam bukunya “The Death of Expertise”, Sekretaris Umum Pimpinan Pusat (PP) Muhammadiyah Abdul Mu’ti minta Perguruan Tinggi Muhammadiyah-Aisyiyah (PTMA) kuatkan diri sebagai pusat kedaulatan.

Menurut Guru Besar Pendidikan Islam ini, pada era matinya kepakaran menyebabkan belajar dan berilmu tidak lagi penting.

Sebab kebutuhan akan informasi tentang apa pun dengan mudah didapatkan melalui gawai di genggaman tangan. Lebih-lebih saat ini didukung oleh Artificial Intelligent (AI).

“Matinya kepakaran dan berbagai temuan di berbagai bidang teknologi modern, AI, dan berbagai bentuk capaian-capaian yang algoritmis itu kadang-kadang orang merasa bahwa ilmu menjadi tidak penting karena dalam beberapa hal teknologi telah mampu menggantikannya,” kata Mu’ti di UMSU, Medan, seperti dikutip dari laman resmi Muhammadiyah pada Selasa (26/12/2023).

Baca Juga:  PD Muhammadiyah Kabupaten Subang Dirikan Klinik PKU Aep Saefullah

Sosok otoritatif seperti guru besar sudah tidak lagi dijadikan sebagai sumber rujukan karena mereka sudah tergantikan oleh “Profesor Google”.

Tidak perlu lagi membuka buku-buku tebal, sudah digantikan wikipedia. Namun, Mu’ti khawatir akan sumber rujukan dari Google karena sering akurasinya lemah.

Menyikapi realitas hidup yang seperti itu, Mu’ti menyebutkan bahwa PTMA memiliki tugas untuk berdaulat dalam empat hal.

Pertama, daulat dalam bidang ilmu. Kedua, kedaulatan bidang seni dan budaya. Ketiga, kedaulatan akhlak. Keempat, kedaulatan peradaban.

Baca Juga:  Ambasador Kebaikan: Lazismu Jawa Barat Gandeng Generasi Milenial Untuk Sebarkan Kebaikan di Masyarakat

“Ini saya kira menjadi tantangan yang sangat besar sekarang ini karena banyaknya kritik. Sekarang banyak orang yang pintar, tetapi keblinger (red: sesat). Sekarang banyak sekali orang yang menjadi intelektual, tetapi intelektual tukang,” ungkap Mu’ti.

Intelektual tukang, sambung Mu’ti, adalah intelektual yang melakukan pekerjaan tidak sesuai dengan proporsinya.

Dia mencontohkan dengan sosok intelektual yang melakukan survei untuk memenangkan pasangan calon tertentu. Ada juga intelektual tukang yang mengerjakan suatu proyek gagal karena ada anggarannya tetap dikerjakan.

Baca Juga:  Mahasiswa Muhammadiyah Gaungkan Teknik Shaping untuk Terapi Anak Berkebutuhan Khusus

“Karena itulah maka para profesor, para guru besar, sejatinya adalah mereka yang menjadi pendekar, menjadi benteng ilmu, benteng seni dan budaya, benteng akhlak, dan benteng peradaban,” imbuh Mu’ti.

Abdul Mu’ti juga mewanti-wanti supaya dalam dunia akademik untuk senantiasa menjunjung tinggi kejujuran. Sebab kejujuran adalah segala-galanya.

Kejujuran ini harus menjadi prinsip bagi intelektual. Oleh karena, dia berharap guru besar menjadi agen pencerahan bagi masyarakat luas.***

Seedbacklink