Sosbud

Penjelasan Ahli Soal Perbedaan Zionis dan Yahudi

×

Penjelasan Ahli Soal Perbedaan Zionis dan Yahudi

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi (Pixabay)

BANDUNGMU.COM — Beberapa waktu yang lalu politisi Amerika Serikat Nikki Haley mengatakan bahwa bahwa anti-zionisme adalah antisemitisme (anti-zionism is antisemitism).

Mengatakan bahwa antisemitisme adalah anti-zionisme merupakan cara Haley untuk mengkomunikasikan gagasan bahwa orang Yahudi menurut definisinya adalah zionis.

Menanggapi hal di atas, pengamat Timur Tengah Muhamad Rofiq Muzakkir menegaskan bahwa penting untuk memahami perbedaan antara zionisme sebagai ideologi politik dan agama Yahudi sebagai keyakinan keagamaan.

Menyamakan keduanya adalah suatu kesalahan yang serius dan merugikan pemahaman yang lebih mendalam tentang konflik Israel-Palestina.

“Menyamakan antara zionisme (ideologi imperialisme) yang bertanggung jawab atas kejahatan terhadap Palestina dengan agama Yahudi adalah satu falasi yang sangat serius,” ucap Sekretaris Umum Majelis Tarjih dan Tajdid PP Muhammadiyah ini seperti dikutip dari muhammadiyah.or.id pada Jumat (10/11/2023).

Zionisme adalah sebuah gerakan politik yang bermula di abad ke-19 yang bertujuan untuk menciptakan negara Israel di tanah yang saat itu dikuasai oleh Kekaisaran Utsmani.

Ideologi ini memiliki akar dalam aspirasi nasionalis Yahudi untuk memiliki tanah air mereka sendiri. Namun, penting untuk dicatat bahwa zionisme sebagai gerakan politik tidak mewakili semua orang Yahudi.

Baca Juga:  Universitas Muhammadiyah Bandung Gelar Wisuda 288 Lulusan Secara Daring

Mengutip Ilan Pappe, Rofiq menyebut bahwa menyamakan Yahudi dengan zionis merupakan mitos yang sengaja dibuat oleh para cendekiawan zionis agar mendapatkan simpati dunia.

Zionisme sebagai sebuah gerakan etno-nasionalis, banyak dipengaruhi oleh paradigma imperialisme Eropa.

Pappe menyebutnya sebagai gerakan kolonial perebut tanah secara permanen (settler colonial movement) yang memiliki kesamaan dengan gerakan kolonial yang sama di berbagai bagian dunia seperti di Amerika, Afrika Selatan, Australia, dan Selandia Baru.

Rofiq mengatakan bahwa banyak Yahudi dari berbagai aliran, mulai dari ultra-ortodoks hingga reformis, yang memiliki pandangan kritis terhadap zionisme dan kebijakan Israel terkait Palestina.

Mereka menganggap zionisme sebagai perwakilan politik yang tidak mewakili keyakinan agama Yahudi.

“Sejak munculnya gerakan zionis sampai hari ini, ideologi ini terus dikritik oleh kalangan Yahudi sendiri, mulai dari aliran ultra orthodox sampai reformist. Hari ini, di antara para penolak zionisme dan aneksasi Israel terhadap Palestina yang paling keras, adalah orang-orang Yahudi sendiri,” ungkap alumnus Arizona State University ini.

Baca Juga:  SD Muhammadiyah 3 Bandung Optimis Menatap ANBK

Menurut Rofiq, organisasi seperti Jewish Voice for Peace adalah contoh dari gerakan Yahudi yang menolak zionisme dan mengadvokasi perdamaian dan hak asasi manusia di Israel-Palestina.

Mereka telah melakukan aksi-aksi demonstrasi dan advokasi yang signifikan di Amerika Serikat dan di seluruh dunia.

Selain itu, sejumlah tokoh intelektual seperti Noam Chomsky, Ilan Pappe, Norman Finkelstein, dan Gilad Atzmon adalah orang-orang Yahudi dan memiliki pandangan anti-zionisme.

Mereka memberikan sudut pandang yang kritis terhadap kebijakan Israel dan zionisme dalam kerangka hak asasi manusia dan keadilan.

Mengapa kolonialisme mesti dilawan?

Rofiq mengatakan bahwa kolonialisme dan imperialisme adalah bentuk kezaliman yang bertentangan dengan fitrah kemanusiaan.

Manusia memiliki naluri bawaan untuk menentang penindasan dan kezaliman.

Oleh karena itu, menentang kolonialisme bukan hanya sebagai suatu kewajiban moral, melainkan sebagai sebuah tindakan yang sesuai dengan kodrat manusia.

Baca Juga:  Kisah Perajin Truk Mini, Jatuh Bangun Melawan Rantai Niaga yang Menindas

“Mengapa kolonialisme dan imperialisme mesti kita lawan? Karena fitrah manusia itu membenci kezaliman. Jadi, kita menolak kolonialisme semata-mata karena kita adalah manusia,” tutur Penulis buku “Dekolonisasi: Metodologi Kritis dalam Studi Humaniora dan Studi Islam” ini.

Fitrah ini, kata Rofiq, juga tercermin dalam pembukaan UUD 1945 Indonesia.

Pembukaan UUD 1945 secara tegas menyatakan penolakan terhadap kolonialisme dengan kata-kata yang sangat bertenaga:

“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan perikemanusiaan dan perikeadilan.”

Dari sudut pandang agama, tambah Rofiq, kolonialisme dan imperialisme juga dianggap sebagai perilaku tirani yang bertentangan dengan prinsip-prinsip iman kepada Allah SWT.

Islam mengajarkan nilai-nilai keadilan, persamaan, dan kepedulian terhadap sesama manusia dan lingkungan.

Penindasan yang dilakukan oleh kolonialisme dan imperialisme merupakan pelanggaran terhadap nilai-nilai paling asasi dalam agama Islam.***