Selamat Jalan Kang Jalal

oleh -
kang-radea

Dr. Radea Juli A. Hambali, M.Hum
Wakil Dekan I Fakultas Ushuluddin (FU) UIN Sunan Gunung Djati Bandung

BANDUNGMU.COM – Bagi saya mungkin juga bagi yang lain, Kang Jalal adalah sosok yang “menghipnotis”. Dia memiliki kekhasan dalam berkomunikasi dan “keunikan” dalam caranya menyampaikan pikiran-pikirannya.

Saya ingat, ada seorang teman, mencoba untuk menjadi seorang epigon dalam cara bertutur Kang Jalal. Tentu saja, dia tak berhasil, hanya sekadar mirip saja!

Melampaui sekadar tokoh yang memiliki kekhasan dalam cara berkomunikasi, Kang Jalal adalah salah satu Guru saya.

Dulu, di tahun 90an saya dengan beberapa teman pernah “mondok” di Pesantren Muthahari untuk mempelajari filsafat.

Penelanjang Pikiran Filsuf

Di tangan Kang Jalal, tak ada pemikiran filsafat yang berat. Tak ada filsuf yang tak bisa “ditelanjangi” pemikirannya. Dengan kemampuannya yang luar biasa, gagasan-gagasan “cadas” para filsuf dirubah menjadi hidangan dan pikiran-pikiran yang ringan, renyah dan bisa kami kunyah.

Tak jarang pikiran para filsuf disampaikan dengan cara yang bisa mengundang lucu dan memantik tawa.

Bukan tanpa resiko jika saya dan teman-teman mengidolakan Kang Jalal bahkan “mondok” untuk beberapa saat di Muthahari.

Semasa kuliah, ada tuduhan yang dialamatkan oleh salah seorang dosen, bahwa sebagian mahasiswa filsafat terpapar ajaran Syi’ah. Kami hanya tertawa.

Yes! kami mengidolakan kang Jalal karena keilmuannya. Kami menyukainya karena jika berkunjung ke rumahnya ruangannya dipenuhi oleh buku-buku. Dan saya suka melihatnya.

Sungguh! Saya pernah menangis tersedu ketika Kang Jalal membacakan doa kumail. Doa rintihan para pendosa. Doa permohonan seorang hamba untuk diampuni dan dicintai Tuhannya ketimbang dianugerahi kekayaan atau materi yang berlimpah.

Kabar meninggalnya kang Jalal cukup mengagetkan saya. Saya hanya bisa mengenang beliau sebagai Guru yang baik dan teman diskusi yang mencerahkan.

Guru yang membukakan mata untuk berlapang dada pada perbedaan, seekstrim apapun perbedaan itu.

Selamat jalan Kang, semoga Allah menyambutmu dengan tangan terbuka dan anugrah tempat yang mulia sebagai rumah terindah menuju kehidupan abadi.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *