Opini

Shaum Ramadhan, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?

×

Shaum Ramadhan, Benarkah Bisa Menghapus Dosa?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri*

Gegap gempita umat muslim menyambut kedatangan bulan suci Ramadhan. Salah satu di antaranya karena ada hari libur cuti bersama oleh pemerintah sebagai bentuk penghormatan terhadap akan menyambut hari dan bulan kehormatan umat muslim.

Konsekuensinya, memanfaatkan waktu libur menjelang shaum Ramadhan di beberapa titik daerah sangat ramai oleh pengunjung lokal dan regional. Alasannya sederhana menikmati makan dan minum siang bersama keluarga dan kolega sebelum dibatasi waktu saat bulan shaum tiba.

Hal lumrah saat menjelang bulan Ramadhan tiba, banyak ungkapan dan pernyataan, termasuk doktrin agama bertebaran di media sosial sebagai sambutan hingga kritik terhadap dinamika manusia dalam beribadah shaum.

Shaum di bulan suci, ada penjelasan dalam sebuah hadis, “Barang siapa berpuasa Ramadhan karena iman dan mengharap pahala (dari Allah), maka akan diampuni dosa-dosanya yang telah lalu” (HR Bukhari dan Muslim).

Hal demikian secara teks jelas bahwa yang shaum akan diampuni dosa-dosanya. Semoga saja, dosa kita yang telah lalu benar-benar diampuni.

Namun, tidak semudah itu dosa diampuni oleh Allah SWT. Ada sebuah proses perjalanan yang harus dilewati dengan ketentuan yang berlaku saat shaum Ramadhan.

Artinya, shaum yang dapat mengampuni dosa hanya shaum yang memenuhi syarat dan ketentuan shaum yang diterima oleh Allah SWT. Sebagian ulama menanggapi, khususnya An-Nawawi bahwa hadis tersebut dipahami menghapus dosa-dosa kecil saja, sedangkan untuk dosa besar ada tobat khusus.

Apa pun alasannya, titik tekan ajaran-Nya hal demikian menjadi bagian edukasi, spirit, dan motivasi bagi umat muslim dalam menjalankan ajaran agama. Setuju pendapat ulama fikih dalam memberi status hukum syariat pada posisi yang mendekati kebenaran.

Baca Juga:  Dari Mimpi Ibrahim ke Makna Sosial Kurban: Ibadah yang Menyatukan Langit dan Bumi

Shaum yang memenuhi kriteria dapat menghapus dosa. Khususnya mereka yang shaum dengan ketulusan dan keikhlasan tanpa cela selama satu bulan penuh. Bukan sekadar tamat tidak makan minum selama jadwal berpuasa dan juga tak pernah setitik noda pun keburukan yang diperbuat.

Itulah mereka yang semuanya bernilai menghapus dosa-dosa kecil. Sementara dosa-dosa besar bagaimana, hal itu serahkan semuanya kepada pemilik alam semesta, manatau Rahman-Nya memberikan kehendak yang diharapkan kita, istajib du’aana.

Bagi kita sebagai umat muslim hanya diminta untuk berupaya menjalankan ibadah, menjauhi yang dilarang. Jika kita melanggar akan ada konsekuensi yang didapatkan, baik itu dosa maupun siksa.

Keadilan-Nya tidak pernah atau mustahil diskriminatif. Kalam fiman-Nya selalu benar hingga membawa kebenaran hakiki. Sebagai makhluk-Nya jangan coba sesekali mengingkari ajaran-Nya.

Selain akan sesat menyesatkan diri sendiri juga akan membawa dampak buruk kepada orang-orang terdekat. Artinya, keburukan kita akan memberi kontribusi keburukan kepada lingkungan sekitar dan itu menambah panjang keburukan kita.

Sehingga tidak ada alasan apa pun, kita sebagai manusia, apalagi berikrar keimanan bahwa Islam sebagai agama atau ad-dien yang benar dan membenarkan untuk berupaya keras berbuat kebajikan di setiap langkahnya.

Hal itu akan ada konsekuensi sebuah balasan kebaikan yang bukan hanya berdampak pada diri, melainkan kepada orang lain di sekitarnya. Maka kebaikan yang diperbuat akan berdampak kebaikan kepada orang lain sehingga akan menambah nilai kebaikan selamanya saat nilai tersebut dimanfaatkan oleh orang ke orang lain secara berantai.

Balasan kebaikan adalah kepastian dan mutlak. Namun, juga jangan sesekali menghapus kebaikan dengan keburukan yang diperbuat. Justru, sebaliknya keburukan yang pernah dialami wajib disesali dan jika mampu dihapus dengan tobat nasuha.

Baca Juga:  Rektor UIN Sunan Gunung Djati Resmi Membuka Kegiatan Sertifikasi Pembimbing Manasik Haji dan Umrah

Ramadhan adalah momentum yang tepat, karena sebagai bulan suci penuh rahmat-Nya dan magfirah-Nya untuk berupaya keras menjalan shaum agar mendapatkan nilai tersebut.

Sehingga keburukan yang pernah diperbuat masa lalu dapat dihapus hingga bersih dan suci kembali. Minimal tidak terlalu kotor dan kusam dengan noda-noda dosa.

Dapat dikatakan, hampir mustahil manusia tidak berbuat keburukan di dunia ini, apalagi hanya sebagai manusia biasa bukan manusia pilihan-Nya.

Hadis di atas, yang menjelaskan dihapus dosa bagi yang berpuasa, semoga benar-benar dapat terjadi kepada kita semua yang sedang berupaya keras menahan hawa haus, dahaga, lapar, dan juga tak kalah lebih penting dari itu mampu menahan hawa nafsu untuk berbuat keburukan sekecil apa pun.

Kita yakin seyakin-yakinnya bahwa Allah Maha Pengampun segala hal keburukan yang diperbuat hamba-Nya. Dengan sekuat tenaga, untuk terus berupaya menjalankan kewajiban yang baik, hal itu pasti akan ada konsekuensinya.

Jelas dan tegas juga dalam ayat-Nya menjelaskan, “Sesungguhnya amal-amal kebaikan itu akan menghapuskan dosa-dosa.” (QS Huud: 114).

Jelas teksnya, itu firman-Nya sangat terang benderang, maka sebaiknya kita harus berupaya terus menerus untuk berbuat kebaikan di mana pun kita berada. Sekecil apa pun kebaikan, kita jalankan sepenuh hati terus menerus.

Tidak boleh putus asa. Jika lelah istirahatlah secukupnya. Segala sesuatu yang dikerjakan selama atas dasar kebaikan akan memberi kebaikan kepada diri dan orang lain.

Jangan ragu dan sungkan untuk berbuat kebaikan, terlebih kebaikannya berdampak kepada orang banyak. Biarkan mereka yang nyinyir, bukti mereka tak peduli pada sesama.

Baca Juga:  Dimulai Dari Shalat Berjamaah

Sekalipun hina pekerjaan yang diperbuat, dampak pekerjaannya banyak menyelamatkan banyak makhluk, maka di situ bukan kehinaan, melainkan kemuliaan.

Sebaliknya, sekalipun pekerjaan terpandang dan terlihat hebat manakala banyak berdampak buruk kepada banyak orang dan makhluk lainnya, maka hal itu merupakan pekerjaan yang hina dan menghinakan.

Jenis pekerjaan apa pun jangan dilihat dengan pendekatan visual kasatmata dengan tampilan memukau. Namun, harus melihat dengan mata hati dan ilmu pengetahuan yang objektif.

Begitupun saat beribadah, penuh khusyuk dengan ketenangan hati yang jernih agar apa yang dikerjakan semata-mata karena Allah Ta’ala.

Ramadhan ialah bulan suci penuh hikmah, banyak nilai yang didapat secara langsung saat menjalankan shaum dalam satu bulan penuh. Spirit keberagamaan paling puncak, ritualitas tingkat tinggi dalam rentang waktu satu tahun.

Jiwa dan raga berkontemplasi menyatu dalam satu ikatan keberimanan tauhidullah. Hal demikian berharap mampu membersihkan diri dari kotoran dan noda keburukan yang sulit dibersihkan selain bulan Ramadhan.

Umat muslim sadar betul, bulan-bulan selain Ramadhan tidak memiliki keistimewaan yang setara. Salah satu di antaranya, di bulan Ramadhan terdapat peristiwa satu malam mulia yang bernilai seribu bulan yang dikenal sebutan malam lailatulqadar.

Pada malam tersebut, seluruh umat muslim di mana pun berada dipastikan menunggu dan menjemput malam penuh mulia berharap diperoleh oleh setiap individu umat muslim.

Semoga dengan Rahman dan Rahim-Nya, kita pada Ramadhan ini mendapatkan satu malam penuh mulia yang dapat menyelamatkan dan sekaligus memberikan kemuliaan dunia akhirat. Amin. Wallahu’alam.

*Wakil Ketua PWM Jawa Barat dan dosen UM Bandung