Sudah 2 Abad di Bandung, Toko Herbal Babah Kuya Makin Laris Sejak Pandemi

oleh -
Kondisi toko Babah Kuya yang terletak di kawasan Pasar Baru Kota Bandung. Terlihat beberapa pegawai sedang memilah dan merapikan bahan-bahan herbal yang ada di toko. (Ayobandung.com/Jessy Febriani).

BANDUNGMU.COM – Indonesia yang memiliki tanah subur sudah sejak dulu terkenal dengan kepemilikan rempah dan herbal yang tumbuh subur di atas tanahnya. Hal ini membuat masyarakat terbiasa dan memiliki kepercayaan untuk mengonsumsi ramuan herbal tradisional saat sakit, maupun untuk dikonsumsi sehari-hari.

Masyarakat Bandung Raya juga tidak terlepas dari kepercayaan akan obat herbal ini. Toko-toko yang menyediakan obat herbal atau jamu tradisional, seperti toko Babah Kuya, selalu ramai didatangi pembeli.

Banyak masyarakat yang percaya, khasiat obat herbal lebih aman ketimbang obat dengan bahan kimia seperti biasanya. Hal ini menjadi salah satu alasan toko herbal Babah Kuya masih sibuk melayani para pembeli meski sudah lebih dari dua abad berdiri.

Sejak pandemi, makin banyak masyarakat mulai kembali mengonsumsi ramuan jamu herbal, khususnya untuk menjaga kesehatan tubuh. Kondisi itu seperti disampaikan oleh Hendra, pemilik toko herbal Babah Kuya juga merupakan generasi penerus kelima, mengaku penjualan obat herbal saat pandemi mengalami kenaikan.

“Lumayan ada kenaikan. Sekarang berhubung kena kendala (penutupan) jalan, jadi agak menurun sedikit,” terang Hendra saat ditemui di toko Babah Kuya di Jalan Pasar Barat, Andir, Kota Bandung, pada Rabu, 14 Juli 2021 yang masih mempertahankan gaya tradisional pada tokonya.

Saat memasuki toko, pengunjung akan disambut oleh bau rempah yang khas. Sejauh mata memandang ke dalam toko, terlihat berbagai macam tumpukan obat herbal kering yang masih berwujud utuh hingga yang sudah halus dan siap konsumsi. Menurut Hendra, obat herbal yang mulai dicari oleh para pembeli di tokonya adalah sambiloto.

Meski ramai pembeli, Hendra mengaku tidak kehabisan stok bahan herbal. Ia memasok bahan herbal dari seluruh Indonesia, tidak terkecuali dari negara asing seperti Cina. Meski begitu, Hendra mengaku lebih menyukai bahan herbal asli Indonesia, karena selain harganya yang terjangkau, khasiatnya pun tidak perlu diragukan.

“Lebih manjuran (herbal) dari Indonesia, harganya relatif murah, barangnya berlimpah, khasiatnya bagus lagi,” terang Hendra.

Salah satu pembeli yang juga langganan toko Babah Kuya, Hendry, mengaku selalu datang untuk mencari obat herbal karena di sini memiliki persediaan obat herbal yang lengkap. Sebelumnya, ia datang ke toko untuk mencari akar bajakah, salah satu obat herbal yang berkhasiat untuk pencegahan kanker.

“Ya (langganan), kalau lagi nyari-nyari obat herbal,” terang Hendry.

Jika pembeli yang datang ke toko tetapi tidak memiliki pengetahuan yang cukup akan tanaman herbal tidak perlu merasa khawatir. Hendra dan para pekerja toko biasanya akan memberikan rekomendasi sekaligus edukasi kepada para pembeli untuk memilih rempah yang tepat sesuai masalah yang dimiliki pembeli.

“Banyak di sana mah komplit, mau cari apa saja atau mau diracik sama dia (pekerja toko) juga bisa,” ungkap Hendry.

Memberikan rekomendasi sekaligus edukasi kepada pembeli tentunya menuntut Hendra untuk mengetahui setiap jenis dan manfaat herbal yang dimilikinya. Kuncinya adalah banyak membaca literatur-literatur ramuan dan obat herbal.

“Saya dari orang tua dulu. Saya dari kecil tinggal di sini (toko). Jadi dari kecil sudah tahu, ini (jenis herbal) buat apa, ini rasanya gimana, sudah tahu. Lihat dari buku-buku juga,” ucap Hendra.

Mulai Sepi Sejak PPKM Darurat

Toko Babah Kuya telah menjual obat dan ramuan herbal sejak tahun 1838. Segala jenis herbal tersedia di toko ini, mulai dari temulawak, hingga sambiloto yang saat ini banyak diburu masyarakat.

Selain dianggap lebih aman dan berkhasiat, ramuan herbal memiliki harga yang relatif terjangkau. Menurut Hendra, membeli ramuan herbal meski hanya sedikit namun dapat digunakan secara terus menerus karena dalam satu kali meramu hanya menggunakan sebagian kecil saja.

“Kalau beli macam-macam, Rp50 ribu atau sampai Rp100 ribu, tetapi kepakenya lama, sembuh lagi. Kalau yang kayak gini (obat herbal), jaba (mana) murah, jaba manjur,” terang Hendra.

Saat mengunjungi toko, terlihat beberapa pelanggan masih mengantri sambil berkonsultasi mengenai beberapa obat herbal. Padahal, sebagian besar jalan menuju ke kawasan Pasar Baru sudah ditutup akibat Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat atau PPKM Darurat.

Penutupan jalan dianggap cukup berpengaruh kepada penjualan obat herbal di toko Babah Kuya ini. Hal ini dikarenakan pembeli kesulitan untuk datang langsung ke toko.

“Orang mau kesini jadi susah, tapi nggak apa-apa kan masih bisa dikirim pake JNE, pesan online,” terang Hendra.

Sejak PPKM, Hendra selalu sibuk membalas satu persatu pesan WhatsApp dari pelanggannya. Para pelanggan yang membutuhkan obat herbal namun tidak dapat datang langsung ke toko akhirnya memesan dan konsultasi secara online.

“Jadi mereka pesannya lewat WA (WhatsApp), lewat JNE, kadang Gojek,” tutur Hendra.

Meski tokonya tidak seramai biasanya, Hendra mengaku tidak merasa keberatan dengan kebijakan pemerintah mengenai penutupan jalan di kawasan Pasar Baru ini. Meski jalan-jalan menuju toko ditutup, para pelanggan toko Babah Kuya tidak pernah kehabisan jalan untuk tetap memesan obat Herbal disana.

Penulis: Jessy Febriani, Sumber: Ayobandung.com

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *