UMBandung
Sosbud

Tradisi Ngabuburit Masyarakat Bandung Zaman Dulu

×

Tradisi Ngabuburit Masyarakat Bandung Zaman Dulu

Sebarkan artikel ini
Inilah Masjid Raya Bandung Provinsi Jawa Barat yang dahulu jadi lokasi favorit masyarakat Kota Kembang untuk ngabuburit menunggu waktu buka puasa (Foto: Istockphoto).

BANDUNGMU.COM – Menjelang datangnya waktu buka puasa, biasanya masyarakat khususnya di Bandung suka “ngabuburit”, baik di taman, di lapangan, maupun ke tempat-tempat menarik lainnya yang tidak begitu jauh dari rumah.

Meski saat ini orang sering berselancar di media sosial dan media hiburan begitu banyak, tetapi ngabuburit tetap masih dilakukan.

Ngabuburit secara nyata di luar rumah rasanya berbeda dengan rebahan kemudian hanya bermain media sosial.

Lantas seperti apakah ngabuburit warga Kota Bandung pada zaman dulu? Simak ulasannya yang dikutip dari buku “Jejak-Jejak Bandung” karya Atep Kurnia.

Kata ”ngabuburit” sudah menjadi bahasa Indonesia. Asalnya tentu dari bahasa Sunda, burit, yang artinya sore atau petang.

Dengan kata lain, sebagai representasi waktu yang menunjukkan mulainya malam hari. Ngabuburit berarti menunggu sore atau mengisi waktu hingga sore tiba.

Namun, kini artinya menyempit. Sekarang ngabuburit bermakna menunggu saatnya buka puasa.

Kini istilah ini seolah-olah menjadi tren di bulan puasa, yakni melakukan kegiatan sambil menunggu saatnya berbuka puasa. Tujuannya supaya puasa kita tidak terasa terlalu lama.

Selain itu, ngabuburit juga tidak mengenal batas umur karena dapat dilakukan oleh orang tua, anak muda, sampai anak-anak.

Biasanya ngabuburit dilakukan sekitar 1-2 jam sebelum waktu berbuka puasa.

Dulu

Dulu ngabuburit biasa dilakukan di luar ruangan. Coba baca karya Haryoto Kunto (1996). Di dalamnya ada satu bab khusus yang membahas tentang ngabuburit yakni “Ngabuburit Gaya Tempo Doeloe” (halaman 51-62).

Di situ ada beberapa kegiatan ngabuburit yang biasa dilakukan oleh orang Bandoeng tempo doeloe.

Ada yang mandi di Cikapundung; bermain di taman dan lapang; berperahu ria di beberapa situ yang ada di Bandung; dan bermain di sekitar Alun-alun Bandung.

Baca Juga:  Dilengkapi dengan Fasilitas Educare, Peserta Tak Perlu Risau Ikuti Muktamar dengan Khidmat

Dulu ketika air Cikapundung masih bersih, ketika jembatan Jalan Gereja (kini Jalan Perintis Kemerdekaan) belum ada, di bawahnya ada sebuah lubuk yang disebut Leuwi Pajati.

Di situlah, pada bulan puasa, orang ramai mandi atau ngabuburit, dengan berbagai cara: menangkap ikan atau bagi para pemudanya menyusuri Sungai Cikapundung sambil memancing belut (ngurek).

Selain bermain di Cikapundung, banyak juga masyarakat yang ngabuburit di taman dan lapangan.

Bagi yang hobi menonton sepak bola, bisa mengintip pertarungan sepak bola dengan gratis di lapang Javastraat (Jalan Jawa).

Atau bisa juga bermain di taman-taman: Jubileum Park (Tamansari), Insulinde Park (Taman Lalu-Lintas), dan Molukken Park (Taman Maluku).

Malah ketika anak-anak libur puasa, mereka suka ngabuburit ke Insulinde dan Molukken Park dengan membawa serta jaring dan ayakan untuk menangkap ikan.

Sebab di kedua taman itu terdapat saluran air dan kolam teratai yang banyak ikannya.

Selain itu, warga Bandung juga bisa mengisi acara ngabuburit dengan naik perahu di beberapa situ yang ada di Bandung.

Ada Situ Aksan. Ada juga Situ Bunjali atau Empang Cipaganti miliki Haji Sobandi. Di situ atau empang itulah warga yang ngabuburit sering menyewa perahu salimar.

Atau ada pula yang ngabuburit dengan menonton film di alun-alun. Selama bulan puasa, beberapa bioskop seperti Varia, Radio City, Oriental, dan Elita, khusus memutar film anak-anak.

Namun, nyatanya yang ikut nonton bukan hanya anak-anak kecil saja, melainkan yang tadinya mengantar juga ikut nonton.

Baca Juga:  Sulitnya Pelaku Seni Budaya di Masa Pandemi Covid-19

Di antara para pengantar bisa terjadi perkenalan yang kemudian dilanjutkan dengan kencan.

Senada dengan Haryoto Kunto, ada Sjarif Amin. Dala memoarnya (1983), Sjarif Amin pun membikin satu bab khusus mengenai ngabuburit (halaman 13-19).

Menurutnya, ada beberapa hal yang dilakukan masyarakat apabila hari menjelang buka puasa.

Petama, jalan-jalan sepanjang trotoar, melihat-lihat toko (laha-loho ka toko) atau melihat-lihat orang yang sama-sama sedang ngabuburit.

Anak-anak biasanya berkumpul di sekitar alun-alun. Bermain sambil menunggu dinyalakannya meriam sebagai tanda buka puasa.

Meriam tersebut jumlahnya dua. Biasanya hanya bulan puasa dinyalakannya.

Selain itu, anak-anak Bandung tempo dulu juga sering menonton film khusus anak-anak (Kindervoorstelling) di bioskop.

Film biasanya diputar pada hari Sabtu atau Minggu pagi. Sementara itu, untuk remaja ada bioskop eerste voorstelling dan twede voorstelling.

Biasanya eerste voorstelling usai ketika bubar tarawih. Oleh karena itu, sering kali bertemu antara yang pulang dari bioskop dengan orang yang pulang dari masjid.

Sementara itu, selesainya twede voorstelling hampir berbarengan dengan usainya tadarus.

Ketika pulang sangatlah kontras: yang dari bioskop berjubal, sedangkan yang dari masjid bisa dihitung dengan jari.

Kini

Kini tradisi ngabuburit sudah berkembang begitu rupa. Anak-anak lebih senang bermain di rumah. Bermain gim misalnya.

Kalaupun pergi ngabuburit keluar rumah, anak-anak sekarang biasanya lebih suka mengunjungi berbagai tempat hiburan atau pertokoan.

Namun, bagi kebanyakan warga Kota Bandung, kegiatan ngabuburit lebih banyak dilakukan di pusat-pusat pertokoan.

Misalnya saja di Pasar Baru, Bandung Indah Plaza, Bandung Super Mal (kini Trans Studi Mall), kawasan Cihampelas, dan di beberapa factory Outlet di Bandung sebelah barat.

Baca Juga:  Tugu Juang Siliwangi, Simbol Rakyat Bandung Selatan Melawan Penjajah

Selain mal, warga juga banyak memilih menghabiskan waktu di tempat terbuka.

Misalnya seperti di lapangan atau di Gasibu, Monumen Perjuangan Rakyat Jabar, Lapangan Taman Makam Pahlawan Cikutra, Kawasan Jalan Dago, Kompleks Padjadjaran Sports Center, dan juga Alun-alun Kota Bandung.

Ribuan orang tumplek di sana. Pilihan lainnya pasti alun-alun. Menjelang waktu berbuka puasa, alun-alun yang berada di pusat kota ini penuh sesak oleh orang-orang yang ingin berbuka puasa (takjil).

Selain dekat ke mana-mana, dekat dengan pasar, dan yang tidak kalah pentingnya adalah dekat dengan Masjid Agung.

Begitu selesai berbuka puasa, langsung bisa melaksanakan salat Magrib.

Sejumlah masjid juga menjadi pilihan bagi sebagian masyarkat. Misalnya, Masjid Al-Istiqomah, Pusdai, Masjid Raya Bandung, Masjid Salman, dan Masjid UPI.

Di sana mereka mengisi waktu ngabuburit dengan membaca Al-Quran, membaca buku agama, dan lain-lain.

Namun, pada intinya ngabuburit hanyalah aktivitas tambahan pada saat menjalankan ibadah puasa. Tujuannya agar kita tidak bosan menunggu saat berbuka puasa.

Yang disebut aktivitas tambahan tentu tidak boleh melampaui yang utama. Ajaran Islam memang tidak mengenal kata membuang waktu.

Selain itu, aktivitas ngabuburit warga Kota Bandung yang dilakukan di tempat terbuka dan hijau itu bisa jadi sebuah pertanda.

Tanda yang menjadi cerminan kerinduan warga akan lahan hijau. Oleh karena itu, semestinya hal tersebut menjadi perhatian pemerintah Kota Bandung.

Sudah saatnya lebih mengutamakan taman-taman kota dengan pepohonan, bukan gedung-gedung gigantik. Bukan dengan mal-mal.

Dengan demikian akan kembalilah julukan Bandung sebagai Kota Kembang itu.***

PMB UM Bandung