Oleh: Nurbani Yusuf*
Judulnya maulid: isinya tentang kisah karomah kakek buyutnya dan nasab yang dibanggakan. Bukan Nabi SAW, keluarga, dan para sahabatnya yang dijadikan teladan. Tapi perihidup para dzuriyah yang diragukan.
Mungkin karena itu merayakan maulid diharamkan karena Siroh Nabi SAW ditenggelamkan dengan kisah khurafat, tahayul, dan bidah.
Ada yang tegas melarang, membidahkan, bahkan haram kelahiran Nabi SAW dirayakan. Hujahnya jelas: Nabi SAW dan para sahabat salafus saleh tak pernah memberi contoh. Dalil umum yang biasa dipakai para penganjur purifikasi.
Di sebagian yang lain ada yang berlebih-lebihan merayakan kelahiran Nabi SAW: dongeng khurafat tahayul dan bidah menjadi pemanis perayaan maulid nabi dikemas dengan beragam cara.
Ironisnya bukan sirah Nabi SAW yang disampaikan, melainkan manakib para dzuriah yang mengaku cucunya berebut populer. Mulai dari mikraz 70 kali dalam semalam, padamkan api jahanam, berkirim surat kepada malaikat menghentikan azab kubur, dan puluhan cerita khurafat lainnya yang tak kalah seram.
Nabi SAW bersabda, “Janganlah kamu memberi penghormatan (memuji-memuliakan) kepadaku secara berlebihan sebagaimana orang Nasrani yang telah memberi penghormatan (memuji-memuliakan) kepada Isa putra Maryam. Aku hanya seorang hamba Allah, maka katakan saja hamba Allah dan Rasul-Nya.” (HR Al-Bukhari dan Muslim).
Yang dilakukan pengikut Isa AS adalah menganggap Isa bin Maryam sebagai Tuhan. Itulah kultus. Maulid Nabi adalah pengakuan bahwa Muhammad SAW adalah hamba Allah dan rasul-Nya. Itulah syukur.
Michael Heart orientalis Barat menulis jujur: Muhammad adalah tokoh nomor satu paling berpengaruh membentuk peradaban di dunia, mengalahkan puluhan tokoh lainnya.
Meski kemudian dipatahkan Arswendo Atmowiloto dalam survei penuh kontroversi: Nabi SAW berada di urut 17 di bawah raja dangdut Rhoma Irama dan Elvi Sukaesih–tokoh idola remaja di tahun 1987.
Survei ini sangat mengejutkan bahkan berbuah Arswendo harus mendekam di bui karena dianggap melecehkan Nabi SAW. Padahal ini adalah data akurat yang jujur untuk melihat realitas perspektif dan pandangan umat terhadap Nabi SAW. Tegasnya: Nabi SAW kehilangan popularitas.
Saat sekarang boleh jadi lebih mengerikan: sirah nabi kalah populer dibandingkan dengan drama Korea. Anak-anak lebih mudah menghafal nama dan ulang tahun artis Korea ketimbang tahun dan bulan kelahiran Nabi SAW.
Lee Menn Hoo, Chaa Eun Woo, dan Park Soo Joon telah mempengaruhi perilaku dan gaya hidup. Potongan rambut, pakaian, hingga makanan kesukaaan. Lihatlah betapa ramainya restoran Korea yang tumbuh menjamur ditongkrongi generasi z.
Lantas tanyakan kepada anak-anak kita, tetangga, dan kerabat kita: kapan Nabi SAW lahir, siapa saja keluarga nabi, tanyakan pula apa mereka bisa sebutkan putra-putri nabi, 10 sahabat nabi yang sering menyertai, belum lagi tentang perihidup dan akhlak Nabi SAW, baik dalam memulai berdakwah, suka, maupun dukanya.
Saya berani katakan bahwa sirah Nabi SAW tenggelam dan kalah populer dengan kisah khurafat dan tahayul dengan yang mengaku dzuriah Nabi SAW atau drakor.
Nabi SAW menjadi sosok asing, normatif, bahkan mungkin dianggap fiktif seperti dibilang Rocky Gerung beberapa tahun silam. Sirah Nabi SAW hanya hidup di kalangan tua yang udzur yang itu pun tidak semua bisa paham.
Lantas bagaimana dengan kondisi generasi muda kita? Saya berani katakan pula bahwa banyak orang salat dan puasa, tetapi tidak mengenal Muhammad SAW. Pergi haji dan umrah berulang-ulang tetapi tak mengenal Ibrahim AS sebab yang dikerjakan hanya berhenti pada ritual semata.
Merayakan maulid bukan kultus, melainkan ikhtiar mempopulerkan keteladanan Nabi SAW agar senantiasa hidup di semua lapis. Keteladanannya tersampaikan menjadi buah bibir dan lifestyle anak-anak muda dan semua generasi.
Maulid adalah momen memperbaharui niat berislam. Momen muhasabah dan berbenah. Tidak penting siapa yang mengawali. Tujuan itu yang utama. Saatnya umat Islam satukan niat satukan tekad untuk izzul Islam.
Di mana-mana umat Islam mengalami kekalahan karena berpecah belah jadi bahan tertawaan orang-orang kafir karena umat Islam tak mampu mempertahakan marwah Islam sebagaimana Nabi SAW dan para sahabatnya.
*Komunitas Padhang Makhsyar










