BANDUNGMU.COM, Bandung – Wakil Ketua Majelis Diktilitbang Pimpinan Pusat Muhammadiyah Jamhari Makruf menyoroti masih minimnya ilmuwan muslim yang berhasil meraih penghargaan Nobel.
Kondisi tersebut, menurutnya, menjadi pengingat bagi generasi muda muslim untuk terus belajar dan menghasilkan karya yang berdampak.
Hal itu disampaikan Jamhari saat memberikan pesan kepada wisudawan dan wisudawati dalam Wisuda Ke-9 Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung di Auditorium KH Ahmad Dahlan pada Sabtu (12/09/2026).
Jamhari mengajak para sarjana UM Bandung menjadikan ilmu yang diperoleh selama kuliah sebagai modal untuk berkembang.
Ia mendorong mereka tidak berhenti belajar meski telah menyelesaikan pendidikan sarjana.
“Teruslah belajar, jangan berhenti, agar suatu saat menjadi ilmuwan ternama dan bahkan bisa mendapatkan hadiah Nobel yang sangat prestisius,” ujar Jamhari.
Menurut Jamhari, pendidikan tidak berhenti ketika seseorang memperoleh gelar akademik.
Sarjana ataupun dosen tetap perlu membaca, belajar, dan mengembangkan pengetahuan sepanjang hayat.
“Siapa saja orangnya, sarjana apalagi dosen, berhenti belajar, apalagi berhenti membaca buku, maka itu tidak berguna sama sekali. Ilmu tidak boleh berhenti,” katanya.
Ia juga mengingatkan para wisudawan bahwa mencapai tahap kelulusan bukanlah proses yang mudah.
Oleh karena itu, Jamhari meminta mereka bersyukur kepada Allah SWT sekaligus menghargai dukungan orang tua, keluarga, dosen, dan perjuangan diri sendiri.
“Kalian harus bangga pada diri sendiri bisa berada pada titik ini. Tidak semua orang yang mendaftar kuliah itu bisa lulus seperti kalian hari ini. Oleh karena itu, banggalah kepada diri sendiri,” ujarnya.
Selain belajar, Jamhari mendorong para lulusan berani keluar dari zona nyaman untuk bekerja dan berkarya.
Ia mengutip syair Imam Syafii tentang pentingnya bepergian, bekerja, dan mencari ilmu.
“Bergerak dan bekerjalah karena sesungguhnya kenikmatan hidup itu ada pada bekerja. Oleh karena itu, sarjana UM Bandung jangan lupa untuk bekerja,” tuturnya.
Jamhari mengibaratkan orang yang tidak bergerak seperti air yang menggenang dan tidak memberikan manfaat.
Sebaliknya, kerja dan pergerakan dapat membuat seseorang lebih berkembang sekaligus memberi manfaat kepada orang lain.
“Kalau kalian hanya diam tanpa bekerja, maka itu tidak akan memberikan manfaat. Namun, kalau kalian bergerak dan bekerja, maka akan memberikan manfaat kepada orang lain,” katanya.
Oleh karena itu, ia mengajak lulusan UM Bandung berani bepergian, bekerja, dan terus mencari ilmu.
Menurutnya, bekal pendidikan yang diperoleh di UM Bandung sudah cukup menjadi modal untuk berkarya dan mengabdi.
“Berkelanalah, bekerjalah, mencari ilmulah, agar bisa memberikan manfaat untuk diri sendiri dan orang lain. Saya percaya bekal ilmu kalian yang sudah didapatkan dari UM Bandung sudah mumpuni untuk modal kalian menebar manfaat pada orang lain,” ujarnya.
Jamhari juga mengajak para sarjana menghidupkan Muhammadiyah melalui kontribusi nyata.
Ia mendorong mereka membangun karya dan usaha yang dapat membuka lapangan pekerjaan bagi masyarakat.
“Seperti pesan Kiai Ahmad Dahlan saat dulu mendirikan Muhammadiyah, yakni hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah. Artinya, kalau kalian sudah jadi orang, berilah manfaat pada orang lain termasuk Muhammadiyah,” ucapnya.
Menurut Jamhari, umat Islam masih menghadapi ketertinggalan dalam sejumlah bidang, termasuk ilmu pengetahuan dan bisnis.
Oleh karena itu, ia meminta para sarjana UM Bandung menjadikan belajar, bekerja, dan berkarya sebagai bagian dari ikhtiar untuk mengejar ketertinggalan sekaligus memperluas manfaat bagi masyarakat.***(FA)















