Oleh: Ace somantri — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Manusia dicipta ke alam dunia dalam posisi tidak memiliki pengetahuan. Namun, berangsur sejalan dengan waktu lambat laun berbagai peristiwa menstimulasi pancaindera manusia untuk menjadi objek sumber pengetahuan.
Penting kita yakini bahwa manusia ini makhluk yang memiliki awal dan akhir. Proses dan perjalanannya penuh dinamika.
Fisik manusia dibentuk oleh makanan dan minuman yang bergizi penuh nutrisi. Namun, bukan manusia kalau tidak mengalami turbulensi fisik yang disebut sakit.
Badan manusia sangat terbatas dari serangan benda dan makhluk lain untuk mengganggu. Sejatinya manusia harus bersyukur karena dibandingkan dengan makhluk yang lain, manusia dicipta sempurna dengan bentuk fisik yang baik (QS At-Tin: 5).
Badan dan fisik manusia ketika diserang makhluk lain itu bagian dari sunnatullah. Selain itu, dampak dari serangan itu juga ada yang mampu menahan serta ada yang tidak mampu menahan sehingga menimbulkan kondisi badan dan fisik sakit.
Ada hal yang dipahami betul terkait dengan sakit. Sebab dan akibat sakit fisik sebenarnya konsekuensi yang dilakukan oleh manusia itu sendiri atas kelalaian serta keteledorannya.
Selain sebagai tanda kita seorang makhluk yang dikenal makhluk fana (rusak), manusia memiliki hawa nafsu yang sering tidak terkontrol dalam berbuat sesuatu.
Kadang-kadang tidak menyadari serta merasa diri hebat, cerdas, dan kuat. Beraktivitas tidak dibatasi dan diatur secara baik dan benar sesuai dengan kaidah ilmu kesehatan.
Sakit badan pada manusia hakikatnya untuk mengingatkan pada dirinya bahwa tidak ada yang kuat abadi. Sebenarnya sakit itu bentuk kasih sayang Allah terhadap manusia.
Dengan sakit, manusia menyadari pentingnya untuk menjaga segala hal yang bisa membuat fisik jadi sakit. Ketika sakit, normalnya manusia pasti yang diingat adalah dosa dan kematian. Selalu seperti itu.
Ada sebuah pertanyaan ketika sakit sebagai bentuk kasih sayang Allah, lantas apa sikap balasan kita kepada Allah yang telah menyayangi kita?
Apakah meratapi dosa dan membayangkan kematian sudah bagian dari sikap bersyukur kepada Allah? Normalnya orang bersyukur akan kasih sayang Allah dihadapi dengan senyuman, bukan dengan ratapan dosa atau bayangan kematian.
Kasih sayang Allah kepada manusia tidak bisa dihitung pakai alat apa pun. Sekalipun memberikan sakit, tetapi kasih sayang-Nya tidak pernah berkurang.
Justru kadang-kadang manusia sendiri tidak tahu diri dan hawa nafsunya cenderung menguasai. Angkara murka menjadi sifat dan sikap yang kerap muncul dalam dada.
Merasa paling baik dan benar dalam bertutur kata, sedangkan yang lain dianggap terbata-bata. Merasa paling memahami agama, sedangkan yang lain biasa-biasa saja.
Merasa paling banyak harta, sedangkan yang lain di bawah rata-rata. Merasa paling hebat dan kuat, sedangkan yang lain lemah tak berdaya.
Bahkan kita sering erasa paling berkuasa, sedangkan yang lain kita angga sebagai rakyat jelata yang sengsara.
Padahal manusia ketika menghadapi malaikat maut, tidak bisa berbuat apa-apa, kecuali amal saleh kita di dunia yang menolong rasa sakit saat nyawa diambil oleh Allah yang Mahakuasa.
Sulit sekali untuk senyum bahagia ketika badan sakit. Yang ada kadang-kadang marah dan kesal. Egosentris manusia sering melampaui batas, yang tidak sejalan dengan pendapat dan gagasannya seolah-olah dia bukan kelompoknya.
Yang terbaik adalah orang-orang yang dekat dan menghamba kepada-Nya. Kemudian mengagumi-Nya, yang menghormati-Nya, yang menghargai-Nya, yang memuja dan memuji-Nya, dan yang menganggap dia orang yang hebat.
Ternyata sakit badan masih kita sadari karena ada wujud rasa sakitnya. Namun, hal yang lebih bahaya sakit psikis yang tidak disadari.
Perilaku merasa paling dari yang lain dan menganggap yang bersebarangan tidak lebih baik darinya, maka sangat dimungkinkan dia terindikasi sakit psikis dan itu keumuman yang tidak disadari.
Semoga kita tetap bersyukur ketika sakit badan dan fisik. Sebab, kasih sayang Allah itu mewujud dalam berbagai bentuk, satu di antaranya adalah melalui sakit.***











