Opini

Majelis Dikdasmen Konsolidasi Sekolah Muhammadiyah

×

Majelis Dikdasmen Konsolidasi Sekolah Muhammadiyah

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri — Wakil Ketua Pimpinan Daerah Muhammadiyah Kabupaten Bandung

BANDUNGMU.COM — Sejarah panjang Muhammadiyah di bidang pendidikan menjadi tren yang paling monumental. Hal itu sudah terjadi dari dulu hingga sekarang.

Puluhan ribu sekolah Muhammadiyah tersebar di seluruh pelosok Indonesia, termasuk di Kabupaten Bandung. Dinamika pendidikan cukup dinamis. Namun secara faktual masih banyak yang harus di-upgrade sesuai dengan kebutuhan hari ini dan hari esok yang akan datang.

Tantangan dan hambatan tidak akan pernah berhenti. Mereka silih berganti dengan banyak varian baru. Oleh karena itu, wajar persyarikatan melalui majelis terkait untuk rutin melakukan konsolidasi dan koordinasi memetakan berbagai permasalahan yang muncul serta yang tertunda belum terpecahkan.

Konsolidasi organisasi melalui Majelis Dikdasmen, bentuk dan cara untuk mengetahui perkembangan, sekaligus menjadi tantangan yang dihadapi. Cara dan solusi dibicarakan bersama sesuai dengan permasalahan yang dihadapi berdasarkan kadar kemampuan setiap sekolah.

Baca Juga:  Jejak Muhammadiyah dalam Emas Sepakbola SEA Games 2023

Majelis berperan sebagai mediator dan katalisator di antara sekolah Muhammadiyah di Kabupaten Bandung khususnya. Dikdasmen Muhammadiyah dengan program-program yang direncanakan harus mampu setahap demi setahap mengubah pola pengembangan sekolah Muhammadiyah dengan berbagai cara untuk mencapai pada visi dan misi yang telah dirumuskan.

Pada era global saat ini, sejatinya sistem pendidikan dasar dan menengah harus lebih peka terhadap perkembangan teknologi. Disadari atau tidak, tuntutan untuk beradaptasi dengan perkembangan teknologi digital menjadi suatu keharusan dan kebutuhan bagi seluruh sekolah Muhammadiyah.

Akselerasi untuk dunia karier guru pun sudah menggunakan perangkat teknologi. Kemudian perangkat pembelajaran media utama sudah harus menggunakan sistem perangkat lunak (software). Pola kontrol dan supervisi sekolah sebagian sudah paperless. Artinya sudah berbasis elektronik.

Baca Juga:  Menyoal Peran Orang Tua terhadap Anak di Era Digital

Era global dan digital memaksa semua kegiatan manusia masuk dalam ranah digital. Konsekuensinya sekolah Muhammadiyah yang di bawah binaan Dikdasmen juga harus segera secara perlahan bermigrasi dengan perangkat teknologi terbarukan.

Momentum konsolidasi yang dilakukan oleh Muhammadiyah Kabupaten Bandung yang diselenggarakan di SMK Muhammadiyah Majalaya, punya beberpa pesan, masukan, dan arahan dalam Forum Sekretaris PD Muhammadiyah, Heli Tohar Hilmy dan H. Maoshul Juara, yang menegaskan bahwa sekolah Muhammadiyah harus mengikuti kaidah-kaidah Majelis Dikdasmen yang telah ditentukan.

Tidak diperkenankan sekolah Muhammadiyah mengembangkan beberapa kegiatan pengembangan diri siswa dalam kepanduan selain Hizbul Wathan. Kegiatan bela dirinya pun harus Tapak Suci. Bagi pimpinan sekolah yang tetap melanggar kaidah persyarikatan, maka akan dipertimbangkan untuk diganti.

Baca Juga:  Bumi Menurut Ilmuwan Muslim

Selain komitmen menjalankan kaidah persyarikatan, sekolah Muhammadiyah dalam forum rapat dan konsolidasi dikdasmen daerah, cabang dan kepala-kepala sekolah Muhammadiyah ada perhatian yang harus mulai ditekankan.

Salah satunya penguatan pengembangan usaha milik sekolah dan digitalisasi sekolah, yakni semua sekolah Muhammadiyah mampu bersaing dengan sekolah lain secara mandiri. Dengan keterbatasan yang dimiliki sekolah Muhammadiyah pada umumnya, khusus di Kabupaten Bandung, berkaitan dengan standar pembiayaan.

Namun, dengan pola dan model berjamaah sangat mungkin untuk memiliki platform teknologi minimal yang dapat dijadikan media pengembangan sekolah sehingga tidak tertinggal jauh dengan sekolah yang sudah lebih dulu terbiasa dengan perangkat teknologi.***