Menyoal Peran Orang Tua terhadap Anak di Era Digital

oleh -
Ilustrasi interaksi orang tua dan anak dalam proses pendidikan di keluarga. (Foto: ladiestory.id)

BANDUNGMU.COM – Anak merupakan sebuah anugerah yang diberikan Allah SWT kepada sepasang suami-istri. Hadirnya anak pada kehidupan merupakan hal yang sangat dinantikan oleh pasangan suami-istri. Bahkan mereka akan melakukan berbagai upaya untuk mendapatkan sang buah hati.

Hasil survei yang dilakukan lembaga nasional di Inggris mengungkapkan bahwa memiliki anak tidak semat-mata membuat seseorang bahagia atau lebih puas akan kehidupan. Namun, memberikan arti sebuah alasan untuk berjuang hidup.

Di samping itu, ada beberapa orang tua yang tidak menantikan hadirnya seorang anak. Mereka beranggapan bahwa anak merupakan beban hidup karena banyaknya kebutuhan yang harus dikeluarkan dengan biaya yang tinggi.

Kita bisa melihat Jepang yang kebanyakan wanita di negara ini tidak mau memiliki anak. Berbeda dengan Indonesia yang pertumbuhan penduduknya sangat tinggi sehingga pemerintah mengeluarkan program keluarga berencana (KB).

Program KB biasanya banyak diikuti oleh masyarakat kota, sedangkan masyarakat tradisional bisa dibilang sangat jarang atau sedikit yang melakukan program ini.

Mengapa masyarakat tradisional hanya sebagian kecil yang melakukan KB? Mereka beranggapan bahwa nilai seorang anak itu sangat tinggi. Anggapan itu dibuktikan dengan kenyataan jumlah anak dalam satu keluarga yang biasanya berjumlah lima bahkan sepuluh.

Hal ini pula yang akhirnya membuat pertumbuhan penduduk menjadi tinggi. Masyarakat tradisional pun banyak yang beranggapan bahwa banyak anak itu banyak rezeki. Selain itu, banyak juga masyarakat yang beranggapan kalau anak bisa membuat pekerjaan orang tua terasa lebih ringan karena dibantu oleh mereka.

Kurangnya pemahaman

Namun, saat zaman semakin canggih kita sulit menemukan orang-orang yang memiliki banyak anak. Masyarakat kota sebagian besar sangat memikirkan perihal pendidikan anak. Bagi mereka memiliki dua anak sudah cukup karena mengikuti program KB.

Semakin banyak anak maka semakin besar pula pengeluaran. Namun hal ini berbanding terbalik dengan kebanyakan masyarakat tradisional yang kurang memperhatikan perihal pendidikan untuk anaknya. Akhirnya, peran orang tua sangat kurang akan hak-hak anak yang seharusnya mendapatkan pendidikan atau bimbingan.

Tugas orang tua adalah membimbing dan mengajarkan anak kepada hal yang baik. Peran orang tua dalam membimbing serta mengajarkan anak sangatlah penting. Terlebih di era digital saat ini ketika berbagai informasi dan pengaruhnya yang tidak lagi bisa dibendung.

Orang tua yang kurang mampu dalam membimbing atau bahkan tidak membimbing anaknya akan membuat sang anak cenderung menyimpang dari norma-norma yang berlaku di masyarakat. Bahkan bisa menyimpang dari norma-norma agama.

Anak yang menyimpang dari norma-norma biasanya disebabkan oleh beberapa hal. Misalnya karena kurangnya kasih sayang dari orang tua, minimnya pendidikan agama pada sang anak, orang tua yang broken home, pergaulan bebas, atau kurangnya pengawasan orang tua.

Apabila hal tersebut terjadi pada anak, peran orang tualah yang kurang benar terhadap anak. Mengapa demikian? Penyebabnya bisa karena kurangnya komunikasi pada anak, kurangnya pengawasan, atau orang tua yang terlalu sibuk dengan urusannya sendiri.

Faktor tersebut akan membuat anak salah gaul. Anak akan bergaul dengan siapa pun dan mencari pergaulan atau lingkungan yang dirasa cocok dengan dirinya. Mencari tempat yang nyaman selain keluarga di rumah.

Apabila hal ini terjadi, maka bisa membuat perilaku anak menyimpang atau terjerumus ke dalam masalah besar. Misalnya masuk ke dalam pergaulan bebas, narkoba, geng motor, dan seks bebas yang sangat membahayakan masa depan anak di kemudian hari.

Biasanya anak yang mencari jati dirinya dengan cara salah seperti itu, mereka tidak memikirkan baik dan buruknya sesuatu hal tersebut. Namun, mereka akan lebih mencari mana hal yang membuat mereka nyaman sebagai pelarian.

Perilaku-perilaku di atas banyak terjadi pada zaman sekarang. Oleh karena itu, peran orang tua sangatlah penting terhadap anak. Pendidikan dan bimbingan kepada anak haruslah dilakukan oleh orang tua dengan ketat dan baik agar perilaku anak berada di jalur yang benar.

Peran orang tua dalam membimbing dan mengawasi anak bisa berbentuk membagi waktu antara pekerjaan dan anak (keluarga), menanamkan nilai dan norma pada anak yang sudah mulai luntur, dan senantiasa mengawasi anak.

Selain itu, orang tua juga sejatinya harus bisa menjadi sahabat sekaligus tempat curhat anak agar anak tidak bercerita pada sembarang orang. Kemudian sering-seringlah memberikan nasihat ataupun berbagi pengalaman untuk dijadikan pelajaran.

Perlu diingat juga bahwa selain dari orang tua di dalam keluarga, pendidikan di sekolah pun sama pentingnya untuk anak karena akan menambah wawasan anak menjadi semakin luas. Kolaborasi antara pendidikan dalam keluarga dan di sekolah.

Hal ini penting dilakukan agar anak tetap menjadi anak yang baik, potensi yang dimilikinya bisa tumbuh dengan bagus, dan masa depannya di kemudian hari bisa berjalan secara mulus. Wallahualam.***

Dinda Rizka Septiani, Mahasiswa Komunikasi Penyiaran Islam (KPI) UMBandung

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *