BANDUNGMU.COM, Bandung – Cita-cita yang paling ideal ialah muda punya karya. Mungkin hal itu tepat dilekatkan kepada tiga milenial yang inspiratif ini.
Mereka adalah Fauzi Zaki Razaq, Muhammad Farrel Nasrullah Iskandar, dan Detyani Aulia Malik. Fauzi dan Detyani merupakan alumnus MAN 1 Cianjur, sedangkan Farrel alumni SMK 1 Pasundan Cianjur.
Mereka berhasil menciptakan instrumental bel stasiun kereta api dari lagu-lagu daerah. Instrumental bel karya mereka yang terdahulu sudah digunakan oleh kurang lebih tiga puluh stasiun kereta api di seluruh Jawa Barat.
Adapun instrumen bel karya mereka yang teranyar, baru digunakan di tiga stasiun besar, yaitu Stasiun Padalarang, Stasiun Bandung, dan Stasiun Kiaracondong.
Lagu daerah yang diarasemen di antaranya ”sabilulungan”, ”manuk dadali”, ”karatagan pahlawan”, dan ”ayun-ayun ambing”. Lagu daerah ini tentu saja sangat akrab di telinga warga Jawa Barat.
Kerja sama
Karya kreatif mereka bermula dari salah satu kreatornya, Detyani, yang berpendapat agar instrumental bel karya Farrel sebelumnya bisa mandiri tanpa mengambil lagu dari platform youtube.
”Awalnya kepikiran takut kalau memakai lagu dari platform lain, dari Youtube, nanti kena mengenai hak cipta. Waktu itu karya kita belum pakai original instrument buatan sendiri,” kata Detyani kepada awak redaksi bandungmu.com, Senin 01 Maret 2021.
Setelah obrolan tersebut, Farrel pun berbicara dengan pihak Stasiun Daop 2 Bandung. Kemudian pihak stasiun akhirnya memberikan persetujuan terhadap ide perubahan dari mereka.
Proyek ini sebenarnya dari sebelum pandemi covid-19. Namun karena ketika itu stasiun tutup tiga bulan, akhirnya pada Juni 2020, barulah mereka ke Stasiun Kiaracondong, Stasiun Padalarang, dan Stasiun Bandung.
Karya ini, aku Detyani, dibuat bareng-bareng. Fauzi yang membuat instrumen. Detyani bertugas di bagian publikasi dan membuat video kemudian ikut memperbaiki instrumen yang dibuat Fauzi. Adapun Farrel yang membuat alatnya.
Setelah itu, instrumen bel karya mereka dipasang di stasiun besar tadi. Saat ini setiap hari untuk kedatangan ataupun kepergian kereta sudah pakai instrumen bel karya mereka.
Meskipun pemula, tetapi kemampuan Fauzi tidak bisa dianggap remeh. Dia sudah berhasil berkarya dengan menciptakan lagu angkatan di MAN 1 Cianjur.
”Pokonya sesudah di-acc sama Farrel, terus sama pihak stasiunnya, di situ saya ngobrol dengan Fauzi. Memang dia kan biasanya buat instrumen kaya gitu. Dia juga pencipta lagu angkatan di sekolah Cianjur, yaitu MAN 1 Cianjur. Dia sudah mahir di bidangnya. Jadi kita kerja sama bertiga gitu,” kata Detyani.
Diganjar penghargaan
Ketika karyanya dipakai PT Kereta Api Indonesia (KAI), Detyani dan kawan-kawan merasa senang sekali.
”Tujuan kami selain untuk mengabdi kepada PT KAI, yaitu untuk melestarikan kebudayaan daerah, khususnya di kalangan anak muda. Dan bisa memperkenalkan kembali lagu daerah walaupun hanya instrumennya gitu ya kepada masyarakat luas. Ya pastinya sangat bersyukur bisa diberi kesempatan oleh PT KAI untuk menyalurkan ide serta karya yang kami buat,” ucap Detyani.
Mereka bertiga sekarang sama-sama mengembangkan bakat masing-masing. Saat ini, Detyani sudah kuliah di Universitas Muhammadiyah Bandung (UMBandung) jurusan Ilmu Komunikasi semester dua. Di samping kuliah, gadis berhijab ini juga sedang menggarap podcast.
Sementara Fauzi saat ini kuliah di Institut Agama Islam Negeri (IAIN) Surakarta jurusan Akuntansi Syariah. Di samping itu, dia juga konsisten memproduksi instrumen-instrumen lagu kemudian di-upload ke instagram pribadi. Adapun Farrel sendiri sekarang bekerja secara freelance di PT KAI sambil tetap berkarya.
Berkat karyanya ini, mereka bertiga diganjar penghargaan oleh PT KAI atas dedikasinya membuat instrumen bel dengan lagu daerah untuk kedatangan dan keberangkatan kereta api. Selain itu, mereka juga diapresiasi PT KAI karena ikut melestarikan budaya daerah.***















