Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Tidak ada harta yang akan kekal kecuali ilmu, sebuah slogan dalam dunia pendidikan. Idealnya lembaga pendidikan mampu mempercepat perubahan ke arah yang lebih baik. Namun, nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan.
Sementara ratus ribu lembaga pendidikan, baik formal maupun nonformal, dari tingkat prasekolah hingga tingkat pendidikan tinggi menyebar ke seluruh pelosok negeri hingga ke pulau terluar negeri.
Tidak ada alasan untuk tidak berubah cepat. Apalagi 10 tahun terakhir penyebaran pendidikan tinggi pun banyak berdiri. Tujuannya tiada lain untuk pemerataan pembangunan sumber daya manusia Indonesia, dengan harapan bangsa ini menjadi bangsa beradab dan bermartabat.
Selain itu, dengan pendidikan yang pula seraya berharap bangsa Indonesia mampu bersaing dan tidak minder dengan bangsa lain dalam percaturan global.
Faktanya lain cerita, tenaga kerja pun didatangkan dari negara asing. Itu semua karena bangsa kita tidak punya harta, kecuali pinjam lagi dan pinjam lagi.
Pendidikan mengajarkan manusia melintasi ruang dan waktu. Berharap bangsa Indonesia mampu menembus batas-batas negara hingga menjadi pembaharu peradaban dunia.
Bukan menjadi batas negara tempat pembuangan akhir sampah-sampah negara lain, seperti sampah teknologi transportasi darat, laut, dan udara.
Diakui atau tidak, sudah menjadi rahasia umum, fakta, dan realitas bahwa negara kita sering membeli gerbong kereta listrik bekas dan alat transportasi lainnya pun kadang-kadang beli yang bekas.
Hal yang lebih parah dan mengerikan tempat membuang sumber kejahatan dan kemunkaran, yaitu pasar terbaik untuk bazar narkoba. Naudzubillahi mindzalik.
Jika disebutkan satu per satu, tampaknya negara kita semakin hampir tidak ada kemajuan selain kata kemunduran. Infrastruktur jalan tol dan jembatan yang menjadi jualan pada publik tidak berbanding lurus dengan kemajuan pendidikan Indonesia.
Tidak ada bangsa yang berani menjajah bangsa yang berilmu dan pendidikan Indonesia realitasnya belum mendidik yang sebenarnya. Pasalnya hingga detik ini bangsa Indonesia dalam posisi terjajah secara ekonomi, politik, hukum, dan keamanan.
Kesejahteraan hanya milik pemodal sehingga negara pun tidak berdaya. Kedaulatan hanya milik oligarki sehingga negara pun tersandera. Sistem keamanan hanya milik server big data sehingga negara pun tidak kuasa.
Semuanya dalam posisi, situasi, dan kondisi bahwa negara dalam keadaan tersandera dan terperdaya. Seakan-akan bangsa kita bangsa yang tidak berilmu sehingga bangsa mana pun bisa masuk tanpa perlawanan.
Bjorka anonim sang hacker sedang viral pun mampu membobol data pribadi pejabat negara. Hal itu sebagai bukti nyata dan penegasan bahwa negara tidak kuasa dan tidak punya daya upaya yang kuat.
Buku akan bermanfaat jika dibaca dan diamalkan. Jika pendidikan Indonesia pintar membaca pasti pintar memberi solusi. Apalagi pintar mengamalkan, bukan hanya solusi, melainkan banyak untung dari pada rugi, hutang pun tidak menggunung menjulang tinggi.
Padahal umat Islam Indonesia mayoritas mengikuti Al-Quran sebagai petunjuk yang lengkap nan sempurna. Kebutuhan apa pun bagi manusia semua tersedia sehingga harusnya bangsa Indonesia lebih maju dari negara maju saat ini.
Mengapa hal itu sulit terwujud? Itu semua karena bangsa kita malas membaca buku. Termasuk umat Islam Indonesia yang mungkin saja jarang membaca Al-Quran dan malas secara intensif mengamalkan ayat-ayat-Nya.
Oleh karena itu, kalau saja hal itu tidak dilakukan dengan penuh kesadaran, sepertinya hampir mustahil kita bisa menjadi bangsa dan negara maju.
Sampaikan walaupun satu ayat, semakna dengan kalimat budayakan membaca walaupun hanya selewat. Membaca jendela dunia. Pertanyaanya adalah sudahkah lembaga pendidikan kita memiliki data akurat dan valid setiap siswa atau mahasiswa berapa jumlah buku yang dibacamua? Atau berapa ayat Al-Quran dalam mushaf yang dibaca setiap hari?
Rasanya semua itu sulit disembunyikan rapat-rapat seolah-olah tidak terlihat, tetapi malaikat tetap mencatat. Apalagi memiliki data berapa teori yang diamalkan, lebih-lebih memiliki data yang mengamalkan banyak ayat. Satu ayat saja yang benar-benar diamalkan belum tentu sesuai dengan maksud dan tujuannya dari apa yang sudah diamalkan.
Benarkah pendidikan Indonesia sudah mendidik? Sedikit uraian diatas menggambarkan bahwa betapa ironi sebuah bangsa besar yang masyarakatnya santun dan beradab, tetapi masih bertahan di bawah bayang-bayang penjajahan ekonomi dan politik para oligarki.
Katanya bangsa lain tidak akan berani menjajah kepada bangsa berilmu. Namun, lain cerita ketika Indonesia masih dalam cengkeraman penjajahan gaya baru.
Kiranya sangat beralasan bahwa Allah akan mengangkat derajat orang-orang yang berilmu. Harusnya ketika bangsa negara kita berilmu pasti harkat dan marabatnya ditinggikan derajatnya.
Lagi-lagi menjadi ironi negara tetangga saja kadang-kadang berani merisak bangsa dan negara yang kita cintai.***














