Opini

Ibadah Muhammadiyah: Rasional dan Mencerahkan

×

Ibadah Muhammadiyah: Rasional dan Mencerahkan

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri, Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung

BANDUNGMU.COM — Jejak langkah gerakan Islam wasathiyah Muhammadiyah, sejak lahir di “kota bakpia” Yogjakarta satu abad lebih berlalu.

Menyinari negeri seantero alam semesta hingga hari ini bak matahari terbit pagi hari tanpa henti menyinari. Spirit pembaruan tetap istikamah dan menggelora.

Gedung-gedung berdiri megah tersebar di pelosok negeri sebagai tanda Muhammadiyah berkibar nan jaya. Semoga Allah SWT tetap menjaganya.

Boleh berbangga untuk memotivasi generasi. Namun, ingat bagi para pengawal dan penggerak organisasi untuk tidak terjebak dengan sikap junawa, apalagi bersikap ujub, takabur dan riya.

Selain malu karena kita bukan pendiri dan penetas amal usaha yang ada hanya diamanahi menjaga dan memelihara. Sikap tersebut bertolak belakang dengan teologi Al-Ma’un yang di bangun satu abad yang lalu.

Ibadah dapat dipahami dua pendekatan. Vertikal bersifat ritual-simbolik dan horizontal bersifat harakah amaliyah terkoneksi antar sesama manusia dan alam semesta.

Ibadah Muhammadiyah tampil berbeda sejak awal berdiri sebagai pembebas ritual berbasis khurafat, takhayul, dan bidah yang menyesatkan dan membodohi masyarakat, baik yang beragama Islam maupun masyarakat pada umumnya.

Baca Juga:  Menjadikan Muhammadiyah Sebagai Agile Organization

Muhammadiyah seolah-olah kental dengan ibadah pendekatan horizontal karena terlihat kasat mata visual dengan banyaknya amal usaha.

Namun, bukan berarti tidak ada perhatian pada ritual formal ta’abudi. Justru bagi Muhamamdiyah penjelmaan ta’abudi-nya tidak terjebak perdebatan teks yang menguras energi karena banyak perselisishan beda pendapat.

Spiritnya berusaha keras bahwa kehendak Allah SWT dalam teks nash benar-benar linear dan teraktualisasi dalam ranah aktivitas sehari-hari.

Maksud, tujuan, dan kehendak syara yang terdapat dalam mushaf Al-Quran sekalipun satu ayat berharap menjelma menjadi solusi dalam tatanan kehidupan sosial, politik, ekonomi, dan budaya masyarakat di mana berada.

Kala itu hingga saat ini, ibadah Muhammadiyah berusaha konsisten memberi solusi konkret terhadap apa yang dibutuhkan masyarakat dan negara. Pun sama gegap gempita manusia menyambut berbagai hal kehidupan dunia yang kian hari tidak dibatasi bangsa dan negara.

Era digital membentuk tatanan dunia baru menjelma masyarakat global sebagai penduduk bumi. Putaran waktu tidak lagi siang dan malam, tetapi tidak ada batasan waktu. Dunia baru semakin menunjukan eksistensinya.

Baca Juga:  Seksama Bernegara

Disukai atau tidak, hari ini dan esok banyak di antara kita tidak saling kenal dalam arti kata kenal dekat serekat lem perekat.

Banyak cerita dan kisah para nabi sebelum nabi akhir zaman bahwa kehidupan dunia sangat dinamis dan agresif. Era sekarang pun sama tidak jauh beda.

Kebajikan dan keburukan dari sebuah perjalanan zaman senantiasa saling menarik dalam kehidupan manusia. Tetap saja dalam perjalanan manusia memiliki peran utama dari pada makhluk lainnya dalam mengisi ruang dan waktu.

Pada masa awal kelahiran Muhammadiyah, pembaruan nilai keislaman memberi warna dan nuansa baru bagi kebangkitan Islam kala itu di Nusantara.

Pun sama era digital saat ini Muhammadiyah tidak boleh kehilangan ruh asli sebagai pembaru peradaban. Takhayul, bidah, dan khurafat era digital bukan lagi sesajen dalam bentuk yang penuh dengan mistik, melainkan saat ini TBC dalam bentuk lain yang sesajennya yaitu gratifikasi, korupsi, dan meraih jabatan dengan cara relasi suksesi bersama oligarki.

Baca Juga:  Nasyiatul Aisyiah Dorong Perempuan Jadi Agen Perubahan Efektif Mitigasi Perubahan Iklim

Rasionalitas ibadah Muhammadiyah memang mencerahkan. Selain melahirkan entitas yang banyak meretas kebekuan berpikir, menetas pelopor penggerak dan pembaru, dan melintas zaman dari periode pra, awal dan pasca kemerdekaan Indonesia.

Ibadah Muhammadiyah bukan hanya berhenti dalam ruku dan sujud di dalam masjid, melainkan membebaskan kerangkeng kezaliman imprelisme dan kolonialisme bangsa asing, membebaskan buta agama, sosial, politik, dan ekonomi masyarakat.

Ibadah Muhammadiyah tidak hanya berhenti pada hafalan ayat demi ayat suci Ilahi. Namun, membuat kontruksi ilmu dan amaliah melalui gerakan amal usaha pendidikan, kesehatan, dan pelayanan kesejahteraan umat.

Dasar ibadah Muhammadiyah pada Al-Quran dan As-Sunnah maqbullah. Praktiknya bukan melakukan ritual-ritual berbau sinkretisme agama, bukan juga anti budaya bangsa.

Ibadah Muhammadiyah menjelmakan ayat-ayat sebagai alat dan instrumen sebagai penyelesai masalah, baik masalah keagamaan sehari-hari masyarakat dan juga banyak menyelesaikan masalah isu-isu kebangsaan dan juga hal ihwal isu-isu kemanusiaan.

Universlitas keagamaan yang dipahami Muhammadiyah berlaku untuk semua umat, bangsa, dan warga dunia. Wallahu ‘alam.***