Opini

Hampir Ketinggalan Kereta Api

×

Hampir Ketinggalan Kereta Api

Sebarkan artikel ini

Oleh: Sheema Syaifu Azzahra, Alumnus SMP Aisyiyah Boarding School Bandung/MAN 1 Kota Bandung

BANDUNGMU.COM — Perjalanan jauh kali ini berbeda dengan sebelumnya. Untuk sekarang aku pergi seorang diri tanpa didampingi oleh keluargaku. Kenapa aku tidak menyebutnya perjalananku pertama kalinya? Karena ini adalah perjalanan keduaku menuju Jawa.

Posisiku sedang bersedih karena gagal di seleksi jalur ujian tertulis berbasis komputer (UTBK). Namun, hal itu tidak membuat aku putus asa untuk terus mengejar tujuan hidup. Sekaranglah aku akan membuktikan kepada ayah dan bunda bahwa aku bisa meraih keberhasilan.

Hari ini mulai dengan pagi yang rumit karena keributan di pagi hari, entah itu berebut kamar mandi ataupun keadaan rumah yang berantakan.

Namun, di situlah letak keistimewaan keluarga. Aku bisa terus merasakan kehangatan yang ada pada rumahku. Setelah drama berebut kamar mandi, aku terbirit-birit untuk mandi agar tidak terlambat boarding pass.

Orang-orang di rumah tahu kalau aku sudah bersiap-siap pasti lama. Oleh karena itu, aku selalu harus mandi pertama. Bahkan satu jam pun tidak cukup untuk aku berbenah diri. Tidak aneh kalau seorang gadis bersiap-siapnya butuh waktu lama.

Baca Juga:  UAS Menyenangkan Ala Mahasiswa PIAUD Universitas Muhammadiyah Bandung

Waktu telah menunjukkan pukul 08.35. Aku dan ayah segera pergi menuju Stasiun Kereta Api Kiaracondong Bandung karena aku berangkat dari stasiun itu.

Saat sudah di jalan aku lupa ada barang yang tertinggal di rumah. Akhirnya setelah bercekcok dengan ayah, kami balik lagi ke rumah untuk mengambil barang tersebut.

Tidak lama turun dari mobil karena kembali lagi tidak sampai ke halaman depan rumah. Hanya sampai gerbang utama blok RW, kemudian lari untuk segera mengambil barang tertinggal.

Waktu berjalan dengan cepat. Aku dan ayah sudah kalang kabut karena waktu menunjukkan pukul sembilan lebih. Aku seharusnya sudah bording pass pada pukul 09 karena kereta yang akan kunaiki itu berangkat pukul 10.15.

Namun, dengan izin Allah, aku dan ayah sampai di stasiun pukul 09.58. Aku akhirnya berlari dengan panik sampai lupa kalau aku belum bersalaman dengan ayah dan memeluknya karena aku sebulan akan jauh dari ayah dan bunda.

Setelah berada di kereta dan duduk sesuai dengan tempat duduk yang aku pesan, aku sudah tenang dan tidak panik lagi.

Baca Juga:  Antara Ilmu dan Ijazah

Sebenarnya aku sudah sering naik kereta tapi. Bedanya saat ini aku berada di kereta berjam-jam lama nya. Tidak seperti biasanya yang hanya 30 menit sampai 1 jam saja.

Setelah kereta jalan dan pukul 11.25 aku sampai di Stasiun Cibatu Garut. Pukul 11.33 kerata berjalan lagi. Selama di kereta aku hanya bisa menatap keindahan alam melalui kaca jendela kereta. Sepanjang jalan yang kulihat yaitu pohon-pohon ada juga kebun.

Mungkin perjalanan ini melelahkan. Namun, menurutku ini akan menjadi kenangan yang indah dan menyenangkan. Aku mengira selama perjalanan ini aku hanya berdiam. Ternyata tidak. Ada orang baik yang mengajakku mengobrol.

Memang kalau dilihat umurku dan mereka berbeda jauh. Namun, untukku hal itu tidak masalah. Pukul 13.00 aku merasa lapar karena aku tidak sarapan. Untuk mengisi perutku yang lapar, aku pun makan siang dengan menyeduh mie yang aku bawa.

Memang membawa air panasnya menjadi beban tambahan di tas aku. Namun, aku lebih memilih untuk menghemat uang karena kalau membeli makan di kereta harganya mahal.

Baca Juga:  Kisah Wisuda: Sepenggal Kisah dari Kawasan Tapal Kuda

Tidak terasa waktu berjalan cepat. Sekarang menunjukkan pukul 14.32. Aku hanya tertidur sebentar karena memang aku tidak biasa tidur siang.

Kereta yang kunaiki melewati banyak stasiun. Salah satunya Stasiun Banjar. Karena genset kereta yang kunaiki mati, diperbaiki oleh teknisi KAI yang ada di Stasiun Banjar. Saat genset mati, panas di kereta mulai merajalela karena semua AC mati, tetapi untungnya tidak terlalu lama.

Pada waktu tertentu pengumuman-pengumuman dari crew disampaikan oleh pihak KAI. Setelah aku berjam-jam di dalam kereta, ternyata terbukti omongan warga Indonesia kalau kursi ekonomi KAI harus diubah. Apalagi yang harganya mahal, tetapi kondisinya tidak sesuai dengan fasilitasnya.

Kursinya memang nyaman, tetapi tidak untuk diduduki berjam-jam dalam waktu lama karena tinggi kursinya yang tegak membuat duduk tidak nyaman.

Namun, karena aku sudah terbiasa dengan kursi ekonomi KAI, itu sangat mempermudah. Tidak terlalu pegal. Hanya sedikit bosan saja.***

To be continue.