Opini

Banjir, Longsor, dan Amanah Khalifah yang Terabaikan

×

Banjir, Longsor, dan Amanah Khalifah yang Terabaikan

Sebarkan artikel ini
Sumber: kompas

Banjir dan longsor kembali melanda sejumlah wilayah di Sumatra, menelan korban jiwa, memaksa ribuan warga mengungsi, dan merusak permukiman. Peristiwa ini bukan sekadar musibah berulang, melainkan menunjukkan krisis lingkungan yang belum ditangani secara serius.

Dalam pandangan Islam, manusia memandang alam sebagai ciptaan Allah yang harus dijaga keseimbangannya, bukan sebagai objek pasif yang bebas dieksploitasi. Ketika manusia melanggar keseimbangan tersebut melalui deforestasi, tata ruang yang abai, dan perusakan daerah resapan, manusia sendiri menghadirkan bencana sebagai konsekuensi dari amanah yang mereka abaikan.

Data Badan Nasional Penanggulangan Bencana mencatat 2.919 kejadian bencana hingga 24 November 2025, dengan lebih dari 98 persen berupa bencana hidrometeorologi. Angka ini menegaskan bahwa pembiaran degradasi lingkungan membentuk pola bencana, bukan peristiwa acak.

Baca Juga:  Sumpah Pemuda: Tekad Perubahan Bangsa

Islam menawarkan kerangka solusi yang melampaui pendekatan teknis. Manusia menempatkan dirinya sebagai khalifah dan penjaga bumi, bukan sebagai pemiliknya. Kesadaran ini perlu kita hidupkan kembali melalui pendidikan, dakwah, dan kebijakan publik yang berpihak pada kelestarian lingkungan serta keselamatan jiwa.

Masjid, pesantren, dan organisasi Islam dapat menjadi pusat mitigasi berbasis komunitas dari penanaman pohon hingga penguatan kawasan resapan air. Sementara itu, kebijakan pembangunan harus berpijak pada kajian risiko lingkungan, bukan sekadar kepentingan ekonomi jangka pendek.

Baca Juga:  Peran Rakyat Sebagai Juri Sejati Dalam Kontestasi Pemilihan Presiden

Bencana juga menjadi ruang menguatkan ukhuwah. Semangat ta’awun tidak berhenti pada bantuan darurat, tetapi berlanjut pada upaya mencegah kerusakan serupa terulang kembali.

Merawat bumi adalah bagian dari merawat iman. Selama manusia terus memperlakukan alam tanpa tanggung jawab, bencana akan datang silih berganti. Tragedi di Sumatra seharusnya mengingatkan kita bahwa menjaga keseimbangan alam bukanlah pilihan, melainkan amanah yang wajib dijalankan. ***(IK22/Rizky)