Oleh: Ace Somantri*
BANDUNGMU.COM — Tidak akan pernah habis membahas dinamika Muhammadiyah. Apalagi bosan dan membosankan.
Sejak satu abad lebih lahir dan dilahirkan oleh sang pencerah, Kiai Ahmad Dahlan, menatap masa depan manusia di bumi, bukan sekadar untuk bangsa dan negara, melainkan untuk dunia.
Muhammadiyah lahir bukan hanya produk retorika. Dia lahir atas petunjuk dan inspirasi Ilahi Rabbi dalam nash-Nya.
Walaupun hanya satu ayat, maknanya memiliki tujuan dan maksud bagi manusia yang sangat banyak, baik untuk kepentingan diri pribadinya maupun bagi orang diluar dirinya, hingga untuk sesuatu yang lebih besar dan luas.
Karena dalam satu ayat, terdiri dari susunan dan kumpulan huruf-huruf yang bermakna dan penuh manfaat untuk seluruh alam semesta dan isinya.
Muhammadiyah namanya unik, walaupun hanya satu kata, tetapi memiliki makna harfiah yang sangat dalam. Kata tersebut, selain makna harfiyah yang unik, ternyata merupakan penisbatan pada nama yang mulia: baginda nabi Muhammad SAW.
Sosok tersebut merupakan profil individu yang memiliki keunggulan pribadi yang tiada tandingannya di dunia ini. Bahkan menurut informasi yang pernah didengar dari ustad di pelosok kampung cahayanya sudah dibuat dari sejak sebelum Nabi Adam diciptakan.
Namun, bagi warga persyarikatan bahwa nama Muhammadiyah bukan sekadar nama, melainkan ada tujuan di balik sebuah nama. Kehadiran Muhammadiyah sebagaimana kehadirannya Rasulullah Muhammad SAW sebagai pembebasan kejahiliyahan.
Dia penegak keadilan, pembebasan terhadap perbudakan, dan pembangun peradaban dunia. Nabi hanya butuh 23 tahun untuk mengubah wajah dunia menjadi terang benderang bercahaya bagai berlian tersinari matahari.
Madinah Al-Munawarah dan Makkah Al-Mukarramah telah menjadi pusat peradaban dunia. Dari sana kemudian menyebar ke seluruh pelosok negeri berbagai belahan dunia. Nyaris tak ada yang tidak tersentuh oleh ajaran yang dibawanya.
Hanya sayang, setelah wafat, beliau dari hasil dakwahnya yang menyebar ke seluruh pelosok negeri yang diwakili oleh para sahabatnya lambat laun mulai banyak yang meninggalkan hingga banyak yang mengubur dan mengubahnya.
Namun, kita yakin itu ada sebuah pelanggaran, pengkhianat, dan pengkafiran orang kufur dan kafir terhadap ajaran yang telah disampaikan.
Begitupun Muhammadiyah. Sejak masih ada Kiai Ahmad Dahlan, gerak laju ajaran yang mencerahkan masih memiliki orisinalitas tujuan dan idealisme yang menggairahkan dan membangun spirit kuat bagi penggeraknya.
Lambat laun tak terasa penyebaran gerakan Muhammadiyah secara kuantitas angka meningkat. Namun, entah benar atau salah penetrasi akan transformasi ajaran Islam yang mencerahkan sebagaimana Kiai Ahmad Dahlan terindikasi banyak berhenti hanya di elite pimpinan persyarikatan.
Muhammadiyah dianggap besar. Bahkan sering dibangga-banggakan dengan alasan sederet data kuantitatif puluhan ribu amal usahanya. Namun, pertanyaannya apakah dari masing-masing amal usaha tersebut mampu hadir untuk membuat perubahan?
Cukup dengan kejujuran hati kita sebagai warga persyarikatan bahwa nyatanya jauh dari seharusnya jika dibandingkan dengan karya masa lalu saat awal pendirian.
Jika menengok masa kejayaan Kiai Ahmad Dahlan, dia tidak memaksa mendatangkan ribuan orang yang dididik untuk mengubah dunia.
Namun, hanya belasan hingga puluhan orang. Keberadaan dan eksistensinya mampu mengubah keadaan yang lebih baik.
Sementara itu, abad ini, jumlah amal usaha Muhammadiyah hingga menyentuh puluhan ribu. Namun, kontribusi pada peningkatan pemahaman masyarakat dan khususnya umat Islam masih relatif terlambat.
Belum mampu mengejar ketertinggalan dari negara-negara yang sepadan kondisi dan situasi warga masyarakatnya dengan Indonesia.
Masyarakat kita cenderung lebih tertarik pada kemasan dan simbol. Sangat minim dalam penguatan nilai substansi hingga jauh dari kemampuan menembus apa yang sebenarnya hendak dicapai.
Muhammadiyah hari ini menjadi cerminan gerakan institusi persyarikatan ke depan yang akan datang. Indikator gerakan yang berkemajuan tidak identik dengan jumlah amal usaha semata.
Namun, sejauh mana kecepatan perubahan cara berpikir dan sikap dewasa masyarakat. Khususnya warga persyarikatan Muhammadiyah.
Relatif sia-sia banyak amal usaha. Namun, justru hanya membuat terjadinya keruntuhan idealisme beragama dan bersyarikah.
Sehingga gerakan memajukan terlewati dan terabaikan yang mengakibatkan pimpinan dan warga persyarikatan berebut jatah yang bernilai pragmatis sesaat.
Pada sisi lain, gerakan cabang dan ranting sudah meredup hingga tak jelas dimana mereka berada dan keberadaannya. Amal usaha merebak dan menjulang, tetapi perubahan sosial keberagaman malah mundur dan menuju ketiadaan eksistensi gerakan.
Evaluasi gerakan penting untuk introspeksi diri institusi, sebelum mengalami turbulensi atau gempa sosial yang memporak-porandakan bangunan persyarikatan yang berdiri tegak sudah satu abad lebih.
Tidak menutup kemungkinan jika terus abai dan membiarkan kerusakan dan keroposnya gerakan, konsekuensinya runtuh seperti peradaban Bani Abbasiyah yang tenggelam hingga kini hanya sisa-sisa puing yang berserakan.
Gerakan amal usaha untuk mendinamisasi Muhammadiyah tidak dapat ditawar-tawar. Persyarikatan wajib mengawasi dan dibuatkan formula yang tepat dan benar untuk memenuhi segala kebutuhan semua stakeholders.
Baik dalam memenuhi kebutuhan setiap individu warga maupun di luar dirinya yang wajib berdampak manfaat dan maslahat terhadap kehidupan umat, bangsa dan negara.
Untuk apa amal usaha besar dan megah hanya dinikmati oleh segelintir orang warga persyarikatan. Harus ada bukti nyata yang jelas, terukur, dan sistematis keberadaan amal usaha terhadap gerakan Muhammadiyah.
Begitupun seluruh tenaga sumber daya di dalamnya wajib untuk berkontribusi terhadap gerakan persyarikatan Muhammadiyah secara terbuka.
Tanpa harus sembunyi-sembunyi. Apalagi harus petak umpet seperti malu dan takut diketahui publik.
Termasuk ketaatan terhadap segala paham dan ajaran yang diajarkan oleh manhaj tarjih Muhammadiyah. Kecuali mereka yang beragama di luar Islam. Mereka cukup berkontribusi pada hal-hal yang sifatnya kemanusiaan.
Muhammadiyah ke depan kejayaannya harus diraih. Peradaban masyarakat utama yang sebenar-benarnya tidak berhenti dalam rumusan dan tulisan lembaran kertas.
Seluruh kekuatan sumber daya insani milik persyarikatan atau yang terikat dalam lingkup amal usaha Muhammadiyah wajib untuk ikut serta bersama meraih kejayaan tersebut tanpa ada alasan apapun.
Peradaban masyarakat utama versi Muhammadiyah merupakan gagasan berislam yang sangat universal. Perlu dicatat sebagai bukti nyata, tahun 1447 Hijriah sudah menunjukkan keberpihakan persyarikatan terhadap gerakan tajdid keilmuan.
KHGT sebagai langkah nyata walaupun terlambat mengeksekusinya, daripada tidak sama sekali, akan berdampak pada matinya gerakan ilmiah dalam tubuh persyarikatan Muhammadiyah.
Sebagai bentuk komitmen gerakan keilmuan di lingkungan persyarikatan Muhammadiyah, segala hal yang bertentangan dengan sumber utama Al-Qur’an dan As-Sunnah dapat diperdebatkan dalam kajian secara terbuka.
Tujuannya tiada lain untuk saling mengingatkan dan mengoreksi satu sama lainnya. Tanpa harus mengedepankan ego dan sifat individualisme.
Amal usaha bergerak dan membuktikan diri secara nyata dalam mendinamisasi gerakan persyarikatan Muhammadiyah merupakan komitmen baik dan benar.
Sangat yakin, jika amal usaha Muhammadiyah bergerak bersama, dengan cara yang baik dan benar, gerakan Muhammadiyah akan semakin terdepan dalam membangun persyarikatan, keumatan dan kebangsaan.
Pengaruhnya akan berdampak pada percepatan perubahan sosial masyarakat sehingga menuju Indonesia maju dan berkemajuan.
Muhammadiyah menjadi pelopor gerakan nyata sebagai pendorong yang menjadi pelaku sejarah dalam perubahan bangsa dan negara.
Bahkan sangat dimungkinkan Muhammadiyah membangun gerakan Islam berkemajuan di seluruh dunia. Amin. Wallahu’alam.
*Wakil Ketua PWM Jawa Barat





