PMB UMbandung
Opini

Standar Ganda Amerika, Rakyat Indonesia Harus Waspada!

×

Standar Ganda Amerika, Rakyat Indonesia Harus Waspada!

Sebarkan artikel ini
PMB UMBandung

Oleh: Ace Somantri*

Beredar luas dan viral di berbagai platform media sosial di jagad maya. Sejak Indonesia mengikuti bagian dari tim USA, salah satu negara yang berpartisipasi tim perdamaian dan pemulihan Gaza di Palestina.

Kemudian, lanjutan pertemuan terus maraton dilakukan hingga banyak keputusan taktis dan strategis pada forum pertemuan tersebut. Semoga niat baik Indonesia Allah Ta’ala memberikan kemudahan.

Namun, jangan percaya kepada mereka orang-orang Yahudi, baik yang berkewarganegaraan USA. Apalagi pemerintah negara Israel.

Mereka dari dahulu sejak zaman nabi Muhammad SAW hingga hari ini tabiatatau karakternya selalu penuh tipu daya saat berhadapan dengan umat muslim. Begitupun perjanjian ke perjanjian dengan Palestina selalu melanggar dan mengkhianati.

Indonesia saat ini ada dalam bayang-bayang kekuatan negara-negara besar. Sekalipun kita bangsa yang besar, faktanya kedaulatan yang dimiliki sepenuhnya masih jauh dari kedaulatan bangsa-bangsa yang terlebih dahulu maju.

Sebut saja saat ini Amerika Serikat, satu abad lebih mereka menjadi salah satu negara adidaya, hampir dipastikan di beberapa benua di dunia mereka menganeksasi negara-negara yang tak berdaya hingga menjadi bagian dari “jongos” peliharaannya.

Apakah bangsa Indonesia sudah menjadi bagiannya atau menuju menjadi di antaranegara tak berdaya lainnya? Semoga itu sebuah mimpi buruk yang tidak boleh menjadi kenyataan.

Karena jika itu sudah terjadi, ada hal pasti bagi kita rakyat Indonesia bangkit untuk melawan dan mengusir mereka yang telah menjadi tuan puan yang tiran dan tidak berperikemanusiaan di rumah kita sendiri.

Rakyat bangsa Indonesia, era global digital saat ini sedang ada pada fase mengerikan. Kekuatan manusia secara individu dan komunitas bangsa akan diuji kemampuannya.

Baca Juga:  Keteladanan Hamka

Semua manusia melihat dalam beberapa dekade ini sejak mulai era global, dominasi negara-negara masih terus berlangsung tidak berhenti. Akhirnya, tidak lama kemudian berperang untuk demi kepentingan pribadi, kelompok, bangsa, dan negara yang berupaya keras menjadi negara yang digjaya.

Siapa pun merekadi antara negara yang masuk dalam perangkapnya, akan menjadi bagian kekuatannya untuk membuat positioning di mata dunia. Sebaliknya, negara yang di bawah aneksasi kendalinya semakin terpuruk hingga akan hina, dianggap lemah dan tidak dihargai bangsa lainnya.

Kita rasakan dengan selama ini, bangsa Indonesia akibat tidak berdaya dan tidak berkemampuan standar untuk mensejahterakan rakyatnya. Apa contohnya?

Bangsa Malaysia sering berkata “indon” kepada warga Indonesia manakala berkunjung ke negeri jiran. Hal itu akibat banyak tenaga kerja non-profesional sebagai pembantu rumah tangga di Malaysia berasal dari Indonesia.

Prihatin dan menyakitkan, mengiris, dan juga menyayat hati bangsa. Sementara segelintir orang menikmati kekayaannegara berpuluh-puluh tahun lamanya.

Ribuan triliun rupiah raib entah ke mana. Kebocoran demi kebocoran sudah tak bisa lagi ditutupi. Harus diganti tempat dan sumber daya manusianya.

Yang tak habis pikir, bergelayut dalam pikiran pertanyaan berulang-ulang muncul kenapa ini mesti terjadi, pada ke mana penjaga negara yang selalu mendoktrin rakyatnya harus sabar, tawakal, dan menunggu kondisi membaik.

Rakyat lelah karena terlalu lama menjaga “ketidakadilan dan penindasan” terhadap hak-hak asasi manusia di muka bumi Indonesia. Lahan pertanian, hutan, dan tambang yang membentang luas hampir tak dapat diukur secara manual.

Baca Juga:  Muhammadiyah dan Peran Pentingnya dalam Masa Depan Indonesia

Namun, ada yang penting diketahui, rakyat Indonesia wajib waspada dan mempersiapkan kemampuan melawan ketidakadilan yang terorganisir rapi, baikberdampak pada diri, keluarga, bangsa, dan negara.

Kerja sama Indonesia dan Amerika Serikat menjadi kontroversi. Terindikasi ada potensi melanggar konstitusi. Pembelaan dan argumentasi pemerintah dilancarkan dengan masif bahwa pandangan rakyat Indonesia yang dianggap belum memahami sehingga berpendapat tidak respek terhadap perjanjian.

Sementara itu, yang memahami tetapi masih memprotes kebijakan tersebut dianggapnya wajar karena sebagai oposisi. Sebaiknya pemerintah mendengar suara rakyat Indonesia.

Baik itu saran rekomendasi wajib dikaji ulang naskahnya maupun dibatalkan perjanjian tersebut. Ada yang paling penting, konstitusi kita yang telah dijalankandengan baik, diharapkan kepada siapa saja yang berwenang agar tidak memberi ruang mencederai konstitusi. Apalagi sampai mengkhianati, hal itu wajib dihindari.

Rakyat Indonesia, khususnya masyarakat terpelajar wajib mengingatkan kepada siapa saja yang berpotensi melanggar. Termasuk presiden sekalipun jika terindikasi membuat kebijakan yang mengarah pada pelanggaran segera di ingatkan. Toh dia juga manusia yang tak lepas dari khilaf dan salah.

Sampaikan alasan-alasan rasional secara komprehensif dari saran dan kritiknya. Sangat yakin, niat baik yang tulus akan mendapatkan tanggapan baik pula, manakala justru sebaliknya jika ditanggapi kurang baik dapat memberikan klarifikasi secara terbuka melalui jalur konstitusional.

Hal itu dilindungi perundang-undangansehingga setiap masukan saran dan kritik menjadi bagian penting dalam menjaga dinamika berbangsa dan bernegara lebih sehat.

Baca Juga:  Pentingnya Nilai Teologis Dalam Gerakan dan Sistem Muhammadiyah

Jika kerja sama Indonesia ini berpotensi membuka ruang ketidakadilan dan kezaliman, dan hal lain yang akan membawa mudarat kepada bangsa Indonesia, di kalangan intelektual melakukan kajian ilmiah diberbagai pendekatan multi disiplin ilmu. Sehingga dasar alasan untuk melakukan penolakan atau penerimaan benar-benar dapat dipertanggungjawabkan.

Hati-hati warga dunia sudah paham pola kerja sama Amerika Serikat dengan negara yang dianggap lemah oleh mereka. Biasanya pendekatan standar ganda akan selalu digunakan tanpa tedeng aling-aling karena mereka merasa diri digjaya dan negara yangmengikuti dianggap lemah dan dapat dikendalikan.

Dalam konteks Indonesia, semoga kecerdikan Prabowo tidak dapat dibaca oleh Amerika Serikat. Kita ingat betul bahwa Presiden Indonesia cukup memiliki reputasi baik.

Namun, juga tidak boleh lengah dan wajib hati-hati juga waspada jam terbang Amerika Serikat membuat takut negara-negara berkembang itu bukan rahasia lagi. Kecuali mungkin negara Iran dengan kepercayaan diri mampu melawannya.

Pengalaman yang terjadi, hampir di seluruh benua negara-negara berkembang manakala sudah jadi target cengkeramannya, hampir dipastikan terpenuhi targetnya, walaupun harus menelan anggaran negara yang membengkak.

Mereka karena merasa hebat dan unggul, bahkan boleh dikatakan sombong dan angkuh, maka sikap negara USA selalu egois dan arogan. Standarganda mereka selalu dikemas dengan membantu dan menolong, baik dengan bahas transfer teknologi atau lainya.

Padahal di balik itu semua mereka yang mengendalikan. Tidak peduli di mana mereka menginjakkan kakinya. Dalam diri mereka tidak ada istilah di mana bumi dipijak maka di situ langit dijunjung. Wallahu’alam.***

PMB UMBandung