OLEH: ACE SOMANTRI — Dosen Universitas Muhammadiyah Bandung
BANDUNGMU.COM — Dalam politik kekuasaan identik dengan demokrasi, semua kepentingan ada pada semua sisi. Demokrasi sistem kekuasaan yang dianut dengan mengedepankan kepentingan rakyat, bukan pejabat.
Namun faktanya lain di hampir semua negara kekuasaan negara ada di tangan penguasa, termasuk di Indonesia, demokrasi hanya dalam kemasan yang berhenti di wacana dan retorika.
Masyarakat sudah sangat muak mendengar kata demokrasi ketika melihat faktanya hanya “democrazy”. Bahasnya kekayaan sumber daya alam negara untuk rakyat,tetapi realitanya hanya untuk para penguasa dan pengusaha yang terikat dalam oligarki, sedangkan rakyat sengsara dan melarat.
Jutaan hektare lahan sudah dikuasai asing, rakyat berebut lahan saling bunuh antar-sesama keluarga dan tetangga. Negara dengan merasa tidak dosa memberikan lahan kepada para pengusaha dengan dalih investasi buat negara. Padahal mereka hanya mengeruk sumber daya alam untuk di bawa ke negaranya.
Sebuah ironi
Rakyat semua diminta membayar semua hasil dari sumber daya alam yang katanya milik negara. Rakyat diminta membayar dan membeli pulsa listrik PLN selalu bayar tepat waktu. Faktanya PLN memiliki utang ratusan triliun, padahal sumber energi dari alam Indonesia.
Rakyat diminta bayar pajak bumi-bangunan dan semua penghasilan profesinya, kenapa membangun jalan dan jembatan harus meminjam dengan cara haram (ribawi)? Bagaimana mau berkah infrastruktur dibuat dengan sistem ribawi yang haram seperti itu.
Rakyat diminta membeli air bersih kepada PDAM walaupun sering tidak lancar, padahal selalu bayar tepat waktu. Faktanya PDAM banyak uutang.
Rakyat diminta membeli gas untuk kebutuhan pokok, PGN perusahaan milik negara mau bangkrut karena utang ratusan triliun sampai menumpuk.
Di mana uang rakyat yang diberikan setiap saat dari hasil keringat bercucuran penuh darah? Pak Presiden dan para pembantunya sadarlah bahwa pejabat dan penguasa hanya melayani, bukan menipu. Alih-alih isu menuda pemilu dan mau menambah periode jabatan presiden semakin tidak tahu diri.
Hari ini, Senin 11 April 2022, semua elemen masyarakat yang diplopori para mahasiswa aksi turun ke jalan menuntut presiden sebagai penguasa tertinggi di negeri ini diminta untuk segera melakukan tindakan cepat mengeluarkan kebijakan di antaranya menyangkut hajat rakyat.
Tuntutan rakyat bukan semata basa-basi, melainkan jeritan hati yang tercabik-cabik oleh penguasa oligarki yang tirani. Rakyat sudah jemu dan muak dengan dagelan para pejabat petruk, kebiasaan berbohong sudah menjadi karakter para elite kekuasaan.
Cuap-cuap dalam kata dan bahasa hanya memperpanjang kebohongan, fakta dan realitas negara berbuat zalim kepada rakyat yang terus diperas tanpa adab.
Wahai semua rakyat, hari ini berdoa buat saudara-saudara kita yang berusaha turun ke jalan untuk aksi menyampaikan aspirasi dengan risiko yang cukup tinggi karena kebiasaan aparat negara sering bertindak represif.
Semoga yang turun ke jalan hari ini mewakili ratusan juta rakyat Indonesia tanggal 11 bulan April tahun 2022 bertepatan hari ke-10 bulan Ramadhan tahun 1434 Hijriah diberikan kekuatan fisik dan dilindungi oleh yang Allah SWT.
Bagi rakyat yang tidak mengikuti aksi bersama menuntut negara dan pemerintah melalui presiden dan pejabat lainnya sebagai mandat rakyat, dimohon tetap memberikan suport moril dengan setulus hati.
Keterpanggilan sahabat dan saudara kita yang memiliki kepekaan dan kepedulian terhadap kondisi bangsa dan negara yang tercabik-cabik oleh penguasa tirani yang berdampak pada kesejahteraan rakyat sehingga rakyat Indonesia semakin sengsara, melarat, dan sekarat menghadapi kebijakan negara.
Penguasa berbagai cara dan siasat untuk melanggengkan kekuasaan oligarki dan tirani terus dilakukan, tidak peduli rakyat kondisinya seperti apa karena yang penting syahwat kekuasaan terpenuhi hingga mendapatkan klimak berkali-kali.
Mahasiswa di mana pun berada, kalian adalah pejuang sejati tanpa pamrih dan pujian. Lantang suaramu memberi inspirasi. Keras suaramu membakar semangat juang. Cucuran keringatmu menjadi bahan bakar untuk membakar bara api perjuangan. Jangan berhenti hingga tuntutan aksi terpenuhi.***
