Opini

Barokah Para Penggerak Dakwah: Saat Menggerakkan Umat, Kita yang Paling Digerakkan

Oleh: Irfan Sholahuddin Gozali, M.E.*

Di balik setiap ajakan shalat berjamaah, pengajian, i’tikaf, hingga seruan berinfak dan bersedekah, para penggerak dakwah justru menjadi pihak yang paling dahulu ditempa oleh amal yang mereka gerakkan.

Sering kali kita mengira dakwah adalah aktivitas mengajak orang lain menjadi lebih baik. Mengajak mereka ke masjid, menghadiri pengajian, memperbanyak ibadah di bulan Ramadhan, bahkan mengajak mereka berinfak dan bersedekah.

Namun, ketika dakwah itu benar-benar dijalani, ada satu kenyataan yang perlahan terasa.

Ternyata ketika kita menggerakkan umat, justru kitalah yang paling banyak digerakkan oleh dakwah itu sendiri.

Beberapa waktu terakhir, kami di PCM Sumber berusaha menghidupkan berbagai kegiatan Ramadhan. Mengajak jamaah shalat berjamaah, mengadakan pengajian, buka puasa bersama, hingga menghidupkan i’tikaf di sepuluh malam terakhir.

Awalnya niat kami sederhana: menghidupkan masjid dan menggerakkan umat.

Kami menyusun agenda, mengabarkan kepada jamaah, menyiapkan kegiatan, bahkan mengajak masyarakat berdonasi agar kegiatan dakwah dapat berjalan dengan baik.

Namun dalam perjalanan itu, ada satu hal yang perlahan terasa.

Ketika kegiatan-kegiatan itu berjalan, kami para penggerak justru selalu berada di barisan paling depan.

Jika ada pengajian, kami datang lebih awal.
Jika ada shalat berjamaah, kami sudah berada di masjid.
Jika ada i’tikaf, kami yang lebih dahulu bermalam di rumah Allah.

Bahkan ketika kami mengajak jamaah berinfak dan bersedekah, kami merasa tidak pantas jika tidak ikut memberi lebih dahulu.

Tanpa disadari, kegiatan yang awalnya dibuat untuk umat justru membentuk kebiasaan dalam diri kami.

Kami menjadi lebih sering ke masjid.
Lebih sering duduk di majelis ilmu.
Dan lebih terdorong untuk berinfak dan bersedekah.

Di titik itulah saya mulai memahami satu hikmah dakwah yang sangat dalam:

dakwah kepada orang lain sering kali adalah cara Allah mendidik diri kita sendiri.

Al-Qur’an mengingatkan dengan tegas:

“Wahai orang-orang yang beriman, mengapa kamu mengatakan sesuatu yang tidak kamu kerjakan?”
(QS. Ash-Shaff: 2–3)

Setiap ajakan kepada orang lain sebenarnya adalah panggilan kepada diri sendiri.

Mengajak orang shalat berjamaah berarti menjaga shalat kita.
Mengajak orang hadir di pengajian berarti menjaga diri kita untuk terus belajar.
Mengajak orang berinfak berarti melatih hati kita untuk menjadi dermawan.

Karena itu benar adanya: orang lain adalah sarana dakwah, tetapi diri kita adalah sasaran dakwah.

Inilah salah satu keindahan menjadi penggerak dakwah di Persyarikatan Muhammadiyah.

Kepemimpinan dalam dakwah bukan sekadar posisi, tetapi ladang amal. Seorang pimpinan tidak hanya mengelola organisasi, tetapi menghidupkan gerakan: memakmurkan masjid, menghidupkan pengajian, dan menumbuhkan semangat berbagi melalui infak dan sedekah.

Dan sering kali tanpa kita sadari, semua aktivitas itu adalah cara Allah menjaga para penggeraknya agar tetap berada di jalan kebaikan.

Karena itu, menjadi penggerak dakwah sebenarnya adalah nikmat besar.

Nikmat karena kita berada di lingkungan yang terus mengingatkan kita kepada Allah.

Nikmat karena amanah itu membuat kita selalu dekat dengan masjid.

Nikmat karena kita tidak hanya berbicara tentang kebaikan, tetapi terus dilatih untuk menjalankannya.

Maka kepada para kader dan penggerak Muhammadiyah di mana pun berada, mari terus menghidupkan gerakan dakwah ini.

Makmurkan masjid.
Hidupkan pengajian.
Ajak umat berinfak dan bersedekah.
Gerakkan kebaikan di tengah masyarakat.

Sebab boleh jadi, ketika kita sedang menggerakkan umat menuju cahaya…

Allah sedang memastikan hati kita sendiri tetap berada di dalam cahaya itu.

*Ketua Pimpinan Cabang Muhammadiyah Sumber

Exit mobile version