Bye Muktamar, Welcome Musywil

oleh -

Oleh: Ace Somantri, Dosen UM Bandung

BANDUNGMU.COM — Kemeriahan dan gebyar muktamar terdengar ke seantero Nusantara hingga belahan dunia, sukses, lancar, dan semoga berkah hingga membawa rahmat bagi persyarikatan Muhammadiyah.

Satu per satu agenda acara muktamar digelar, pemilihan pimpinan puncak yang dinanti pun kelar sudah. Semua bergandeng tangan untuk melihat masa depan bangsa, negara, dan dunia.

Amanah yang diemban bukan hal ringan, lima tahun ke depan bukan sebentar apalagi sesaat. Biaya muktmar sudah pasti mahal bahkan super mahal. Semoga ke depan konvensasinya berlipat ganda hingga membangun peradaban dunia.

Gelisah, lelah, letih, dan kadang mungkin menjengkelkan bagi panitia muktmar insyaallah menjadi nilai ibadah. Dengan terpilihnya 13 pimpinan dan insyaallah akan ada tambahan, tampaknya akan mewarnai sosok baru berdarah segar. Berharap melengkapi dan berbagi amanah untuk perjuangan di Muhammadiyah.

Muktamar telah usai, namun program kerja yang menjadi amanahnya baru dimulai. Berharap komposisi majelis dan lembaga benar-benar diisi oleh para aktivis berdarah segar dan energik.

Sebagai pembantu pimpinan, kader-kader militan alumni dari ortom baik dari PM, IMM, IPM, TPSM, dan HW perlu dipertimbangkan untuk mengisi majelis dan lembaga dalam kurun waktu lima tahun ke depan.

Baca Juga:  Cara Aisyiyah Lawan Kekerasan Seksual

Rekam jejak yang baik, komptensi, dan prestasi salah satu dari sekian banyak kriteria. Apa pun alasanya, sependek diketahui banyak majelis dan lembaga belum maksimal dalam menjalankan program-programnya.

Terlebih tahun-tahun ke depan tantangan semakin kompleks, aktivis majelis dan lembaga benar-benar akan diuji kemampuan mengorganisir institusi sebagai pembantu pimpinan. Kepiawaian mengelola majelis menjadi tuntutan, goals setting program terukur dan dapat dipertanggungajwabkan.

Bye muktamar, selamat datang perhelatan musyawarah wilayah. Luar biasa, PW Muhammadiyah Jawa Timur sudah mempersiapkan tim penyelenggaranya yang akan digelar di Ponorogo.

Kesediaan pernyataan calon pimpinan wilayah sudah disebar hingga batas pengembaliannya, opini darah segar pun mulai muncul di media online pwmu.com dari Pemuda Muhammadiyah Jawa Timur. Bahkan sudah lantang menyebut nama-nama yang layak dan pantas.

Pimpinan wilayah yang lain belum terdengar dan terlihat di media, namun biasanya setelah muktamar tidak lama kemudian musyawarah wilayah digelar. Sementara, untuk Pimpinan Wilayah Muhammadiyah Jawa Barat rencana digelar di Kota Cirebon, persiapannya belum semasif di Jawa Timur.

Baca Juga:  Istri Bersolek Demi Suami?

Musyawarah wilayah bagian permusyawaratan di bawah tanwir dan muktamar, maksud dan tujuannya sama seperti muktamar, hanya bedanya tingkat wilayah provinsi.

Berharap momentum tersebut juga menjadikan ajang merumuskan dan menetapkan program wilayah berkemajuan dan melahirkan pimpinan yang agresif dan progresif. Pada musywil kali ini juga akan menyita perhatian, pasalnya sudah masuk hingar bingar tahun politik Indonesia.

Semoga tidak ada pengkondisian dan intervensi pihak lain yang berkepentingan politik sesaat bersifat pragmatik. Para politisi sangat piawai membaca situasi dan kondisi, kapan dan di mana memainkan peran untuk mengambil manfaat. Hal itu bukan sesuatu yang buruk. Namun, kadang-kadang lebih banyak madaratnya ketimbang maslahatnya.

Saling suport dan dorong bagi kader terbaik yang layak menjadi pimpinan tingkat pusat, wilayah, daerah, hingga cabang dan ranting. Kapasitas sosok pimpinan sudah yakin terlihat, kelayakan pun sudah terbaca oleh para kader.

Hanya kadang-kadang faktanyanya sering terkecoh karena like and dislike, saling meremehkan satu kader dengan kader lainya, sampai- sampai ada yang berujar kalau bukan orang domisili pituin daerah tidak untuk didukung.

Baca Juga:  Esesni Pendidikan Itu Adanya Perubahan yang Positif

Semoga beberapa hal tersebut di atas hanya sekedar informasi belaka sebagai dinamika menjelang permusyawaratan. Semoga perhelatan permusyawaratan tingkat wilayah dan daerah lebih adem, ayem, dan tentrem.

Tidak seperti munas HIPMI beredar dan viral mempertontonkan kekerasan yang tidak layak ditiru dan dituruti. Insyaallah Muhammadiyah sudah teruji dan terbukti santun dan beradab.

Regenerasi pimpinan mesti terjadi, kaderisasi hal yang mesti pula dalam berorganisasi. Komposisi pimpinan harus ada dinamika, apalagi wilayah dan daerah lebih dekat dengan akar rumput yang berada di cabang dan ranting.

Kesiapan fisik dan mental menghadapi berbagai permasalahan organisasi benar-benar harus menjadi kriteria inti. Selain itu, memiliki jejaring keluar zona juga menjadi nilai tambah bagi para pimpinan.

Bukan hanya sekedar dekat dengan birokrat atau pejabat, melainkan pimpinan memiliki kemandirian dan daya inovasi tinggi untuk menahkodai organisasi yang usianya lebih dari satu abad. Pimpinan semakin mandiri, maka akan semakin di segani. Wallahu ‘alam.***