Oleh: SUKRON ABDILAH – Chief in Editor
BANDUNGMU.COM – Pernahkah kita menjadi juara dalam sebuah perlombaan? Gembirakah rasanya tatkala mendapatkan posisi pertama dalam perlombaan itu?
Senangkah jiwa kita di saat mengangkat trofi piala yang dikhususkan untuk sang juara?
Saya yakin jawabannya, semua orang akan merasa gembira dan senang ketika menjadi seorang juara.
Karena menjadi juara sangat didambakan oleh orang-orang yang mengikuti kompetisi; setiap orang akan bangga bila memenangi sebuah perlombaan; dan setiap orang pasti akan berteriak kegirangan ketika dirinya dapat mengalahkan lawan-lawannya.
Di dalam hidup juga begitu. Kita selalu menghendaki untuk mencapai puncak kesuksesan dan keberhasilan dalam hidup.
Saya rasa tak ada seorang pun manusia yang berakal tidak menginginkan kesuksesan di dunia ini. Kalaupun ada, mereka adalah orang-orang yang sedang dirawat di rumah sakit jiwa.
Manusia yang normal selalu ingin naik jabatan. Ingin kaya. Ingin populer. Dan, ingin dicintai oleh para tetangga. Tapi, kadang kita tidak sadar bahwa keinginan-keinginan tersebut hanya sementara.
Karena, menjadi seorang manusia juara, tidak hanya mampu mencapai tujuan yang hanya sesaat. Menjadi juara ialah mampu menempatkan posisinya pada puncak kebahagiaan kendati secara kasat mata kita tidak menempati posisi pertama.
Ketika kita menjadi seorang siswa di sebuah sekolah, ranking bukanlah satu-satunya tujuan yang menggerakan tubuh kita untuk terus menerus menuntut ilmu dan belajar dengan tekun.
Karena juara sejati tidak mengejar posisi, seperti halnya Valentino Rossi yang terus mengaspal kendati posisinya selalu di bawah pembalap lain.
Orang yang bermental juara, ia tidak berhenti di saat segala daya dan upayanya tak membuahkan hasil; ia pun tidak lantas berputus asa karena tidak mendapatkan apa-apa; dan ia tidak lantas berhenti berharap di saat usahanya tak dihargai orang lain.
Seorang petani miskin di desa, ialah orang bermental juara bila dirinya terus berusaha dan selalu bersyukur atas segala sesuatu yang diperolehnya.
Seorang kaya raya, ialah orang bermental juara apabila kekayaannya tidak membutakan diri dari kedermawanan.
Saya, yang dibilang orang sebagai pengangguran, bisa dibilang bermental juara bila selalu mengoptimalkan usaha saya untuk mendatangkan rezeki materi dari Allah.
Betul, bila hidup ialah sebuah kompetisi dan kejuaraan; tetapi berbeda dengan kejuaraan-kejuaraan di dalam olahraga. Kendati agak mirip; tapi berbeda.
Sebab, di dalam kehidupan untuk menjadi juara tidak ditentukan oleh posisi; tetapi seberapa tuluskah kita menjalani kehidupan, seberapa ridhanya kita atas ketetapan dari Allah, dan seberapa bersabarkah kita menghadapi kesulitan hidup.
Kesuksesan materi bukan penilaian utama dalam kejuaraan dalam kehidupan ini. Karena boleh jadi orang miskin dan tak punya apa-apa menjadi seorang manusia juara, karena tulus menjalani hidup, ridha terhadap kemiskinannya, dan tidak gampang berputus asa menghadapi ujian dari Allah.
Jelasnya, kita bisa disebut seorang juara dalam hidup ini apabila mampu meraih ridha Allah dengan keridhaan kita terhadap seluruh ketetapan-Nya dan mampu berbagi dengan sesama meskipun dipenuhi kekurangan harta.
Satu hal yang perlu kita perhatikan dalam menjadi seorang juara di dalam kehidupan ini, ialah merasa puas dengan hasil kecil apalagi besar yang didapatkannya.
Apalah artinya jika kita tidak pernah puas dengan hasil yang diperoleh. Kita akan menjadi seorang manusia yang congkak, sombong, dan melupakan hubungan dengan Allah, tatkala kepuasan hanya diletakkan pada perolehan materi yang besar saja.
Setiap helaan nafas, bagi saya, terkandung rezeki. Dengan tubuh yang kita miliki dilengkapi organ pernafasan yang masih berfungsi, diri ini masih bisa beraktivitas.
Alhamdu…lillah!
Dengan nafas inilah, Ruh tidak meninggalkan kita, karena inilah kita masih bisa mencari rezeki dengan cara yang beragam dan halal.
Ada orang yang bekerja di dalam ruangan. Ada orang yang harus berjalan berhari-hari untuk mendapatkan uang. Bahkan ada orang yang cukup dengan membelalakkan mata untuk menghasilkan pendapatan.
Hidup bukanlah sekadar kata-kata. Hidup adalah kerja dan usaha. Hidup juga tak semudah bacotnya para motivator; namun kendati tidak mudah, harus tetap diperjuangkan.
Hidup yang diperjuangkan ini tentunya membutuhkan semangat, energi, dan optimisme. Tanpa ketiga sumber ini, hidup kita tidak akan kunjung mudah.
Menemukan kesadaran dan semangat dalam hidup memang sangat penting. Sepenting kita mencari air minum ketika sedang kehausan.
Boleh dibayangkan ketika kita haus dan tidak menemukan air setetes pun. Yang terjadi adalah kita akan mati kelelahan.
Seorang motivator merasa diri seperti air bagi orang yang sedang kehausan. Sayangnya, mereka memosisikan sebagai air yang arogan; hingga tak ada lagi aktivitas selain membangkitkan semangat hidup orang lain.
Tanpa sadar bahwa setiap manusia memiliki otak dan pemahaman hidup yang beragam.
Saya tidak begitu antusias kalau mengikuti pelatihan motivasi. Saya tidak mau mengubah diri saya seperti yang dipersepsi orang lain.
Saya memang mengharapkan kesuksesan dan kebahagiaan dalam hidup.
Tetapi, kesuksesan dan kebahagiaan hidup menurut saya, haruslah tidak memberati orang sekitar atau tetangga kita.
Coba kita ikuti gaya-gaya seorang motivator yang setiap hari memberikan suntikan semangat dengan ramuan spirit yang ditemukannya. Coba juga kita mengikuti pelatihan-pelatihan.
Untuk kaya, kita harus bersedekah karena selang beberapa Minggu, katanya, akan mendapatkan balasan yang super besar.
Padahal, bagi saya sedekah harus bebas dari unsur-unsur duniawi. Apalagi balasan materi yang dapat diperoleh di alam sesaat.
Untuk menjadi orang mulia bagi saya tidak perlu menunggu sukses. Berbagi dengan siapa saja tidak perlu menunggu jadi manusia berharta. Betul?
Hidup memerlukan energi yang super besar agar kita dapat terus eksis. Bagi saya, energi tersebut dapat diperoleh dengan mengoptimalkan perasaan yang ada di setiap jiwa manusia: Cinta.
Dengan cinta inilah, apa pun yang sulit dalam hidup bisa dilewati. Apa yang tak mungkin menjadi mungkin. Cinta mampu mengubah sesuatu yang dianggap biasa menjadi luar biasa.
Saya hari ini mencoba merenungi kumpulan seekor semut yang berjalan dengan rapi. Tubuhnya kecil tetapi sangat menakjubkan karena kecilnya tubuh semut itu tidak membuat mereka putus asa.
Dengan sigap seekor semut mampu membawa sesuatu yang lebih besar dari tubuhnya. Malahan besarnya hingga sepuluh kali lipat. Apa rahasianya?
Tiada lain tiada bukan: kekuatan cinta para semut kepada sesama semut di koloninya. Mereka bergotong royong tanpa kenal lelah mengumpulkan makanan untuk mempertahankan hidup. Inilah cinta. Cinta pada kehidupan.
Semut, yang kita anggap hewan dan tak berperadaban ternyata juga memiliki cinta.
Bagaimana dengan kita? Sebagai seorang manusia, yang diciptakan Tuhan dengan potensi komplit dan sempurna – bila dibandingkan dengan makhluk ciptaan lain – sejatinya kita lebih dahsyat lagi semangatnya.
Jangan pernah menyerah pada terpaan masalah yang hadir di kehidupan. Jadilah manusia yang bermental kuat dan besar.
Sebab, hanya dengan badannya yang kecil, seekor semut pun bila terdapat cinta dan semangat mampu membawa beban yang lebih besar dibandingkan dengan tubuhnya.
Rahasianya ialah kekuatan cinta. Maka optimalkanlah cinta kita pada sesama manusia, kasih pada semesta alam, dan sayang pada Allah semata untuk menggapai kebahagiaan hakiki yang kita harapkan.
Jangan lupa, Allah beserta kita semua dalam setiap kesempatan. Innallaha ma’ana!
