News

Haedar Nashir Ungkap Alasan Majalah “Suara Muhammadiyah” Bertahan Melampaui Zaman

Majalah "Suara Muhamamdiyah" (Dokumentasi redaksi bandungmu.com/FA)

BANDUNGMU.COM, Yogyakarta — Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir mengungkapkan perasaan terharu atas perkembangan pesat “Suara Muhammadiyah”.

Majalah resmi Muhammadiyah yang pertama kali diterbitkan pada 1915, kini telah berkembang menjadi bisnis perhotelan dan properti yang menakjubkan. Perkembangan ini menunjukkan kemampuan Muhammadiyah dalam mengikuti perubahan zaman.

Pada acara Soft Opening SM Tower & Convention belum lama ini, Haedar mengaku memiliki ikatan emosional yang kuat dengan “Suara Muhammadiyah”.

Hal ini menjadikannya konservatif dalam menolak saran beberapa tokoh Muhammadiyah untuk mengubah nama “Suara Muhammadiyah”.

Baginya, “Suara Muhammadiyah” telah menjadi bagian dari ingatan kolektif yang melekat di hati warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Pada 1984, Haedar pernah menjadi wartawan lepas di “Suara Muhammadiyah”. Saat itu Djazman Al Kindi menjabat sebagai pimpinan redaksi “Suara Muhammadiyah”.

Sebagai seorang penulis muda, tulisannya sering kali dikoreksi dan dicoret-coret dengan tinta merah. Hal ini merupakan upaya untuk menjaga kualitas “Suara Muhammadiyah” yang telah menjadi salah satu media utama di tingkat nasional, terutama bagi warga Muhammadiyah.

“Awalnya, saya merasa tulisan saya bagus, tetapi berulang kali dikoreksi dan dicoret-coret, itu membuat saya merasa tidak nyaman, tetapi akhirnya saya terbiasa menulis. Saya hadir sebagai bagian dari sejarah Suara Muhammadiyah,” kenang Haedar yang disambut dengan tawa dan tepuk tangan, dikutip dari muhammadiyah.or.id, Selasa 27 Juni 2023.

Selain itu, Haedar juga menjadi pimpinan redaksi “Suara Muhammadiyah” setelah menjadi seorang wartawan senior yang mahir menyusun narasi. Ketika ia menjabat sebagai pimpinan redaksi, beberapa majalah seperti “Panji Masyarakat”, “Kiblat”, “Ummat”, dan lainnya satu per satu mengalami kegagalan.

Majalah-majalah ini tidak memiliki kelangsungan yang lama. Menurut Haedar, jika “Suara Muhammadiyah” tidak melakukan pembaruan, sebenarnya mereka sedang menggali kuburan mereka sendiri. Berkat pembaruan yang kuat, “Suara Muhammadiyah” berhasil bertahan sepanjang masa.

Selain faktor pembaruan, faktor penting lainnya dalam kelangsungan “Suara Muhammadiyah” adalah dukungan pembaca setia dari warga Muhammadiyah di seluruh Indonesia.

Haedar menyebut hal ini sebagai kekuatan inner-dynamic. Kekuatan ini menjadi faktor utama dalam menjaga keberlangsungan “Suara Muhammadiyah” selama lebih dari satu abad.

“Suara Muhammadiyah adalah salah satu majalah yang telah lama berdiri. Hal ini karena kita memiliki akar yang kuat, yaitu warga Muhammadiyah. Akar rumput inilah yang menjadi kekuatan inner-dynamic yang kita miliki,” ujar Haedar.

Pada 2010, Haedar merekrut Deni Asy’ari, seorang kader muda potensial Muhammadiyah dari Sumatera Barat. Bersama dengan Deni Asy’ari, “Suara Muhammadiyah” semakin meluaskan bisnisnya.

Awalnya, mereka menjual buku-buku, kemudian merambah ke berbagai produk Muhammadiyah, seperti kaos, gantungan kunci, kain batik, dan sebagainya.

Saat ini, mereka juga telah memperluas bisnisnya menjadi bidang properti dan perhotelan. Menurut Haedar, hotel yang didirikan oleh Suara Muhammadiyah merupakan hotel pertama yang lahir dari bisnis media.

“Ini adalah hotel pertama, yaitu hotel Muhammadiyah pertama yang berasal dari bisnis media yang bertahan menghadapi tantangan zaman,” tandasnya.***

Exit mobile version