News

Haram Hukumnya Menyamakan Allah Dengan Makhluk

×

Haram Hukumnya Menyamakan Allah Dengan Makhluk

Sebarkan artikel ini
Ilustrasi. Foto: Istockphoto.

BANDUNGMU.COM, Bandung — Sepanjang perjalan sejarah pemikiran Islam memang ada beberapa aliran yang menyamakan antara sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat makhluk-Nya, seperti halnya aliran Musyabbihah (antropomorfisme).

Pendeknya, aliran pemikiran ini sesuai dengan namanya (Musyabbihah), yakni menyamakan sifat-sifat Allah dengan sifat-sifat manusia (makhluk).

Ada pula aliran Mujassimah (korporalisme) yang beranggapan bahwa Allah berjisim (bertubuh) seperti halnya manusia (Ahmad Azhar Basyir, Refleksi atas Persoalan Keislaman: Seputar Filsafat, Hukum, Politik dan Ekonomi, hal. 27). Aliran-aliran tersebut jelas salah karena para penganut aliran ini menyamakan antara Allah dan makhluk-Nya.

Baca Juga:  Panwascam Kiaracondong Resmi Luncurkan Forum Warga Pengawasan Partisipatif Pilkada Serentak 2024

Oleh karenanya untuk mendudukkan permasalahan ini, terlebih dahulu pemahaman yang mesti dibangun sebelumnya adalah pemahaman tentang konsep tauhid yang membicarakan tentang sifat Allah dan nama-nama-Nya (Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat).

Dalam konsep Tauhid al-Asma’ wa al-Shifat, Allah tidak diserupai oleh seorang pun dari makhluk-Nya, sebagaimana yang termaktub dalam surat al-Syura ayat 11: “Tidak ada sesuatupun yang serupa dengan Dia, dan Dia-lah yang Maha Mendengar dan Melihat”. [QS. asy-Syura (42): 11]

Inilah yang harus kita tetapkan dan wajib kita yakini, yaitu mempercayai dan mengimani apa yang ditetapkan Allah untuk diri-Nya dengan tidak menyerupakan-Nya dengan seorang pun dari makhluk-Nya.

Baca Juga:  Suara Terbanyak Belum Tentu Jadi Ketua, Tradisi Unik Kepemimpinan di Muhammadiyah

Hal ini berlaku pada sifat Allah yang bila dilihat dari segi bahasa sama dengan sifat manusia. Muhammad Quraish Shihab dalam tafsirnya ketika menafsirkan surat al-Ikhlas menjelaskan bahwa meskipun dari segi bahasa sama, namun Allah memiliki sifat yang tidak sama dalam substansi dan kapasitas-Nya dengan sifat makhluk.

Sebagai contoh kata Rahim (rahmat/kasih sayang) merupakan sifat bagi Allah, tetapi juga menunjukkan rahmat/kasih sayang makhluk. Namun substansi dan kapasitas rahmat dan kasih sayang Allah berbeda dengan rahmat makhluk-Nya (M. Quraish Shihab, Tafsir al-Misbah, vol. 15, hal. 611).

Baca Juga:  Jabar Siapkan Tiga Paket Obat Gratis untuk Pasien Covid-19

Selain itu, banyak sifat-sifat Allah yang benar-benar berbeda dengan makhluk, misalnya al-Muhyi (maha menghidupkan), as-Salam (maha sejahtera daripada kekurangan), al-Quddus (maha suci), al-Khaliq (maha menciptakan) dan sifat-sifat Allah yang lain.

Jadi, dapat disimpulkan bahwa sifat Allah dan sifat makhluk-Nya adalah berbeda. Kalaupun ada kesamaan, maka itu hanya sama dari segi bahasa, dan bukan pada substansi dan kapasitasnya.***