”Hidup-Hidupilah Muhammadiyah, Jangan Mencari Hidup di Muhammadiyah”

oleh -
Foto: Muhammadiyah.or.id.

BANDUNGMU.COM – Kiai Ahmad Dahlan dikenal sebagai sosok yang militan dalam menghidupkan dakwah Muhammadiyah. Sifat inilah yang diharapkan oleh Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir teraktualisasi dalam pikiran dan tindakan setiap warga, kader dan aktivis Muhammadiyah.

“Ketika beliau (Kiai Dahlan) sakit, bahkan beliau masih terus bekerja untuk Muhammadiyah, bahkan sempat dikirim ke Malang untuk tetirah, tapi sampai di Malang beliau berdakwah, mengisi pengajian dan lain-lain sampai kesehatannya makin buruk. Dibawa lagi ke Yogya dan masih terus bekerja hingga diingatkan oleh dokternya. Lalu dia menjawab kalau saya hentikan apa yang sudah saya lakukan ini, nanti akan berat di kemudian hari bagi para pelanjut saya” tutur Haedar Nashir dalam forum Upgrading PWM Bangka Belitung, Sabtu (25/09/2021), dikutip dari Muhammadiyah.or.id.

Kisah Kiai Ahmad Dahlan di atas menurut Haedar adalah contoh militansi dalam ber-Muhammadiyah. Militansi itu kemudian diwarisi oleh setiap muridnya, termasuk Kiai Fachrodin yang sempat dilema untuk memilih antara Muhammadiyah atau berdagang. Pada akhirnya, Kiai Fachrodin memutuskan untuk berdagang sekaligus tetap membesarkan Muhammadiyah.

“Nah dalam konteks ini Kiai Ahmad Dahlan mengeluarkan adagium hidup-hidupilah Muhammadiyah, jangan mencari hidup di Muhammadiyah,” katanya.

“Itu artinya orang harus punya etos kehidupan di Muhammadiyah itu sehingga dia tidak menjadi tangan di bawah, tapi harus tangan di atas. Kalau toh di antara kita ini (bekerja) di Amal Usaha Muhammadiyah (AUM) tidak apa-apa, itu tidak mencari penghidupan. Tapi ingat di AUM itu tidak hanya mencari nafkah. Kalau hanya mencari nafkah, anda salah alamat,” pesan Haedar.

“Tapi di AUM itu kita bisa memperoleh apa yang menjadi profesinya. Tentu dengan kadar kemampuan AUM itu, yang kedua dia sendiri harus membesarkan AUM itu sehingga kalau AUM itu besar, dirinya juga ikut maju. Dan lebih dari itu baik dari dirinya dan AUM itu bukan hanya untuk AUM, tapi untuk dakwah dan tajdid Muhammadiyah. Nah di situ militansinya,” imbuh Haedar.

“Yang dilarang oleh Kiai Dahlan itu adalah orang memanfaatkan Muhammadiyah untuk kepentingan dirinya kemudian Muhammadiyah bahkan juga hanya menjadi kuda tunggang, bahkan ketika memanfaatkannya salah sehingga kemudian Muhammadiyah ikut kena masalah,” terangnya.

Meski Haedar mendorong penguatan militansi, tetapi Haedar optimis dengan kemurnian hati para pegiat dakwah Muhammadiyah yang telah menunjukkan sikap militan dan teguh di berbagai daerah.

“Ini soal militansi. Di manakah letak militansi itu. Adanya di jiwa, di hati. Yang mempengaruhi pikiran kita,” pungkas Haedar.***(Muhammadiyah.or.id).

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *