Ingin Hati Terasa Lapang dan Lembut, Belajarlah untuk Selalu Memaafkan

oleh -
Ilustrasi (stutterstock)

BANDUNGMU.COM – Maaf dan memaafkan adalah persoalan yang kadang susah sekali dilakukan. Apalagi bila sudah berada di posisi mampu untuk melakukan balas dendam. Hanya orang-orang berhati mulialah yang bisa melakukannya.

Memaafkan adalah salah satu sifat Allah yang harus kita pakai di kala ada permasalahan dengan sesama. Karena yang namanya hidup bermasyarakat, gesekan dan konflik pasti selalu ada.

Di situlah memaafkan menjadi salah satu solusinya. Namun ternyata memaafkan nyatanya tidak semudah membalikkan telapak tangan. Tidak semudah yang dibayangkan.

Apabila ada orang yang menzalimi, memfitnah, mencelakai, atau menuduh kita dengan sewenang-wenang, apakah kita akan langsung memaafkan orang tersebut? Belum tentu. Bahkan, bisa jadi kita akan melakukan hal yang sama kepada orang tersebut jika kita tidak berpikir rasional.

Orang yang gemar memaafkan adalah mereka yang hatinya lapang, mulia, dan lembut. Mereka memaafkan semata-mata karena Allah SWT. Tidak ada permusuhan apa pun di hatinya. Kebeningan dan cahaya ilahi selalu hinggap di hatinya.

Allah SWT berfirman dalam Hadis Qudsi:

”Nabi Musa telah bertanya kepada Allah, ’Ya Rabbi! Siapakah di antara hamba-Mu yang lebih mulia menurut pandangan-Mu?’ Allah menjawab, ’Ialah orang yang apabila berkuasa (menguasai musuhnya), dapat segera memaafkan.’” (Hadis Qudsi Riwayat Kharaithi dari Abu Hurairah).

Karena memaafkan, seorang hamba akan mendapatkan kemuliaan tak terhingga di sisi Allah. Derajatnya lebih tinggi dan lebih agung dibandingkan dengan orang-orang yang di hatinya menyimpan dendam.

Allah SWT berfirman, ”Maafkanlah dan ampunilah mereka. Sesungguhnya Allah mengasihi orang-orang yang berbuat baik.” (QS al-Ma’idah [5]: 13).

Teladan yang baik

Pada Peristiwa Uhud, Rasulullah SAW mendapatkan luka cukup serius di wajah dan beberapa giginya patah. Melihat kejadian memilukan ini, salah seorang sahabatnya gusar.

”Ya Rasulullah, doakanlah mereka agar celaka!” kata sahabat tersebut.

”Aku sekali-kali tidak diutus untuk melaknat seseorang, tetapi aku diutus untuk mengajak kepada kebaikan dan sebagai rahmat,” jawab Rasulullah dengan lembut.

Lalu Rasulullah SAW menengadahkan tangannya kepada Allah SWT seraya berdoa, ”Ya Allah, ampunilah kaumku karena mereka tidak mengetahui.”

Sungguh apa yang Rasulullah lakukan merupakan perbuatan mulia nan agung. Rasulullah SAW tidak membalas dendam, tetapi memaafkan mereka dengan kasih sayang. Bahkan, beliau malah mendoakannya agar Allah mengampuni mereka.

Suatu ketika, orang kafir bernama Du’tsur mendapati Rasulullah SAW sedang istirahat di bawah pohon rindang. Orang itu segera mengambil pedang Rasulullah SAW dan menghunuskannya kepada beliau.

”Siapakah yang dapat membelamu dari situasi ini?” kata Du’tsur seraya mengancam.

”Allah,” jawab Rasulullah dengan tegas.

Mendengar jawab Rasulullah, Du’tsur gemetar dan pedangnya pun jatuh. Rasulullah segera mengambil pedang itu dan berbalik mengancam Du’tsur.

”Siapakah yang akan membelamu saat ini?” kata Rasulullah.

”Tidak ada seorang pun!” jawab Du’tsur.

Apa yang terjadi kemudian? Ternyata, Rasulullah SAW memaafkan dan membebaskan orang bernama Du’tsur yang tadi mengancamnya. Sungguh perbuatan mulia yang wajib kita tiru.

Akhirnya, Du’tsur pun berdakwah mengajak kaumnya memeluk agama Allah. Dia sudah mendapatkan hidayah dan berakhlak seperti akhlak Rasulullah tercinta.

Semoga Allah menggolongkan kita ke dalam kelompok orang yang arif, gemar memaafkan, dan mampu bersabar dalam kondisi apa pun. Wallahu a’lam.

Diolah dari Republika Online

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *