BANDUNGMU.COM – Kalau kamu dari Kota Bandung atau Jakarta pergi jalan-jalan ke Bumi Perkemahan Rancaupas, kolam air panas Rancawalini, Situ Patengang, atau ke Kawah Putih, pasti akan melewati Kecamatan Soreang yang menjadi ibu kota Kabupaten Bandung.
Nah penasaran seperti apa asal-usul nama Soreang dan bagaimana masa lalu kecamatan yang masih asri dan hijau ini? Berikut Bandungmu.com sajikan artikel T. Bachtiar yang dikutip dari Pikiran-rakyat.com edisi 07 Desember 2019.
***
Kecamatan Soréang dipilih menjadi ibu kota Kabupaten Bandung, letaknya 20 km dari Kota Bandung.
Soréang menjadi pusat yang menghubungkan beberapa tempat di sekitarnya, seperti antara Soréang dengan Banjaran, Baleendah, Ciparay, Majalaya, dan Pangalengan, yang menerus sampai ke pantai Selatan, Garut, dan antara Soréang dengan Ciwidey, bahkan dapat menerus terhubung sampai ke pantai selatan Cianjur dan Garut.
Menghubungkan Soréang dengan Cililin, dengan Cimahi, Padalarang, Rajamandala, dan bila diteruskan akan terhubung dengan Cianjur dan menghubungkan antara Soréang dengan Kota Bandung, yang menerus ke berbagai tempat.
Pada zaman kolonial Belanda, Soréang terhubung dengan jasa kereta api, mulai dari Kota Bandung, Banjaran, Soreang, dan Ciwidey, untuk mengangkut hasil perkebunan seperti teh dan kina serta hasil bumi lainnya dari Pangalengan dan Ciwidey.
Kawasan Soréang berada mulai ketinggian +700 m dpl, dengan kemiringan lahan yang melandai ke arah utara dan timur.
Secara alami, di selatannya dibatasi oleh rangkaian perbukitan dan gunung. Di wilayah ini mengalir Ciwidey dan Cikambuy.
Saat ini Soréang terkenal sebagai wilayah sentra konfeksi di Kabupaten Bandung, yang tersebar di Sadu, Cebék, dan Panyirapan.
Di Soréang terdapat Stadion Si Jalak Harupat yang diresmikan pada 2005 dan dipakai pada PON (Pekan Olahraga Nasional) XIX tahun 2016, dan Asian Games 2018.
Pada masa lalu, tempat yang kemudian dinamai Soréang itu menjadi tempat untuk berhenti mengaso setelah menempuh perjalanan panjang dari berbagai arah, baik dari arah utara, selatan, atau timur, sebelum menuju tempat yang lebih tinggi ke arah bukit dan gunung, atau menuju arah sebaliknya, dari arah gunung untuk menuju tempat-tempat yang lebih datar.
Soréang menjadi “tekuklereng” sehingga air tanah yang meresap di ketinggian gunung, ke luar di mata air dengan jumlah yang sangat berlimpah sehingga para kelana dapat membersihkan diri, mensucikan pikiran, dan hati.
Bila sampai ke tempat ini memasuki petang, tempat ini berkembang menjadi pangauban, menjadi tempat untuk berteduh, berlindung dari dingin malam, dan gangguan binatang.
Keesokan harinya perjalanan akan dimulai lagi menuju berbagai arah sesuai dengan tujuanya masing-masing.
Dari tempat dengan ketinggian antara +720-740 m dpl yang melandai ke arah timur dan utara sampai ketinggian +660 m dpl, para kelana dapat melihat kemegahan bentang alam dikala petang, dan pesonanya pagi hari, sehingga pangauban itu sekaligus menjadi karangtingal, menjadi titik pandang (view point) untuk melihat sekelilingnya secara sekilas pandang.
Inilah yang menjadi alasan mengapa tempat ini dinamai Soréang.
Pada pagi hari dari Soréang dapat melihat dengan nyata dengan pandangan yang bisa lepas sampai jauh.
Kerucut-kerucut gunung api purba yang membiru, mencuat tinggi menembus mega-mega.
Tampak Gunung Malabar yang besar, tubuhnya melebar ke berbagai arah. Gunung Tilu, serta perbukitan yang berjajar.
Gunung Burangrang dengan lembahnya yang dalam, di sebelah timurnya Gunung Tangkubanparahu, terlihat jelas seperti perahu yang terbalik, dan Bukit Tunggul menjadi kerucut tertinggi di jajaran itu.
Dari tempat melepas pandang ini, para kelana dapat dengan mudah untuk melaksanakan puja di puncak-puncak bukit sunyi yang indah.
Hanya tinggal berjalan sedikit saja, akan sampai di Gunung Sadu (+932 m dpl). Di puncak bukitnya terdapat jejak budaya megalitik berupa punden berundak setengah lingkaran yang menghadap ke arah timur-timur laut.
Di sebelah barat-barat lautnya, terdapat bukit-bukit yang berupa gunung api purba yang aktif empat juta tahun yang lalu.
Di puncak-puncak bukit itulah laku puja dilaksanakan, seperti jejak budayanya terdapat di Gunung Singa, Gunung Lumbung, dan menerus sampai bukit-bukit di Cililin. Di kawasan inilah yang menjadi pusat pertahanan Dipati Ukur.
Para leluhur Soréang sudah memilih tempat untuk beristirahat dengan sangat baik, sebelum para kelana itu melanjutkan perjalanan.
Tempat ini menjadi lokasi istirahat yang dapat memenuhi harapan para kelana. Dengan segala kebaikan tempat itu, seperti air yang melimpah dan kemegahan bentang alamnya.
Sesuai dengan maknanya, Soréang itu merupakan titik pandang (view point) untuk melihat sekelilingnya, sehingga dari titik itu pula dapat mengenang perjalanan yang sudah ditempuh, serta perjalanan yang akan dilakukan kemudian.
