BANDUNGMU.COM – Belakangan diberitakan ada beberapa pendaki gunung yang tersesat dan hilang. Bahkan, ada juga yang sampai meninggal dunia ketika ditemukan tim penyelamat.
Mendaki gunung sejatinya tidak boleh dilakukan tanpa persiapan yang matang. Salah-salah dalam persiapan, bisa jadi mendaki gunung akan menjadi bencana, misalnya tersesat sampai berhari-hari.
Oleh karena itu, berikut tips jika tersesat di gunung dari anggota senior Mapala Universitas Indonesia Adi Seno yang Bandungmu.com kutip dari Kompas.com, Kamis (03/02/2022) pagi.
Persiapan matang
Jangan lupakan riset sebelum mendaki gunung. Tak hanya medan pendakian, tetapi juga cuaca. Mengenali teman perjalanan termasuk riwayat penyakit, pola komunikasi juga tak kalah penting. Usahakan mendaki dengan sistem jalan leader, middle, sweeper, agar tidak terpisah dari rombongan.
Perlengkapan standar pendakian, logistik makanan dan air, pemetaan jalur, dan estimasi waktu juga jadi hal dasar yang penting dalam mendaki gunung. Jangan lupa latihan fisik agar tubuh mudah beradaptasi di medan gunung.
Jangan panik bila tersesat
Jika pada akhirnya dengan berbagai persiapan yang sudah dilakukan masih tersesat, Adi mengatakan hal wajib yang dilakukan adalah jangan panik. “Tetap tenang dan berkepala dingin,” kata Adi.
Adi menjelaskan bahwa banyak pendaki yang ”membabi-buta” mencari arah atau jalan keluar saat tersesat, berakir semakin tersesat.
Kembali ke titik awal atau puncak
Pilihan kembali ke titik awal atau langsung ke puncak gunung dapat menjadi alternatif bagi yang tersara. ”Bergantung kita sudah sampai mana, lebih dekat yang mana. Dengan begitu, tim SAR lebih mudah menemukan kita. Besar kemungkinan kita bertemu orang lain juga,” jelas Adi.
Jika malam sudah tiba
Jika hari mulai gelap dan Anda masih tersesat, carilah ruang terbuka untuk beristirahat. Adi Seno memaparkan, tempat terbuka dan datar lebih aman untuk tempat menginap. “Kalau bisa beri tanda berupa susunan batu atau kayu berbentuk nama, agar bisa ditemukan dari udara,” tambahnya.
Saat perbekalan habis
Carilah daun-daun muda untuk dimakan. Sebelum mendaki, riset mengenai jenis hutan dan aneka vegetasi di gunung yang akan didaki sangat penting. Sehingga pendaki dapat mengetahui jenis daun mana yang bisa dimakan.
“Carinya daun yang muda, agar lebih mudah dicerna. Jangan sembarangan makan buah karena tidak semua buah-buahan aman. Pernah ada cerita, seorang petualang di Australia meninggal karena makan buah yang biasa dimakan orang Aborigin,” kisah Adi Seno.
Perhatikan tanda-tanda alam
Saat mendaki pastikan selalu membawa kompas dan belajarlah cara membaca kompas sebelum mendaki. Pendaki juga dapat belajar mengenai tanda-tanda alam. Misalnya, jika bertemu pepohonan yang ditumbuhi lumut, berarti kemungkinan besar Anda sedang menghadap timur.
“Kalau malam hari melihat bintang paling terang, itu arah utara. Dan masih banyak tanda-tanda alam lainnya untuk dipelajari sebelum pendakian,” tambah Adi Seno.***
