BANDUNGMU.COM, Bandung — Program Studi Kriya Tekstil dan Fashion (KTF) Universitas Muhammadiyah (UM) Bandung kembali mengadakan kuliah umum “Designer Talk & Work #7” pada Kamis (15/01/2026).
Kuliah umum tersebut berlangsung di Lantai 2 Ruang 3 Gedung UM Bandung, Jalan Soekarno-Hatta Nomor 752, Kota Bandung. Adapun tema yang diangkat pada kuliah umum kali ini yakni “Meningkatkan Kompetensi Melalui Komunikasi dan Creativepreneur”.
Ketua Prodi Kriya Tekstil dan Fashion UM Bandung Saftiyaningsih Ken Atik mengatakan bahwa kegiatan ini menjadi yang ketujuh kalinya bagi prodi yang ia pimpin tersebut. “Kuliah umum kita kali ini menghadirkan wirausahawati yang mendapatkan berbagai penghargaan,” ucap Ken Atik.
Ia berharap kegiatan tersebut bisa menjadi insight bagi mahasiswa Prodi Kriya Tekstil dan Fashion. “Mudah-mudahan kegiatan ini bisa menjadi salah satu jembatan bagi mahasiswa dalam mencapai kompetensi yang diinginkan,” imbuh Ken Atik.
Terkait acara ini, Dekan Fakultas Sosial dan Humaniora UM Bandung Irianti Usman sangat bangga atas adanya kegiatan tersebut. Menurutnya, kegiatan semacam itu sangat bermanfaat bagi para mahasiswa.
“Ketika teman-teman mahasiswa langsung mendengar dari ahlinya, seperti narasumber kita kali ini, itu akan berbeda sekali dengan belajar teori dari buku-buku yang ada di perkuliahan,” kata Irianti.
Kegiatan ini sangat bermanfaat bagi para mahasiswa. Di antaranya para mahasiswa bisa mempelajari komunikasi dan entrepreneurship dari narasumber kuliah umum kali ini yang sudah ahli dan berpengalaman.
“Komunikasi menjadi bagian penting yang sangat integral karena akan berpengaruh bagi mahasiswa, khususnya yang ingin menjadi pengusaha,” terang Irianti.
Pada kuliah umum kali ini, dosen paruh waktu SBM Institut Teknologi Bandung (ITB) Lik Gayantini Ari hadir sebagai narasumber. Dalam materinya, Lik menekankan bahwa lulusan pada era kreatif saat ini tidak cukup hanya menguasai teori.
Ia juga menjelaskan mengenai industri kreatif Indonesia yang tumbuh pesat dalam berbagai sektor. Termasuk dalam bidang fashion, kriya, digital content, hingga UMKM berbasis budaya lokal.
“Mahasiswa perlu melihat peluang, menemukan ide melalui pengalaman sehari-hari, lalu mengubahnya menjadi produk yang bernilai,” papar Lik di hadapan puluhan mahasiswa.
Lik juga menegaskan pentingnya storytelling, branding visual, dan penggunaan media sosial untuk mengenalkan karya ke pasar. “Produk yang baik bukan hanya soal desain. Kalian perlu mengkomunikasikannya agar diterima konsumen dan dipercaya pasar,” tandas Lik.***(FK)
