News

Melampaui Teks Keagamaan, SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi Bangun Karakter Inklusif Lewat Aksi Nyata

Oleh: Ilham Cahya Hardiansyah* 

Di tengah derasnya arus globalisasi dan derasnya pengaruh digital terhadap perilaku anak, SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi tampil sebagai contoh bagaimana pendidikan agama dapat menjadi dasar bagi pembentukan karakter yang inklusif, peduli, dan berakhlak.

Sekolah ini menanamkan nilai keislaman yang moderat melalui praktik keseharian — bukan sekadar lewat hafalan teks keagamaan.

Melampaui Teks, Menghidupkan Nilai

Ketua Umum Pimpinan Pusat Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan bahwa pendidikan Islam seharusnya melahirkan generasi yang beragama secara cerdas dan berperikemanusiaan.

“Pendidikan Islam Muhammadiyah tidak boleh berhenti pada teks, tetapi harus menumbuhkan kesadaran moral yang membentuk manusia berakhlak, terbuka, dan menghargai sesama,” ujarnya dalam Seminar Nasional Pendidikan Muhammadiyah 2024.

Semangat inilah yang dihidupkan oleh SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi. Kepala Sekolah Ekha Fitrya menjelaskan bahwa pihaknya ingin menanamkan nilai Islam yang rahmatan lil ‘alamin melalui pembelajaran yang aktif, empatik, dan kolaboratif.

“Kami ingin anak-anak memahami bahwa beragama itu bukan hanya soal ritual, tapi juga soal bagaimana mereka bersikap kepada sesama,” katanya. SD ASA Muhammadiyah menyelenggarakan program lain yang menjadi sorotan adalah galang dana sosial.

Dalam kegiatan ini, siswa diajak berbagi dengan warga sekitar, terutama yang membutuhkan. Mereka mengumpulkan donasi sukarela dan menyerahkannya secara langsung bersama guru pendamping.

Salah satu siswi mengaku senang bisa ikut serta. “Rasanya senang banget bisa bantu orang. Kami jadi tahu bahwa berbagi itu juga ibadah,” ujarnya sambil tersenyum.

Kegiatan seperti ini tak hanya mengasah empati, tetapi mengajarkan kepedulian sosial dalam bentuk nyata. “Anak-anak belajar dengan hati,” ujar Samiyah, guru agama sekaligus koordinator keIslaman. “Mereka tidak sekadar tahu arti kebaikan, tapi merasakannya langsung.”

Guru Jadi Kunci Keberhasilan

Keberhasilan pendidikan karakter di SD ASA Muhammadiyah tidak lepas dari peran para guru. Mereka bukan sekadar pengajar, melainkan teladan nilai dan perilaku.

Menurut Sari & Anwar (2023) dalam Jurnal Inovasi Pendidikan Islam, integrasi nilai karakter ke dalam semua mata pelajaran lebih efektif dibandingkan pembelajaran moral yang terpisah.

Nilai-nilai seperti tanggung jawab, kejujuran, dan empati akan lebih mudah tertanam ketika menjadi bagian dari proses belajar sehari-hari.

Hal ini diwujudkan di SD ASA Muhammadiyah melalui pembelajaran kolaboratif. Dalam pelajaran sains, misalnya, siswa bekerja dalam kelompok kecil untuk melakukan eksperimen.

Mereka tidak hanya belajar konsep ilmiah, tapi juga berlatih jujur saat mencatat hasil, bertanggung jawab terhadap tugas, dan belajar menghargai kerja sama.

Setelah kegiatan, guru mengajak siswa melakukan refleksi bersama: siapa yang jujur mencatat hasil, siapa yang membantu teman, dan apa yang bisa diperbaiki. Menurut Samiyah, pendekatan reflektif ini efektif untuk menanamkan nilai.

“Kami ingin anak-anak belajar karakter lewat pengalaman. Saat mereka jujur dalam eksperimen atau membantu teman, itulah pendidikan karakter yang sebenarnya,” jelasnya.

Dari Kolaborasi ke Keteladanan

Pendekatan kolaboratif juga diterapkan di pelajaran lain. Dalam bahasa Indonesia, siswa menulis cerita bertema kejujuran dan persahabatan.

Dalam olahraga, guru menekankan nilai sportivitas dan kerja sama. Bahkan dalam kegiatan seni, anak-anak diajak memahami keberagaman budaya Indonesia sebagai bagian dari penguatan identitas kebangsaan.

Untuk memperkuat kemampuan guru dalam menanamkan nilai, sekolah dengan Majelis Dikdasmen PDM Kota Bekasi harus saling bekerja sama guna mengadakan pelatihan Integrasi Nilai Islam dan Pembelajaran Aktif.

Kegiatan ini membantu guru mengaitkan materi pelajaran dengan nilai-nilai Islam seperti amanah, ta’awun, dan sidik secara kontekstual. “Anak-anak meniru apa yang mereka lihat. Kalau guru sabar dan jujur, siswa akan meneladaninya,” kata Kepala Sekolah Ekha Fitrya

Dampak Positif dan Data Nyata

Pendekatan pendidikan karakter yang diterapkan di SD ASA Muhammadiyah Bekasi terbukti membawa hasil yang signifikan. Berdasarkan evaluasi internal sekolah tahun 2025, sebagian besar siswa menunjukkan perkembangan positif, baik dari sisi sosial maupun emosional.

Guru-guru mencatat bahwa kemampuan kerja sama siswa meningkat tajam; hampir seluruh kelompok belajar kini dapat menyelesaikan tugas bersama dengan lebih kompak dan saling menghargai peran masing-masing.

Sikap empati juga tumbuh kuat — banyak siswa yang mulai terbiasa membantu teman yang mengalami kesulitan tanpa harus diminta. Yang paling menggembirakan, hasil refleksi siswa menunjukkan bahwa lebih dari sembilan dari sepuluh anak kini memahami pentingnya menghormati perbedaan.

Mereka belajar bahwa keberagaman bukan alasan untuk berjarak, melainkan kesempatan untuk saling mengenal dan belajar satu sama lain.

Sementara penelitian Nugraha & Yusuf (2022) dalam Jurnal Pendidikan Islam dan Sosial Muhammadiyah menunjukkan bahwa 87% sekolah dasar Muhammadiyah di Jabodetabek telah menerapkan kurikulum karakter berbasis Islam moderat, dan SD ASA menjadi salah satu contoh penerapan paling konsisten.

Guru menilai perubahan perilaku siswa kini tampak jelas anak-anak lebih berani meminta maaf, lebih mudah berbagi, dan lebih menghargai perbedaan pendapat. “Mereka mulai terbiasa menyelesaikan masalah dengan cara baik, bukan dengan marah,” ujar Samiyah.

Nilai Islam dalam Aksi Kemanusian

Konsep inklusivitas yang diterapkan SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi tidak berhenti pada teori atau kegiatan di dalam kelas. Sekolah ini menanamkan nilai rahmatan lil ‘alamin bahwa Islam adalah rahmat bagi seluruh umat manusia melalui aksi nyata di bidang kemanusiaan.

Salah satu kegiatan unggulannya adalah Program Galang Dana Kemanusiaan untuk Palestina, yang digelar rutin setiap tahun. Program ini melibatkan seluruh warga sekolah dari siswa, guru, hingga orang tua dalam kegiatan pengumpulan donasi, doa bersama, dan edukasi tentang solidaritas kemanusiaan global.

Kegiatan ini tidak hanya mengajarkan anak-anak tentang kepedulian terhadap sesama umat Islam di dunia, tetapi menumbuhkan kesadaran bahwa kemanusiaan melampaui batas negara dan suku. Siswa diajak memahami bahwa menolong sesama adalah wujud nyata dari nilai ukhuwah insaniyah persaudaraan sesama manusia.

Menurut penelitian Rohimah (2024) dari Universitas Muhammadiyah Jakarta, keterlibatan siswa dalam kegiatan sosial lintas isu seperti kemanusiaan Palestina dapat meningkatkan moral engagement atau keterikatan moral siswa hingga 40 persen.

Anak-anak menjadi lebih peka terhadap penderitaan orang lain dan lebih siap berpartisipasi dalam kegiatan sosial yang bermanfaat.

Sekretaris Umum PP Muhammadiyah Abdul Mu’ti menilai bahwa kegiatan kemanusiaan seperti ini sejalan dengan misi besar Muhammadiyah dalam membangun peradaban yang berkeadilan.

“Inklusivitas bukan sekadar toleransi. Ia adalah kemampuan melihat kemanusiaan sebagai inti pendidikan Islam. Ketika anak-anak diajak peduli terhadap sesama, di situlah nilai agama menemukan makna terdalamnya,” ujarnya.

Tantangan dan Harapan

Meski menunjukkan hasil positif, tantangan tetap ada. Salah satunya adalah menjaga kesinambungan program di tengah rotasi guru dan perubahan kebijakan kurikulum nasional. Untuk itu, sekolah terus memperkuat sistem pendampingan guru baru dan melakukan evaluasi karakter setiap semester.

Kepala sekolah berharap model pendidikan karakter inklusif ini bisa menjadi inspirasi bagi sekolah lain, baik di lingkungan Muhammadiyah maupun lembaga pendidikan umum. “Kami ingin menunjukkan bahwa pendidikan agama bisa menjadi ruang yang damai dan terbuka bagi semua,” tutur Lestari.

Dengan semangat melampaui teks keagamaan, SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi membuktikan bahwa pendidikan Islam bukan hanya soal hafalan ayat, tetapi tentang bagaimana nilai itu hidup dan membentuk perilaku.

Melalui Kelas Empati, Galang Dana Sosial, dan pembelajaran kolaboratif, sekolah ini berhasil menjadikan agama sebagai kekuatan moral yang menumbuhkan kepedulian dan kemanusiaan. “Ketika agama menjadi inspirasi kemanusiaan,” ujar Haedar Nashir, “di situlah pendidikan menemukan maknanya.”

*Guru SD ASA Muhammadiyah Kota Bekasi dan mahasiswa S2 Universitas Muhammadiyah Malang

Exit mobile version