UMBandung
Opini

Menakar Potensi Kandidat Pilkada Jawa Barat: Siapa Yang Layak?

×

Menakar Potensi Kandidat Pilkada Jawa Barat: Siapa Yang Layak?

Sebarkan artikel ini

Oleh: Ace Somantri*

BANDUNGMU.COM — Beberapa bulan setelah pemilihan Presiden dan Wakil Presiden, hiruk-pikuk pemilihan kepemimpinan beralih menuju kontestasi pemilukada di seluruh daerah di Indonesia. Setiap calon dan pasangan menebar pesona, terpampang di reklame, baliho, dan spanduk-spanduk yang terlihat di berbagai sudut kota hingga ke desa-desa. Wajah-wajah kandidat yang mempromosikan diri mereka dengan berbagai gaya foto berharap mendapatkan dukungan warga.

Jawa Barat, sebagai provinsi terpadat di Indonesia, dengan jumlah penduduk mendekati 45 juta jiwa, memiliki lebih dari 35 juta pemilih yang berhak memberikan suara dalam pemilu. Artinya, untuk mempromosikan dan meraih suara dalam Pilkada Jawa Barat, dibutuhkan anggaran politik yang sangat tinggi.

Dengan wilayah yang sangat luas dan populasi penduduk yang padat, diperlukan energi ekstra luar biasa. Konsekuensinya, biaya tinggi untuk memenangkan Pilkada Jawa Barat harus benar-benar dihitung dengan matang dan dilengkapi strategi yang jitu. Menarik untuk dianalisis, kepentingan politik nasional untuk keberlanjutan program pemerintah pusat dan kekuasaan harus didukung oleh provinsi terdepan sebagai etalase pemerintah pusat.

Penting bagi pemerintah pusat di bawah kepemimpinan Prabowo-Gibran untuk memastikan kesuksesan Pilkada di provinsi dan kota/kabupaten terdekat dengan pusat pemerintahan. Hal ini bertujuan untuk memperkuat dan menyelaraskan program-program pemerintah saat keputusan kebijakan diambil.

Penopang pusat

Perebutan kursi pilkada tidak jauh berbeda dengan perebutan kursi pilpres, terutama di DKI Jakarta dan Jawa Barat sebagai penopang pemerintah pusat yang akan terasa vibrasi kepentingannya. Wajar jika saat ini, tokoh politik yang diusung di daerah strategis dipersiapkan dengan cermat, memilih tokoh-tokoh yang memiliki reputasi, popularitas ketokohan tingkat nasional, serta akseptabilitas tinggi di masyarakat.

Di DKI Jakarta, beberapa partai politik sudah mendeklarasikan kandidatnya. PKS, misalnya, telah resmi mencalonkan mantan Gubernur DKI dan mantan Capres RI, Anies Baswedan. PKB Provinsi DKI Jakarta pun turut mencalonkan tokoh yang sama. Lebih menarik lagi, penantang calon Gubernur ARB terlihat dalam radar media sebagai sosok tokoh Jawa Barat yang menjadi saingan berat, yaitu Ridwan Kamil, yang kabarnya sedang menuju Jakarta.

Baca Juga:  Golkar Unggul di Jabar, Pakar Politik Unpad: Ace Hasan Berperan Sentral

Sementara itu, di Jawa Barat muncul tokoh-tokoh daerah yang memiliki reputasi nasional. Salah satunya adalah Dedi Mulyadi, seorang tokoh daerah yang sangat kental dengan karakteristik kesundaannya. Ia selalu tampil “nyunda” dengan ikat “barangbang semplak” yang tidak pernah lepas dari kepalanya. Bahkan, kata-kata dan kalimat yang dilontarkannya selalu khas dengan bahasa Sunda yang lekat.

Kita tunggu dan lihat, konstelasi politik Pilkada Jakarta dan Jawa Barat menjadi perhatian khusus bagi elite-elite politisi dan tokoh nasional. Hal ini menjadi kepentingan taktis dan strategis dalam politik kebangsaan, baik untuk jangka pendek maupun jangka panjang, terkait periodisasi kepemimpinan nasional yang akan datang.

Jawa Barat selalu menjadi sorotan, terutama sejak kereta cepat mulai beroperasi. Sering kali, para pejabat negara, termasuk para menteri, hilir mudik antara Jakarta dan Bandung karena jarak tempuhnya hanya membutuhkan 45 menit perjalanan. Destinasi Bandung dan sekitarnya benar-benar perlu ditata ulang, terutama lalu lintas transportasi dari stasiun kereta cepat menuju berbagai titik tujuan para wisatawan domestik maupun mancanegara.

Bandung, ibu kota provinsi Jawa Barat, memiliki banyak cerita para petualang dan pialang. Keindahan dan keunikannya terkenal hingga ke seluruh pelosok negeri dan mancanegara. Kota ini dikenal dengan keramahan orang Sunda dan kesejukan cuacanya, terutama saat sore hingga malam hari.

Tempat-tempat wisata alam seperti Lembang, Ciwidey, Kertasari, dan Pangalengan menawarkan pemandangan hijau yang mempesona sehingga mampu menghilangkan rasa lelah dan penat, menjadikannya tempat yang sejuk dan nyaman. Bahkan, konon ada seorang penulis berkebangsaan Arab yang membuat sebuah karya berjudul “Bandung Surganya Dunia”.

Baca Juga:  Mencari Pemimpin yang Peduli Rakyat

Aman dan bermartabat

Kembali kepada situasi persiapan kontestasi Pilkada Jawa Barat, harapannya pemilu kepala daerah serentak dapat berlangsung dengan aman dan bermartabat. Siapa pun tokoh yang siap berbakti dan berkhidmat untuk Jawa Barat, harus memiliki sifat dan karakter penyayang terhadap alam sebagai simbol orang tua yang selalu menjaga “nyaah ka indung bapa, tur mampu ngajaga lembur” (cinta kepada orang tua dan mampu menjaga kampung halaman).

Sebagai warga masyarakat dan rakyat Jawa Barat, isu perimordialisme kesukuan bukanlah sesuatu yang dilarang atau diharamkan. Sebaliknya, sikap “hubbul wathan” lokal atau kebijaksanaan lokal yang berorientasi pada pembangunan daerah yang bebas dari bala dan bahaya yang merusak alam semesta, sangat dihargai.

Meskipun ada calon pemimpin terbaik di antara yang baik, yang bersedia berkhidmat dan mampu meningkatkan mutu warga Jawa Barat dengan cepat dan bermartabat, kesempatan tetap terbuka bagi siapapun, termasuk yang bukan etnis Jawa Barat atau suku Sunda. Selama mereka berjuang untuk kepentingan dan kemaslahatan umat dan masyarakat, warga Jawa Barat mempersilakan mereka menjadi kontestan pemilukada di Jawa Barat tahun ini.

Sudah terlihat ada sosok yang bukan asli Jawa Barat, tetapi memiliki rekam jejak yang sangat baik untuk memajukan warga Jawa Barat. Sosok tersebut adalah Ilham Habibie, seorang ilmuwan teknokrat berkelas internasional yang merupakan putra dari panutan bangsa BJ Habibie. BJ Habibie dikenal sebagai ilmuwan dunia yang melegenda dengan karya monumentalnya dalam merancang dan membuat pesawat terbang yang membanggakan. Seperti ayahnya, Ilham Habibie juga tidak kalah hebat; ia adalah perancang pesawat yang saat ini sedang diproduksi dan sangat dihormati di dunia.

Jika Ilham Habibie mampu mewujudkan Jawa Barat sebagai provinsi termaju dan terdepan dalam waktu singkat melalui inovasi teknologi, saat diberikan kesempatan memimpin Jawa Barat, ia wajib didukung dan dikawal hingga visi tersebut terwujud.

Baca Juga:  Reformulasi Visi Kepemimpinan PWM Jawa Barat

Tokoh perubahan

Termasuk tokoh-tokoh politisi Jawa Barat lainnya ikut serta “mengukur air” di mata publik untuk melihat sejauh mana popularitas yang mereka miliki di kantong-kantong pemilih. Banyak tokoh yang merepresentasikan partainya. Misalnya Kang Haru Suandaru dari PKS Jawa Barat, Kang Ono Surono dari PDIP Jawa Barat, Brigjen (Purn) Taufik dari Partai Gerindra Jawa Barat, Kang Saeful Huda dari PKB Jawa Barat, dan Desi Ratnasari dari PAN Jawa Barat. Mereka menghiasi media massa dan media sosial.

Namun, menurut konstitusi yang berlaku saat ini, pencalonan kepemimpinan nasional dan daerah untuk merebut kursi kekuasaan eksekutif harus didukung oleh partai politik. Artinya, sehebat apa pun ketokohannya, jika tidak mendapatkan rekomendasi resmi dari partai politik dan tidak memenuhi angka batas minimum, mereka tidak dapat maju dalam kontestasi pemilihan kepemimpinan di daerah.

Perhelatan Pilkada Jawa Barat sangat dinanti, terutama sosok yang resmi diusung oleh partai penguasa periode ini. Tokoh tersebut akan menjadi kunci konstelasi politik Jawa Barat dan berpengaruh terhadap situasi kontestasi politik di Pilkada DKI Jakarta. Warga Jawa Barat saat ini menunggu pemimpin perubahan, bukan pemimpin pencitraan. Masyarakat sudah lelah dengan janji manis, muak dengan slogan dan jargon, serta sangat antipati terhadap ketidakadilan dalam kebijakan yang dibuat.

Warga Jawa Barat menanti pemimpin yang adil dan mampu mensejahterakan warganya, bukan pemimpin yang hanya menikmati kekuasaan. Semoga dalam Pilkada kali ini, para kontestan di Jawa Barat dapat dijauhkan dari sifat ananiyah politik sehingga visi dan misi pemerintahan Provinsi Jawa Barat dapat terwujud lebih cepat dan melampaui target. Amin. Wallahu’alam.

*Dosen UM Bandung dan Wakil Ketua PWM Jabar

PMB UM Bandung