BANDUNGMU.COM, Bandung — Pameran seni mahasiswa kembali menjadi ruang ekspresi kreatif di tengah kesibukan akademik. Kali ini, mahasiswa Himpunan Gama Seni Fakultas Seni Rupa dan Desain Institut Seni Budaya Indonesia (ISBI) Bandung menggelar pameran tahunan bertajuk Galura Budaya. Melalui pameran ini, mahasiswa menyalurkan gagasan, keresahan, sekaligus refleksi budaya dalam bentuk karya visual.
Awal Mula Galura Budaya
Pameran seni mahasiswa Galura Budaya telah memasuki tahun kedua pelaksanaannya. Ketua Himpunan Gama Seni, Suryana, menjelaskan bahwa kegiatan ini awalnya berfungsi sebagai sarana pencarian dana organisasi. Namun, seiring berjalannya waktu, panitia melihat potensi besar pameran ini sebagai ajang kompetisi dan pengembangan karya seni berkelanjutan.
Oleh karena itu, Gama Seni memutuskan untuk mengemas Galura Budaya secara lebih serius, baik dari segi kurasi karya maupun konsep pameran.
Pameran Seni Mahasiswa dan Tafsir Budaya
Pada tahun ini, pameran seni mahasiswa tersebut mengangkat tema kebudayaan dengan pendekatan yang lebih personal. Jika sebelumnya peserta menyoroti miskonsepsi budaya antara kota dan desa, kini mereka mengeksplorasi persepsi individu terhadap budaya.
Menurut Suryana, setiap mahasiswa memaknai budaya secara berbeda. Sebagian dekat dengan tradisi, sementara yang lain memandang budaya melalui musik modern, gaya hidup urban, hingga seni populer. Karena itu, panitia membuka ruang seluas-luasnya bagi beragam tafsir budaya dalam bentuk karya visual.
Salah satu karya yang menarik perhatian mengangkat isu genderless. Karya tersebut menantang anggapan bahwa penari harus selalu tampil feminin. Melalui visual yang kuat, seniman menegaskan bahwa ekspresi seni tidak seharusnya dibatasi oleh gender.
Kolaborasi dan Proses Kurasi
Selain fokus pada karya, panitia juga memperkuat proses kurasi. Mereka mengevaluasi pelaksanaan pameran tahun sebelumnya untuk meningkatkan kualitas acara. Selanjutnya, panitia melibatkan alumni berpengalaman sebagai juri agar mahasiswa mendapat masukan yang lebih objektif.
Tak hanya itu, Gama Seni juga menggandeng Program Studi Antropologi. Kolaborasi ini memperkaya sudut pandang peserta dalam memahami budaya. Mahasiswa antropologi memberikan konteks sosial, sementara mahasiswa seni rupa menerjemahkannya ke dalam bahasa visual.
Meski begitu, tantangan tetap muncul. Suryana mengakui bahwa eksplorasi karya masih terbatas. Ia berharap ke depan mahasiswa lebih berani menghadirkan karya eksperimental, seperti visual tiga dimensi atau instalasi.
Seni yang Lebih Terbuka untuk Publik
Lebih jauh, pameran seni mahasiswa ini tidak hanya berorientasi pada kompetisi internal. Galura Budaya juga bertujuan mendekatkan seni rupa kepada masyarakat luas. Menurut Suryana, seni rupa kerap dianggap eksklusif dan mahal, padahal seni seharusnya bisa diakses siapa saja.
Karena itu, panitia berencana membuka pameran secara lebih inklusif. Bahkan, pihak fakultas mendukung wacana penggabungan Galura Budaya dengan agenda besar kampus seperti Festival Fakultas Seni (FAVES).
Menumbuhkan Keberanian Berkarya
Bagi Suryana, Galura Budaya menjadi ruang belajar yang penting bagi mahasiswa. Melalui pameran ini, mahasiswa belajar berani menampilkan karya dan menerima kritik. Ia menilai kritik justru menandakan bahwa karya tersebut mendapat perhatian.
Ke depan, ia berharap pameran seni mahasiswa Galura Budaya mampu merangkul lebih banyak medium. Instalasi, karya interaktif, hingga performance art menjadi target pengembangan selanjutnya. Menurutnya, seni akan terus hidup selama diberi ruang untuk tumbuh. ***(IK22/Furqon)
