Edukasi

Ruang Kelas Beratap Seng, Semangat Tak Pernah Padam di SMP Narmada Lombok Timur

sumber: Freepik

BANDUNGMU.COM, Bandung — Hujan deras yang mengguyur Desa Narmada Lombok Timur pada Selasa siang membuat suara gemericik di atap seng ruang kelas SMPN 8 Narmada terdengar nyaring. Meski demikian, aktivitas belajar mengajar tetap berlangsung. Puluhan siswa tetap fokus di dalam ruangan meski harus merapat mengelilingi meja guru agar suara penjelasan pelajaran IPA dapat terdengar jelas.

Kondisi Kelas yang Tidak Memadai

“Kalau hujan, suara guru suka nggak kedengaran,” ujar Adit, siswa kelas 8. Ia mengatakan, kondisi seperti ini sudah biasa mereka alami terutama saat musim penghujan.

Sekolah yang berada di wilayah perbukitan Lombok Timur ini memang memiliki fasilitas yang jauh dari memadai. Sebagian ruang kelas masih berdinding papan, dengan atap seng yang kerap bocor. Meja dan kursi belajar pun sebagian besar merupakan sumbangan warga. Saat hujan deras, beberapa titik ruang kelas harus dibiarkan kosong karena genangan air.

Belajar di Tengah Kekurangan

“Kami terbiasa belajar sambil pindah-pindah kalau ada bocor,” kata Lina, guru IPA yang sudah mengajar selama 11 tahun. Menurutnya, proses belajar tidak boleh berhenti meski kondisi fisik sekolah tidak ideal. “Kalau terlalu berisik atau hujan deras, kami pindah belajar ke halaman luar.”

Minimnya sarana tidak menyurutkan semangat guru dan siswa. Lina kerap membawa alat peraga sederhana dari rumah agar siswanya tetap mendapat pengalaman belajar yang layak. “Anak-anak harus tetap merasakan praktik, bukan hanya mendengar teori,” ujarnya.

Prestasi di Tengah Keterbatasan

Meski fasilitas terbatas, SMPN 8 Narmada tetap mampu mencatatkan prestasi. Setiap tahun, beberapa siswa berhasil diterima di SMA favorit di kota. Kepala sekolah, Hasyim, mengatakan keberhasilan itu lahir dari kerja sama antara guru, siswa, dan orang tua.

“Kami tidak punya banyak fasilitas, tetapi kami punya kemauan,” kata Hasyim. Ia menuturkan, pihak sekolah sudah beberapa kali mengajukan proposal perbaikan bangunan kepada pemerintah, namun hingga kini belum mendapat tindak lanjut yang signifikan. “Kami hanya berharap anak-anak bisa belajar di lingkungan yang lebih layak.”

Kondisi SMPN 8 Narmada menjadi gambaran tantangan pendidikan di daerah 3T yang masih membutuhkan perhatian serius. Di tengah terbatasnya sarana, semangat para guru dan siswa menjadi pengingat bahwa pendidikan tetap berjalan karena tekad mereka yang tidak pernah padam.***(IK22/Miftahul)

Exit mobile version