Sejarah Kampung Kauman: Tempat para Penegak Agama

oleh -
Masjid Gedhe Kauman. Foto: Jogjabike.id.

BANDUNGMU.COM – Sering, ada hubungan kuat antara prestasi seseorang dengan lingkungannya. Memang, pengaruh lingkungan sangat besar dalam tumbuh-kembang seseorang. Maka, terkait ini, sangat penting bagi kita untuk mengetahui kondisi lingkungan tempat Ahmad Dahlan tinggal yaitu di Kampung Kauman, Yogyakarta.

Kauman Masa Tradisional

Di buku berjudul “Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah”, Ahmad Adaby Darban menulis: “Sebelum abad ke-20 masyarakat Kauman mengamalkan agama Islam secara tradisional, yaitu menjalankan kehidupan beragama berdasarkan sumber dari kitab-kitab karangan para ulama. Di samping itu mereka mengamalkan upacara-upacara ritual ajaran para ulama tradisional seperti haul, berjanjen, shalawatan, tahlilan dan sebagainya. ”

Selain mengamalkan beberapa ritual yang disebut di atas, lanjut Ahmad Adaby Darban, “Terdapat pula kebiasaan masyarakat Kauman menjalankan agama secara sinkretis. Yaitu mencampuradukkan upacara ibadah Islam dengan kepercayaan di luar ajaran Islam. Pengamalan ajaran agama secara sinkretis itu tampak pada upacara-upacara seperti nyadranan, selamatan siklus kehidupan, membakar kemenyan, mempercayai jimat, meminta-minta kepada makam leluhur, dan sebagainya.” (2017: 4)

Di Kauman Yogyakarta ada masjid. Masjid Gedhe namanya. Di buku Ahmad Adaby Darban tadi, Sjafri Sairin memberi kata pengantar. Di situ, beliau mengatakan, “Kauman adalah bagian integral dari kekuasaan tradisional Jawa. Penguasa Jawa yang menjadikan agama Islam sebagai agama Negara, membangun sebuah masjid di sebelah barat Alun-Alun yang terhampar di depan Keraton. ”

Meski begitu, sampai Ahmad Dahlan memulai dakwahnya, kondisi keagamaan warga Kauman tetap. Mereka, kata Sjafri Sairin, “Telah cukup bahagia dengan tradisi keagamaan lama yang dipeluknya. ”

Sempat Ditolak

Di Kauman, Yogyakarta, pada 1912, Ahmad Dahlan—ulama cerdas dan punya visi jauh ke depan—mendirikan gerakan dakwah bernama Muhammadiyah. Beliau bersama Muhammadiyah punya agenda mulia. Pertama, melakukan gerakan di bidang sosial-keagamaan. Kedua, menggerakkan pembaharuan pendidikan Islam. Ketiga, menggerakkan usaha pemurnian ajaran Islam dengan kembali kepada al-Quran dan Sunnah Rasulullah SAW.

Tentu bisa kita pahami, jika pada awalnya ada gejolak penolakan di tengah masyarakat terhadap dakwah Ahmad Dahlan dengan semangat pembaharuannya. Tapi, lewat pendekatan yang baik, akhirnya dakwah Ahmad Dahlan dapat diterima warga Kauman.

Kata Sjafri Sairin, ketika Ahmad Dahlan mulai memperkenalkan paham keagamaan baru ke tengah masyarakat, saat itu mereka telah cukup bahagia dengan tradisi keagamaan lama yang dipeluknya. Gejolak yang timbul dan tantangan yang dihadapi KH Ahmad Dahlan cukup berat.

Akan tetapi, dengan strategi yang tepat, secara perlahan paham yang dibawanya itu dapat diterima masyarakat kauman, bahkan akhirnya menyebar ke berbagai pelosok Indonesia (Kata Pengantar di buku “Sejarah Kauman: Menguak Identitas Kampung Muhammadiyah”, 2017: xii-xii).

Makna Kauman

Masih tentang Kampung Kauman Yogyakarta tempat Ahmad Dahlan tinggal, Ahmad Adaby Darban menulis di Ensiklopedi Muhammadiyah (2015: 161). Bahwa, Kauman adalah sebuah komunitas santri. Dari sisi nama, Kauman berasal dari kata “pa-kaum-an”. Di sebutan itu, “pa” bermakna tempat. Sementara, “kaum” dari kata qaimuddin yang punya makna penegak agama Islam. Jadi, Kauman adalah tempat para penegak agama atau ulama.

Semua bermula dari keberadaan Masjid Gedhe yang didirikan di sisi barat Alun-alun Utara Keraton Yogyakarta. Atas hal itu, maka sangat diperlukan unsur masyarakat yang dapat memelihara, mengelola, dan memakmurkan rumah Allah tersebut.

Lalu, Sultan Hamengkubuwon I—yang dikenal sangat aktif beribadah—menempatkan para ulama pilihan dari berbagai daerah untuk tinggal di sekitar Masjid Gedhe. Mereka menjadi pemakmur dan pengelola masjid sekaligus dijadikan abdi dalem dalam urusan keagamaan.

Di masa awal, pimpinan para ulama itu adalah Kiai Penghulu Fakih Ibrahim Dipaningrat (penghulu pertama Keraton Ngayogyakarta Hadiningrat). Semua ulama yang ada difungsikan dalam organisasi kemasjidan dengan pembagian tugas yang tertata rapi.

Para ulama dan penghulu yang ditempatkan di sekitar Masjid Gedhe itu kemudian membentuk komunitas santri dengan perkawinan “Indogami Kampung”. Dalam perkembangannya, terjadilah komunitas kampung santri dengan ikatan keagamaan dan kekerabatan. Dengan demikian solidaritas komunitas ini sangat kuat. Tradisi kesantrian-dengan masjid sebagai pusatnya-memberikan warna tersendiri dalam kehidupan masyarakat seperti dalam hal pendidikan dan pergaulan sehari-hari.

Posisi dan Suasana

Luas Kampung Kauman sekitar 192.000 M2. Letaknya di barat Masjid Gedhe. Kampung dihuni oleh para ulama, penghulu keraton, dan 9 ketib (khatib). Mereka masing-masing menghuni sebidang tanah yang di atasnya dibangun rumah dan langgar (tempat shalat dan mengaji).

Beberapa bangunan di Kampung Kauman dahulu menjadi tempat beraktivitas KH Ahmad Dahlan. Langgar Kidul KH Ahmad Dahlan, misalnya. Langgar atau surau ini dulu kerap digunakan beribadah keluarga KH Ahmad Dahlan dan terletak dekat dengan rumah pendiri Muhammadiyah tersebut.

Selain itu, ada pula Mushalla ‘Aisyiyah yang didirikan juga oleh KH Ahmad Dahlan. Mushalla ini khusus perempuan dan menempati bangunan rumah yang sebelum tahun 1922 digunakan sebagai pusat kegiatan siswa praja perempuan (https://jogja.idntimes.com/travel/destination/nindias-khalika/sejarah-kampung-kauman-tempat-lahirnya-muhammadiyah).

Kauman dan Pergerakan

Kampung Kauman punya andil dalam menghadapi penjajah. Di zaman Jepang, ulama Kauman berani menentang seikere (upacara penghormatan kepada matahari dalam tradisi Jepang). Sebagai hasilnya, sekolah-sekolah Muhammadiyah dan warga Kampung Kauman tidak diwajibkan seikere.

Dalam perkembangannya, Kauman dikenal sebagai gudang muballigh/muballighah. Anak-anak mudanya dikenal alim, suka mengaji, dan memiliki aktivitas yang menonjol seperti-misalnya-di sepakbola dan beladiri.

Untuk yang disebut terakhir, Kauman memiliki perguruan beladiri bernama Tapak Suci. Di samping sebagai media pembangun jiwa dan raga bagi generasi muda, pada masanya Tapak Suci juga dipersiapkan sebagai bagian dari pertahanan saat menghadapi Partai Komunis Indonesia. Pada perkembangannya, Tapak Suci secara resmi lalu menjadi bagian dari Muhammadiyah dan disebut Tapak Suci Putra Muhammadiyah.

Pelataran Masjid Gedhe Kauman sering menjadi saksi sejarah. Dulu, didirikan Markas Ulama Asykar Perang Sabil (MUAPS) yang pusatnya di Gedung Pejagan pelataran Masjid Gedhe. Dulu, putra-putra Kauman menjadi motor di pasukan Hizbullah Sabilillah. Pasukan-pasukan itu ikut perang gerilya membantu TNI sampai ke Semarang, Ambarawa, Kedu, dan Kebumen.

Dalam Peristiwa Kotabaru, pelataran Masjid Gedhe juga digunakan dalam menyusun kekuatan untuk penyerbuan. Apa itu Peristiwa Kotabaru?

Peristiwa Kotabaru atau disebut juga Serbuan Kotabaru adalah gerakan bersenjata pada 7 Oktober 1945. Ini adalah gerakan bersenjata kali pertama yang dilakukan rakyat Indonesia setelah proklamasi kemerdekaan 17 Agustus 1945. Tujuannya, merebut senjata dari tangan Jepang yang masih bertahan di Yogyakarta.

Ibarat pembuka jalan, Serbuan Kotabaru mempelopori munculnya gerakan bersenjata di daerah lain untuk mengusir penjajah dari Indonesia. Berikutnya, bahkan berkembang menjadi perjuangan diplomatik untuk menegakkan dan membela NKRI (https://jogja.antaranews.com/berita/361222/serbuan-kota-baru-sejarah-yang-nyaris-terlupakan). Di Serbuan Kotabaru ini, putra-putra Kauman ikut aktif dan ada yang menjadi korban.

Pelataran Masjid Gedhe Kauman juga pernah dipakai untuk menyusun kekuatan dalam rangka penumpasan pemberontakan PKI pada 18 September 1948 yang berpusat di Madiun. Juga, tempat ini pernah digunakan untuk berdemonstrasi menuntut pembubaran PKI tahun 1965. Atas tuntutan Generasi Muda Islam (Gemuis) Yogyakarta ini, maka PKI di Yogyakarta dibekukan untuk kali pertama di seluruh Indonesia.

Sangat sering, pelataran Masjid Gedhe Kauman dimanfaatkan sebagai ajang perjuangan umat. Lihatlah, Angkatan 1966 yang terdiri dari Kesatuan Aksi Mahasiswa Indonesia (KAMI), Kesatuan Aksi Pemuda dan Pelajar Indonesia (KAPPI), Kesatuan Aksi Sarjana Indonesia (KASI), dan Kesatuan Aksi Wanita Indonesia (KAWI), bila mereka berdemonstrasi akan berangkat dari pelataran Masjid Gedhe.

Pada gerakan reformasi 1998, salah satu tempat demonstrasi-menuntut Presiden Soeharto turun-adalah di pelataran Masjid Gedhe Kauman Yogyakarta. Saat itu, warga Kauman ikut berpartisipasi, baik dengan tenaga maupun lewat bantuan logistik.

Kauman dan Pendidikan

Pada awalnya, gerakan pendidikan di Kampung Kauman Yogyakarta dilakukan melalui pondok pesantren sehingga banyak menghasilkan ulama. Kampung Kauman lalu dikenal luas oleh masyarakat sebagai tempat persemaian ulama.

Dalam perkembangannya, generasi pelanjut di Kauman lebih banyak yang belajar ilmu pengetahuan umum dan menghasilkan para sarjana sampai tingkat guru besar dalam berbagai bidang keilmuan. Untuk yang disebut terakhir, Siti Baroroh bisa disebut sebagai salah sebuah contoh.

Bagi masyarakat luas, sekarang, berkunjung ke Kampung Kauman Yogyakarta bisa menjadi salah satu tujuan wisata ruhani yang menarik sekaligus bermanfaat. Di sana, kita bisa belajar sebagian dari sejarah penting perkembangan Islam di Indonesia. Datanglah ke Kampung Kauman untuk menyaksikan jejak-jejak dakwah KH Ahmad Dahlan dan Muhammadiyah.

Penulis: M. Anwar Djaelani, Sumber: PWMU.co.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *